1/18/09

Ketika Pembunuhan Ditingkahi Logika Berhitung

BAGAIMANA jadinya jika urusan pembunuhan disangkutpautkan dengan teorema yang ada di balik ilmu pasti seperti matematika? Rumit, bisa jadi. Namun dalam satu film arahan sutradara berkebangsaan Spanyol Alex de la Iglesia bertajuk "The Oxford Murders", pengungkapan kasus pembunuhan menjadi metode penemuan jati diri, bahkan pencapaian. 

Berlatar tembok angkuh kampus Oxford pada 1993, seorang mahasiswa Amerika, Martin (Elijah Wood), pindah ke Oxford untuk melanjutkan kuliah. Martin yang tertarik dengan seluk beluk filsafat, memilih rumah keluarga Eagleton untuk ditinggali selama kuliah. Dalam rumah tersebut, tinggal janda Eagleton (Anna Massey) dan anak semata wayang mereka, Beth (Julie Cox). 

Tak sembarang memilih rumah untuk ditinggali, Martin sebenarnya menyimpan maksud tertentu. Yakni untuk lebih mendekatkan diri terhadap obsesinya, dosen senior Oxford, Arthur Seldom (John Hurt). Keluarga Eagleton sendiri, berteman baik dengan keluarga Seldom.

Martin yang amat tertarik dengan pemikiran Seldom, terus mencari cara agar bisa bertatap muka. Lebih lanjut, ia menginginkan Seldom untuk menjadi pembimbing thesis. Salah satu pemikiran Seldom yang mengusik Martin adalah, kematian dunia filosofi. Alasannya klasik, tak ada yang sepasti matematika. 

Suatu hari, mereka berdua terjebak dalam satu kasus pembunuhan. Mrs Eagleton ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Petunjuk pertama yang ditinggalkan sederhana, sebuah anagram lingkaran. 

Pembunuhan kedua menyangkut nyawa rekan sejawat Seldom, Prof. Kalman (Alex Cox) yang kehilangan anggota tubuh akibat kanker ganas. Namun, sang pembunuh salah sasaran. Yang terbunuh adalah teman sekamar Kalman. Petunjuk kali ini, kurva lengkung bersinggungan. Dibantu teman dekat Martin yang merupakan seorang perawat, Lorna (Leonor Watling), mereka berupaya menemukan makna pembunuhan tersebut.

Sepintas, film dengan nuansa seperti ini pernah didapat dalam "Conspiracy Theory" (Richard Donner, 1997) dan "The Da Vinci Code" (Ron Howard, 2006). Tema cerita yang dikemas dalam sebuah "versus story" menarik. Menjelajah kemungkinan filosifis versus matematis. Wittgensteinian versus logika serial-matematis. Dan persinggungan tersebut, dimunculkan untuk menguak pembunuhan yang dianggap terpola. 

Film ini memakan waktu syuting sekitar 3 bulan, sejak 22 Januari-24 Maret 2007, mengambil lokasi di Universitas Oxford, Inggris, Museum Victoria dan Albert di London, dan Pengadilan Cast Courts. 

Seperti "The Da Vinci Code", film ini diadaptasi dari sebuah novel. Novel berjudul sama yang ditulis oleh pria berkebangsaan Argentina, Guillermo Martinez. "The Oxford Murders" sendiri merupakan film produksi bersama tiga negara, Inggris, Perancis dan Spanyol. Sebelumnya kencang berhembus kabar, bahwa Iglesia memasang Elijah Wood melalui pertimbangan panjang yang dilakukan oleh pihak Tornasol Films yang memproduksi film ini. Sebelum memutuskan memasang Wood, Alex sempat melirik Gael Garcia Bernal, aktor terkenal Spanyol untuk peran utama. 

Sayangnya pilihan Iglesia memasang Wood dinilai tak terlalu tepat. Sorot mata Wood yang tajam tak diimbangi oleh gerak tubuh karakter yang seharusnya diperankan. Kecerdasan Martin tampaknya tak terlalu bisa dipancarkan secara paripurna oleh Wood. Biasanya, aktor yang berhasil melakoni peran semacam ini adalah Matt Damon dan Leonardo Di Caprio.Untungnya, Wood yang sebelumnya sukses berperan sebagai Hobbit di trilogi "The Lord of The Ring" bisa memancarkan hasrat ingin tahu besar, sehingga tak terlampau mengecewakan. 

Kegemilangan akting justru ditunjukkan oleh aktor gaek John Hurt. Walaupun peran Hurt tak terlalu menonjol dalam "V For Vendetta", "Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull", "Hell Boy", atau bahkan "Harry Potter and the Sorcerer's Stone". 

Alur yang sebagian besar twisted, membuat penonton dibuat bertanya-tanya hampir sepanjang film. Menarik untuk ditelusuri. Namun plot yang terkadang lambat ditambah dengan rumitnya persamaan matematika, membuat kening harus berkerut. Tapi tak apa. Toh hiburan pun juga bisa didapat dengan mendapatkan buncah konspirasi yang didapat dari dialog Seldom-Martin.

Semangat mencari tahu yang tak kenal lelah dan pemikiran cerdas, tentu menjadi bumbu cerita. Ditambah lagi, romantika kisah percintaan segitiga antara Martin-Beth-Lorna cukup menentukan arah cerita. Bagaimana "The Oxford Murders" mengakhiri kisahnya? Misteri apa yang hendak menyeruak di balik kisah pembunuhan tersebut? Film ini diputar secara reguler mulai 7 Januari 2008. ***

No comments: