1/19/09

When Jazz Romance Meet The Oldies

DAYA pikat film "Pintu Terlarang" rupanya tak hanya sampai pada level cerita yang kuat, penokohan yang tuntas, dan sinematografi yang apik. Jalan yang diretas penata musik "Pintu Terlarang" Aghi Narottama terbilang mulus. Bersama Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro, ia menghasilkan musik yang soulfull bagi "Pintu Terlarang". 

Tak percaya? Pejamkan mata anda sejenak saat menyaksikan "Pintu Terlarang". Theatre of mind anda bisa-bisa terhanyut dalam nuansa 50-an. Hal tersebut beralasan, karena konsep musik yang bertaburan dalam "Pintu Terlarang" memang sengaja dibuat seperti itu. Musik yang light-hearted berirama jazz dikawinkan dengan oldies. Untuk itu, Aghi mencari referensi dari Howard Shore, Lex Baxter, dan beberapa musisi Jazz tahun 50-an.

"Dalam dua kata, saya menyebutnya 50's American," ujar Aghi, Minggu (18/1). Dalam "Pintu Terlarang", ada 9 musik score dan 9 lagu yang menghiasi sepanjang film. Konsepnya terbilang unik, "mocking", yaitu nuansa kontradiktif. Absurditas karakter Gambir yang sedang dijajah oleh isi twisted kepala, akan disandingkan dengan lagu berirama ringan. Semua harmonis bertabrakan.

"Tapi pas kita tonton hasil gambarnya, ternyata kesan dark nya lebih terasa dari yang direncanakan. Akhirnya kita rombak musiknya. Untuk lagu, kita tetap pakai mocking. Tapi untuk scoring, kita mengikuti alur. Kalau suasana tegang, kita pakai musik tegang, supaya penonton bisa terhanyut," ucap Aghi yang merupakan lulusan Art Institute of Seattle jurusan Audio Production (Sound engineering) ini. 

Untuk penggarapan lagu, Aghi menggandeng Zeke Khaseli dan band barunya Mantra, grup musik SORE, Notturno, dan Tika and The Dissidents. 

Mantra yang di antaranya terdiri dari Zeke "Zeke And The Popo" Khaseli, Emil "Naif", dan Anda "Bunga" ini, membawakan 4 lagu untuk "Pintu Terlarang". Masing-masing berjudul "Why", "Please, Operator, Please", "Blessed The Tainted Hearts", dan "Baby, Baby". 

"Intinya semua love songs, tapi liriknya disesuaikan sama bahasa-bahasa tahun 50an. Waktu itu kan bahasanya puitis-puitis bersih, innocent. Misalnya, kata Please diulang dua kali. Musiknya early Beattles lah," ucap Zeke, Senin (19/1).

Lagu "Why" bercerita tentang seorang laki-laki yang bermimpi. Dalam mimpi itu, ia seakan disambut oleh suasana karnaval yang indah. Bahkan, ia sudah cukup bahagia walau hanya bermimpi. Sedangkan "Blessed The Tainted Hearts", bercerita tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mendapat banyak rintangan. "Walaupun susah, tapi mereka tau apa yang mereka mau. Dan mereka akhirnya sama-sama ngejalanin itu," kata Zeke. 

"Baby, Baby" yang diciptakan oleh Emil "Naif", sebenarnya diciptakan untuk anak Emil. "Feelingnya Emil waktu itu, dia lagi ada di panggung, dan di tonton anaknya. Dia juga enggak kebayang kalau nanti anaknya gede bakal kayak gimana ya rasanya," ucap Zeke berseloroh.

Sedangkan pilihan lagu terunik jatuh pada "Please, Operator, Please". "Konsep lagunya memang weird, kayak twilight zone gitu," ujarnya. Layaknya film yang dibintangi oleh Jim Carrey, "The Truman Show", lagu ini bercerita tentang seseorang yang tidak menyadari kalau dirinya berada dalam setting. "Kalo jaman dulu kan mau nelfon harus disambung lewat operator, nah dari situlah lagu ini tercipta, saat orang itu mau nelfon pacarnya," ungkap Zeke. 

Selain Zeke dan Mantra, musisi lain yang kebagian peran signifikan adalah grup band SORE. Grup yang sudah menelurkan 2 album ("Centralismo" dan "Ports of Lima") ini menciptakan 3 lagu untuk "Pintu Terlarang". Lagu tersebut adalah "Nancy Bird", "Merry Mist", dan "Lullaby Blues". 

"Awalnya kita bikin 2 versi, nuansa yang kental sama tahun 20-an dan 60-an," kata vokalis sekaligus gitaris SORE, Ade Firza Paloh. Untuk kiblat pengerjaan ketiga lagu ini, mereka paling banyak terinspirasi dari musik Englebert Humperdinck dan Al Gouly. Di antara ketiganya, mereka paling terbuai dengan nuansa yang dihadirkan harmoni "Merry Mist". 

"Merry Mist memang gila banget. Nuansanya hangat, kekeluargaan, dan romantis. Itu menantang karena kita harus bikin lagu yang berdurasi 10 menit tapi enggak diulang-ulang. Akhirnya kita gabung sama saxophone yang panjang dan string section," ucap gitaris yang lain, Reza Dwiputranto. Dan lagu yang ter-influence dari Bing Crosby dan Nat King Cole ini memang ampuh mendampingi adegan klimaks dalam "Pintu Terlarang". 

"Nancy Bird" bercerita tentang keputusasaan seseorang yang hanya bisa melihat penderitaan dari jauh. "Waktu itu yang ada di kepala gue waktu nyiptain ini adalah suasana sub-urban, inspirasinya dari Al Gouly," ucap Ade, yang juga berperan sebagai salah satu karakter dalam "Pintu Terlarang" ini. Sedangkan "Lullaby Blues", bercerita tentang seseorang yang memutuskan untuk meninggalkan apa yang dimiliki, demi bersama dengan seseorang. 
After all, komposisi yang ada dalam musik "Pintu Terlarang" menjadikan film ini elegan dan stylish. Satu paket apik yang urung terbantahkan. (Endah Asih)***

No comments: