1/18/09

Can Slumdog Became a Millionaire? Why Not?

KEMENANGAN film Bollywood "Slumdog Millionaire" di ajang Golden Globe 2009 menyisakan catatan menarik. Film yang bersetting tentang kehidupan di Mumbai, India ini, mampu mengalahkan prediksi kuat kemenangan "Revolutionary Road" dan "The Curious Case of Benjamin Button". Bagaimana bisa?

Dibesut oleh sutradara berkebangsaan Inggris yang populer lewat "Trainspotting" dan "The Beach", Danny Boyle, film ini memang terbilang istimewa. Cerita dan setting yang membumi, menampilkan wajah polos perkampungan kumuh di India. 

Film adaptasi novel ini berkisah tentang seorang anak berusia 18 tahun, Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas "Who Wants To Be Millionaire" versi India. Jamal yang dibesarkan di jalan, terbilang beruntung. Ia bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, untuk mendapat hadiah utama, 20 juta rupee. 

Kisah satire ini berlanjut ketika Jamal kemudian ditangkap polisi karena dicurigai bertindak curang. Ia disiksa sambil dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Namun, siapa sangka kalau pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, justru membuka luka lama di benak Jamal.

Sepintas, gaya indie yang terlihat mempengaruhi film ini mengingatkan pada film sejenis "Juno" dan "Little Miss Sunshine" yang sudah lebih dulu disambut baik oleh pasar. Penonton diajak tertawa dengan kepolosan adegan dan gaya tutur. Sederhana, segar, dan menghibur.

Lewat "Slumdog Millionaire", Boyle seakan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arti kemapanan dari sudut pandang anak terlantar. Lewat twist kisah hidup Jamal, penonton seolah diajak untuk berempati. Film yang juga dibintangi oleh Shah Rukh Khan ini, juga menyentuh sisi humanis, ketika baik disadari atau tidak, sikap sinis sudah sedemikian erat bergelayut di kalangan mapan, dengan menepikan masyarakat kelas bawah.

Simak saja dialog ketika sang pembawa acara kuis menyepelekan kemampuan Jamal saat kuis berganti iklan. Atau saat ia melontarkan sindiran, "Get along with 100 dollar bills of your life?" ketika pertanyaan sampai pada topik mengenai tokoh yang ada dalam uang 100 dollar AS. Ya, cerita polos seperti bagaimana Jamal kecil bisa mendapatkan tanda tangan sang idola, Amitabh Bachchan, juga merupakan satire yang teramat menggelitik.

Kalaupun ada satu keanehan yang mengganggu sepanjang film, barangkali adalah ketika Jamal sampai pada pertanyaan terakhir, detik-detik menentukan apakah ia akan menjadi milyuner, atau kembali ke jalan. Jamal yang buta huruf latin, tiba-tiba bisa membaca sederetan pertanyaan. Namun terlepas dari itu, "Slumdog Millionaire" tetap segar dan menyenangkan.

Dan memang, nuansa segar dan menyenangkan tersebut belum bisa ditandingi oleh besutan sutradara David Fincher, "The Curious Case of Benjamin Button". Walaupun sebenarnya, "The Curious Case of Benjamin Button" ini memiliki lebih dari harapan penonton terhadap sebuah film berkualitas. 

Plot yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini, bercerita tentang seorang bayi yang dilahirkan dengan wajah renta. Namun seiring berjalannya waktu, ia berangsur-angsur menjadi muda. Benjamin (Brad Pitt), anak tersebut, mengalami kebalikan pertumbuhan orang normal. 

Naskah film ini sendiri, dikerjakan oleh Eric Youth, yang pernah menggarap "Forrest Gump". Sedangkan deretan pemain sudah terkesan "sangat aman". Sebut saja nama seperti Brad Pitt, Cate Blanchett, hingga Tilda Swinton yang menjadi jaminan.

Menggunakan teknik animasi motion capture canggih Contour System (CS), Fincher mampu menyulap metamorfosis wajah Pitt. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil wajah Pitt dari segala sudut pandang dan ekspresi, mengolahnya sesuai kebutuhan adegan, dan menempelkan wajah hasil kreasi tersebut di tubuh Pitt. Hasilnya luar biasa, akting Pitt tetap bisa dinikmati walau ia berwajah remaja, atau renta sekalipun. 

Keindahan film ini memang mengangkat memori terhadap film sejenis "Forrest Gump", elegan dan menarik. Sayangnya, hal tersebut masih belum mampu menandingi gaya "indie" yang diusung Boyle dalam "Slumdog Millionaire". Terlebih, ending film yang mudah ditebak dalam "The Curious Case of Benjamin Button", kurang memicu rasa penasaran penonton. 

Sedangkan "Revolutionary Road" yang kembali mempertemukan pasangan emas "Titanic", Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet sebagai kekasih, tampaknya harus kalah pamor. Padahal, film ini sekaligus menjadi pencapaian akting Di Caprio-Winslet yang nyaris sempurna. 

Film dengan setting yang setia terhadap novel karya Richard Yates ini, bercerita tentang konflik ketidakcocokan dan ketidakpuasan dalam rumah tangga. Cinta dan toleransi, toh masih bisa terkalahkan ketika idealisme mengatakan lain. Ego dan ambisi April (Kate Winslet) dan Frank Wheeler (Leonardo Dicaprio), menciptakan pertengkaran demi pertengkaran yang menjadi pukulan telak kehidupan rumah tangga. 

Nafas drama yang kental mewarnai film berdurasi 119 menit ini, juga mengisahkan cerita yang membumi. Namun, tak terlalu banyak kejutan yang mampu ditawarkan. Pamor pertautan emosi Di Caprio dan Winslet yang mengagumkan, tetap sulit diimbangi oleh kepolosan wajah Dev Patel yang berperan sebagai Jamal dalam "Slumdog Millionaire". 

Dan ya, kualitas prima sebuah film memang bisa diharapkan dari film mapan seperti “The Curious Case of Benjamin Button” dan “Revolutionary Road”. Namun, apapun bisa terjadi. Lewat kemenangan “Slumdog Millionaire” dalam ajang pemanasan Oscar ini, elegansi dan kemapanan kualiatas rupanya belum menjadi jaminan. Justru film berbudget rendah dan plot polos nan membumi, bisa mencuat ke permukaan. Gejala apakah ini? ***

No comments: