BELUM juga ditayangkan secara reguler pada Kamis (22/1), drama thriller "Pintu Terlarang" sudah banyak mendapat banyak apresiasi positif. Dari pemutaran midnight pada Sabtu (17/1) lalu, nyaris seluruh tiket yang dijual di 7 bioskop di Jakarta dan Bandung ludes terjual.
Pada pemutaran midnight di Jakarta, "Pintu Terlarang" diputar di dua jaringan 21 Cineplex, dan tiga auditorium Blitz Megaplex. Sedangkan di Bandung, film garapan Joko Anwar ini diputar di Blitz Megaplex Parijs Van Java dan Cihampelas Walk XXI.
"Di 5 bioskop semua sold out, kalau yang lain hanya deretan depan yang tersisa," ucap produser "Pintu Terlarang" Sheila Timothy, Senin (19/1).
Dan tentu, ambang kesuksesan "Pintu Terlarang" berada di tangan sang sutradara, Joko Anwar. "Yess, hampir semua sold out, im so exciting, jadi optimis banget setelah tahu jumlah penonton pada pemutaran midnight," kata Joko.
Produksi film berdurasi 115 menit ini memakan biaya sekitar Rp 6 Miliar. "Hmm, tapi budget segitu masih tergolong kecil untuk film seperti ini," ujar penyuka film misteri thriller sejak kecil ini.
Proses syuting sendiri, dilakukan di Jakarta dan Bogor selama 30 hari sejak 27 Juli 2008. Sedangkan tahap pra-produksi dimulai sejak Maret 2008. "Saya sudah menonton film ini beratus-ratus kali, mulai dari hasil editing yang masih kasar sampai jadi, dan semakin mendekati hasil akhirnya, saya makin optimis, ya kita do the best aja," kata Sheila. Film ini merupakan produksi perdana LifeLike Pictures.
Diberi Kebebasan
Ide skenario film memang bisa berasal dari mana saja. Terutama video game, komik, dan novel. Semakin karya awal diapresiasi oleh kalangan penikmat kebudayaan massa, maka semakin beratlah beban yang harus dipikul oleh filmaker.
"Tapi percaya atau enggak, waktu gue nulis skenario film ini tuh ngalir banget. Setelah selesai baca novelnya, gue diemin buku itu 3 bulan. Habis itu, baru gue mulai penulisan skenarionya dari awal, supaya enggak terpengaruh banget," kata Joko.
Pilihan Joko untuk mengadaptasi "Pintu Terlarang" dari novel karya Sekar Ayu Asmara terbilang tepat. Hal itu disebabkan karena ia mendapatkan kebebasan mutlak dalam proses adaptasi.
"Pas ketemu sama mbak Sekar, dia bilang ini skenario boleh diacak-acak semau gue, terserah mau diapain aja. Dan sejak awal gue memang enggak mau menjadikan film ini tumplek sama kayak novelnya. Film adaptasi itu harus punya nilai tambah karena harus ada added value nya," kata pria yang pertama kali menulis sekaligus menyutradarai "Janji Joni" ini.
Penulis novel “Pintu Terlarang” Sekar Ayu Asmara, ketika dihubungi Senin (19/1) mengaku puas dengan adaptasi yang dilakukan Joko. “Adaptasi yang bagus. Joko bisa melihat novel saya sebagai satu kesatuan yang utuh,” kata Sekar.
Joko Anwar dan Sekar Ayu Asmara pertama kali dipertemukan pada penggarapan “Biola Tak Berdawai”. “Saat itu dia (Joko, red) yang jadi asisten sutradara saya. Saya memang khusus meminta dia untuk membuat film Pintu Terlarang, karena jujur saja saya tidak bisa. Satu-satunya orang yang bisa kayaknya cuma dia,” kata Sekar, menjelaskan tentang hal ihwal proses adaptasi.
Terhadap penggarapan film “Pintu Terlarang”, Sekar mengaku memberikan keleluasaan kepada Joko dan kru. Sampai-sampai, ia menolak untuk membaca ketika disodori naskah skenario garapan Joko.
“Saya enggak mau waktu Lala (panggilan untuk Sheila, red) minta saya untuk baca skenario. Kalau saya baca dan mengedit, apa bedanya dengan novel saya jadinya. Makanya saya memilih untuk tidak ikut campur,” kata Sekar.
Tak Pasang Target
Namun, Joko memang belum menemukan kesulitan berarti pada tahap adaptasi. Kesulitan sebenarnya baru ditemui saat ia harus menawarkan konsep matangnya kepada beberapa produser.
"Yang jadi masalah banget, produsernya ga ada yang berani bikin ketika selesai baca. Mereka bilang terlalu sadis. Padahal gue udah mencoba untuk ngeyakinin mereka, kalau gue enggak akan bikin film ini jadi kotor kayak Saw dan semacamnya. I'll make this become an ellegance film, yang indah," kenang Joko.
Untungnya, kesulitan tersebut sirna ketika ia bertemu dengan Sheila Timothy. "Lala open minded banget, dia percaya banget sama gue, gue bisa ngapain aja, makanya hasilnya bisa maksimal," ucap Joko.
Tak hanya berpotensi untuk mendongkrak penjualan tiket dalam skala nasional, "Pintu Terlarang" sudah melakukan jauh daripada itu. Film ketiga yang disutradarai sekaligus ditulis skenarionya oleh Joko Anwar ini, terpilih untuk mengikuti International Film Festival Rotterdam ke-38, yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Januari-1 Februari 2009.

No comments:
Post a Comment