KETIGA perempuan itu punya kisah berbeda. Perempuan pertama, 27 tahun, terduduk lemas di kursi belakang taksi, simbol kemapanan kaum urban. Dia mencari ibu yang membuangnya di waktu kecil. Perempuan kedua, 40 tahun, berdiri lemas menahan rasa sakit teramat sangat. Sakit itu bersumber dari rahimnya, janin yang dikandung. Sang janin divonis terkena Anchepalus. Perempuan ketiga, lebih eksplisit. Dia lemas karena sosok yang dipujanya tak juga memberi perhatian balasan.
Perempuan pertama adalah Maharani (Marcella Zalianty). Perempuan kedua adalah Dewi (Ayu Laksmi). Dan perempuan ketiga adalah Nian Priyatna (Bella Saphira). Oleh sutradara Garin Nugroho, kisah ketiganya diuntai dalam bentuk fiksi berdurasi 107 menit, "Under The Tree".
Sebelum diputar reguler untuk publik, Kamis (8/1), gaung yang terdengar dari film ke-10 Garin tersebut sudah kencang berhembus. Sejak pertengahan 2008, "Under The Tree" sudah melakukan roadshow internasional, dari festival ke festival.
Pada Tokyo Film Festival 2008, "Under The Tree" berhasil masuk kategori International Competition Selection. Lalu film ini ikut serta dalam beberapa festival film internasional lain seperti Toronto International Film Festival 2008, Vancouver International Film Festival 2008, London International Film Festival 2008, Jakarta International Film Festival 2008, dan berikutnya akan tampil dalam International International Film Festival 2009. Sementara pada FFI 2008, "Under The Tree" membawa pulang 2 trofi, dari 9 nominasi yang disabet.
Sederet pengalaman festival tersebut, tentu bukan tanpa alasan. Kekayaan budaya pulau Dewata dieksplor dengan cara tak biasa. Di tangan Garin, Bali tak hanya ditampilkan dalam bungkus pariwisata benderang, melainkan eksotisme yang menampilkan daya magis tak terhingga.
Tak tanggung-tanggung, Garin memvisualisasikan adegan Calonarang, dramatari ritual magis yang bercerita tentang kematian. Di Bali, prosesi tradisional ini masih tergolong "angker". I Made Bandem dan Frederik Eugene deBoer dalam "Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition" (1981), sempat menjuluki Calonarang sebagai "magic dance of the street and graveyard".
Tokoh utama prosesi tari Calonarang, adalah seorang balian, atau setidaknya orang yang paham dunia supranatural. Untuk melakoni adegan yang diambil di Pura Puseh Tegalsuci-Gianyar tersebut, Garin menggandeng grup Sandhi Muti pimpinan I Gusti Ngurah Hartha. Tokoh utama tari tersebut, adalah dramawan dan penulis skenario, Ikranegra.
Namun, sukses di kancah festival dan diperkuat deretan pemain mumpuni bukan berarti menjadi jaminan sukses di mata penonton lokal. Nyatanya, dari hasil penjualan tiket di dua bioskop di Jakarta pada hari pertama pemutaran, "Under The Tree" hanya membukukan angka penonton yang bisa dikatakan tak spesial. "Di dua bioskop di Jakarta, baru ada 318 penonton, masing-masing 144 penonton dan 174 penonton," kata Rani Yunanda, perwakilan SET Films, rumah produksi dimana "Under The Tree" bernaung.
Di Bandung sendiri, film yang baru diputar di Blitz Megaplex Parijs Van Java (PVJ), meraih angka penonton yang kurang menggembirakan. Sebagai contoh, pada hari kedua pemutaran, Jumat (9/1), hanya ada 3 tiket yang terjual di jam pemutaran pertama. Di Blitz Megaplex PVJ, "Under The Tree" diputar dalam 4 kali penayangan.
Dan memang, menyaksikan karya milik Garin, berarti memilih untuk bermain dalam dunia simbolis. Simbolis dalam bertutur, pun visualisasi adegan, ketika realisme sosial bercampur mitos. Namun secara sederhana, lewat "Under The Tree", Garin mencoba untuk mempersoalkan krisis lingkungan, yang bersumber dari krisis sosial.
Krisis sosial sendiri, bersumber dari individu. Lebih jauhnya lagi, janin dan persemaian. Maharani yang malah mendapat lebih banyak pertanyaan ketika mencari jawaban. Dewi yang harus memilih di antara melakukan aborsi atau melahirkan, ketika mengetahui anaknya kelak akan lahir tanpa otak dan tulang tengkorak. Atau Nian yang mendambakan sosok paternal yang kemudian menjadi terobsesi.
Mereka bertemu dengan tiga lelaki aneh lain. Mayun (Dwi Sasono) yang juga memendam kebencian pada ibunya, Darma (Ikranegara) yang kehilangan masa lalunya sebagai orang Bali, dan Kaler (I Ketut Rina) yang hebat di panggung, namun sulit untuk mengungkapkan perasaannya di kehidupan nyata.
Alur yang lambat, simbolisasi budaya yang dapat dimaknai secara luas, mitos magis dan tak lupa alam Bali, memang menyuguhkan tontonan kualitas ala festival. Namun, bisakah film ini diinternalisasikan dalam benak penonton secara lugas? Belum tentu. ***
1/18/09
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment