BUKAN hal baru jika dalam perfilman lokal, karya dokumenter kerap berada dalam ranah pinggiran. Lewat "Pertaruhan" yang dibidik dari perspektif perempuan, seni dokumenter seolah diberikan tempat istimewa.
Produser Nia Dinata menyebutnya "counter culture". Sebuah budaya yang mampu menandingi keakuatan film naratif. "Pertaruhan" dianggap bisa menggambarkan stereotype yang ditempelkan dalam label perempuan, sekaligus mempertanyakan zona kenyamanan setiap orang.
"Lewat film ini, saya mencoba untuk menggambarkan kekuatan film dokumenter, yang katanya tidak punya nilai punya komersil. Di antara sekian banyak film naratif, mengapa tidak coba untuk memunculkan dokumenter yang memiliki narasi kuat?" ucap Nia, di sela-sela press screening film "Pertaruhan" di Blitz Megaplex Parijs Van Java Bandung, Minggu (14/12).
Usaha Nia memang tidak sia-sia. Karena nyatanya, selain diputar pada pembukaan Jiffest 2008 lalu, "Pertaruhan" menyimpan potensi gemilang. Pada Senin (15/12), Nia mendapatkan kabar bahwa film yang diproduksinya tersebut, memeriahkan salah satu ajang bergengsi di kawasan Eropa. Berlinale 2009, Festival Film International Berlin ke-59, yang akan digelar di Berlin, Jerman, mulai tanggal 5 Februari 2009.
Kuncinya Kepercayaan
Diakui oleh seluruh sutradara antologi "Pertaruhan", tidak ada rekayasa naskah dalam bentuk fiksi. Semua berjalan seperti narasi kecil yang ditemukan, untuk kemudian disusun menjadi sebuah kepingan besar.
"Pembuatan dokumenter gampang-gampang susah. Karena semua harus berdasar kenyataan, bagian tersulit adalah mendekati narasumber dan membuat mereka nyaman dengan kehadiran kami dan kamera kami. Kuncinya kepercayaan," ucap Ani Ema Susanti, penggarap "Mengusahakan Cinta".
Senada dengan Ani, Ucu Agustin yang menggarap "Regat'e Anak" juga mengalami kesulitan dalam mendekati narasumber. Ucu mengaku, hanya dengan memanusiakan subyek, ia bisa bereksplorasi dengan narasumber. "Tapi itu tidak mudah. Ketika awal syuting di Bolo, saya saja sempat ditawar lima belas ribu. Dikiranya saya anyaran," ucap Ucu diiringi gelak tawa.
Kesulitan tentunya juga menyergap Iwan Setiawan, M. Ichsan, dan Lucky Kuswandi ketika harus memandang dari perspektif perempuan. "Topiknya under the service," ucap Lucky yang membahasakan "Nona Nyonya" lewat diskriminasi pemeriksaan reproduksi ini, sambil tersenyum.
Kelima sutradara muda itu tentu punya alasan kuat memproduksi karya dokumenter. Meminjam istilah Nia, barangkali ungkapan "sarana penyentil untuk breaking the ice" mumpuni juga melukiskan "Pertaruhan". Akankah "Pertaruhan" benar-benar bisa membuka jalan bagi agar orang tidak memicingkan mata bagi film dokumenter?***

No comments:
Post a Comment