12/18/08

Ada 3 Doa, Tapi Satu Cinta

KETIGA pria itu duduk dengan santai. Sebatang rokok putih tampak berpindah tangan dengan cepat. Setelah menghisap dalam-dalam, mereka berbincang dengan seru, sesekali diiringi adegan mengintip lewat celah dinding. 

Sepintas, potret tersebut tampak jauh dari citra yang diharapkan dari para santri. Namun dalam film "3 Doa 3 Cinta" debut sutradara Nurman Hakim, citra baku kalangan santri justru tampak rigid. 

Tiga tokoh sentral itu adalah Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama), dan Syahid (Yoga Bagus) yang menimba ilmu di pesantren Al Hikmah milik Kyai Wahab (Brohisman). Pesantren yang dikisahkan terletak di Bantul, Jogjakarta, itu masih tergolong tradisional. Tidur beralaskan tikar, bantal yang diganti dengan tumpukan buku, tidak ada musik, dan jauh dari perkembangan teknologi.

Namun mereka tetaplah tiga pria biasa. Ereksi di sebagian pagi, mengantuk bahkan tertidur ketika sholat, gugup ketika bertemu pujaan hati, dan punya mimpi. 

Huda yang naif, berambisi untuk bertemu sang ibu yang meninggalkannya saat berumur 11 tahun di depan pesantren. Rian yang berasal dari keluarga kaya, berambisi untuk menjadi sineas, minimal tukang video pernikahan. Sedangkan Syahid, ingin ditakdirkan seperti namanya: mati syahid.

Dibatasi oleh koridor penokohan masing-masing, mereka mulai menemukan pertanda dengan cara berbeda. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo), penyanyi dangdut keliling yang terobsesi menjadi artis ibu kota. Lewat kerlingan matanya, Dona berhasil menarik perhatian Huda. Selanjutnya, Huda meminta bantuan Dona yang matrealistis untuk mencari alamat ibunya di Jakarta.

Sementara Rian, bertemu dengan kelompok pemutar film di layar tancap. Lalu Syahid, mendapati kenyataan bahwa ayahnya sakit keras. Karena terhimpit kemiskinan, ia terpaksa menjual sawah milik keluarga dengan sangat murah. Merasa frustasi, ia memilih hengkang saja, lewat jihad.

Dibingkai dengan narasi beralur lambat, penonton diajak untuk menjelajahi sisi lain para santri, pun orang-orang yang kesehariannya dekat dengan keagamaan. Sayangnya, detail yang ditampilkan dalam porsi yang terlalu banyak, membuat jalan cerita berjalan membosankan di beberapa bagian. 

Tokoh sentral yang berjumlah 3 orang, juga terkadang membuat adegan berjalan tak beraturan. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan. Sehingga terkesan, film ini mencoba untuk meluruskan berbagai anggapan miring seputar agama Islam. 

Sutradara Nurman Hakim menyebutnya tontonan alternatif. "Tidak seperti film Holywood yang punya satu tokoh sentral dengan tujuan yang tercapai atau tidak di akhir cerita, film ini punya struktur cerita yang berbeda," ucap Nurman ketika ditemui usai press screening film "3 Doa 3 Cinta" di Blitz Megaplex Parijs Van Java Bandung, Jumat (12/12).

Dan memang, unsur drama bernafaskan religi yang ada dalam "3 Doa 3 Cinta", lumayan membius lewat banyolan ringan. Simak saja adegan dimana Syahid merekam dirinya menyampaikan pesan terakhir, sebelum pergi berjihad. Ada juga Rian yang berceloteh, "Sholat enggak perlu kayak gitu, emangnya di Arab?" saat Syahid hendak sholat dengan mengenakan sorban. Atau adegan Huda dan Dona sedang melakukan syuting.

Bicara tentang peran, ajang pertemuan Nicholas dan Dian kali ini memang terasa istimewa. Mengisi kekosongan yang ditinggalkan sejak "Ada Apa Dengan Cinta?", duet Nico-Dian mampu bersinar. Dian yang berperan sebagai penyanyi dangdut, memang berperan sangat "dangdut". Dengan tubuh sekal yang meliuk-liuk dengan rok minim dan cengkok khas, Dian mampu bertransformasi sebagai Dona Satelit. Begitu pula dengan Nico. Dimulai dari berpakaian, berwudhu, hingga menabuh rebana dilakoni Nico dengan natural.

Ide cerita seputar insiden salah kaprah pemaknaan agama barangkali bukan kali ini saja dieksplor oleh film lokal. Sebelumnya "Long Road To Heaven" karya Nia Dinata sempat diluncurkan ke pasaran. Namun pengalaman Nurman hidup di sebuah pesantren di Demak selama 3 tahun, membuatnya "gatal" untuk meluruskan anggapan yang berkembang tentang pondok pesantren.

"Tidak semua santri itu radikal. Justru saya ingin menggambarkan adanya cinta dan ketenangan," ucap Nurman. Berhasilkah Nurman memindahkan realitas yang ditemuinya menjadi sepotong fiksi menggigit "3 Doa 3 Cinta"? Kita tunggu saja. “3 Doa 3 Cinta” hadir serentak pada 18 Desember 2008. (Endah Asih/"PR")

No comments: