12/18/08

Antologi Otonomi Tubuh Perempuan

WACANA anatomi tubuh perempuan barangkali bisa dipermainkan dalam ambiguitas benak setiap orang. Namun di tangan 5 sutradara muda, wacana tersebut diolah menjadi antologi film pendek dokumenter berjudul "Pertaruhan (At Stake)". Dan memang, yang dipertaruhkan adalah tubuh. Tubuh banyak perempuan dalam empat penggal cerita.

Riset merupakan modal awal. Setiap membuka cerita, hasil riset berupa potongan data faktual menjadi suguhan menarik. Tentang kenyataan yang terkadang pahit. Bahkan membuat terhenyak. Tak jarang membuat bahu tak lagi nyaman bersandar.

Cerita pertama mengambil setting tempat di Hongkong. Tempat dimana kebebasan bisa direngkuh. Begitu pula untuk Riantini (30), atau Ryan, janda beranak satu yang memilih untuk menjadi TKW. Ryan adalah korban kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian memilih menjadi lesbian. "Daripada jadi budak lelaki, mending jadi budak di luar negeri bisa dapet uang," ucapnya dalam satu adegan.

Selain itu ada Ruwati Rahayu (43), yang bimbang karena stereotype keperawanan di mata calon suaminya, Yanto, duda beranak satu. Ruwati yang masih berstatus gadis, harus melakukan operasi karena masalah rahim. Namun karena ia belum pernah melahirkan, operasi harus dilakukan melalui vagina. Tentunya, hal tersebut melahirkan keraguan di benak Yanto.

Dua cerita itu melahirkan "Mengusahakan Cinta", karya Ani Ema Susanti. Dari cerita tersebut, Ani mencoba mempertanyakan tentang otonomi tubuh perempuan. Mulai adegan "berpacaran" antara Ryan dan pacarnya yang juga merupakan migran asal Indonesia yang cukup personal, hingga adegan sentimentil Ruwati ketika bertemu Yanto di tanah air. Penonton bisa tersenyum sejenak.

Hingga dua sutradara Iwan Setiawan dan Muhammad Ichsan yang berkolaborasi menghasilkan cerita kedua, "Untuk Apa?". Tanda tanya di belakang judul bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, kedua lelaki ini mencoba untuk memberi keleluasaan bagi perempuan untuk memilih.

Cerita ini tentang praktik sunat pada perempuan, ditinjau dari berbagai aspek. Mulai aspek agama, budaya, isu gender, hingga medis ditampilkan untuk memperkaya khasanah. Yang barangkali masih belum disosialisasikan dengan gencar, adalah sunat pada perempuan sudah dilarang oleh Departemen Kesehatan. Namun, tak sedikit orang yang mempertahankan sunat masal demi alasan budaya.

Indramayu dan Banten menjadi dua lokasi yang dipilih untuk meneguhkan budaya sunat pada perempuan. Sedangkan dari segi agama, dipilih momen saat Nong Darul Mahmada, aktivis perempuan yang juga menerima Yap Thiam Hien Award Musdah Mulia, bertanya pada Gus Dur tentang sunat perempuan.

"Dalam Islam tak ada itu. Sunat perempuan hanya tradisi di Indonesia," kata Gus Dur dalam film itu. Penonton lalu dibuat miris, ketika secuil adegan sunat dipraktikkan. Melalui sebilah silet, adegan ditutup dengan klimaks.

Cerita ketiga mengambil setting lebih kekinian. Mengambil judul "Nona Nyonya", Lucky Kuswandi menggarap isu tentang diskriminasi dalam layanan kesehatan reproduksi. Entah sadar atau tidak, diskriminasi tersebut muncul di awal pemeriksaan, dengan petugas medis yang bertanya, "anda nona atau nyonya?".

Pada pemeriksaan papsmear misalnya. Diskriminasi terjadi kepada perempuan yang aktif secara seksual, namun tidak menikah. Dalam cerita ini, Lucky dengan cerdik menggunakan kamera tersembunyi untuk kemudian mendapatkan kenyataan mencengangkan. Dua dokter yang terbukti melecehkan secara moril, hingga dokter yang memberikan ceramah keagamaan sambil mengutip beberapa bagian dari kitab suci.

Sebagai perbandingan, ditampilkan sosok Kelly (17) asal Bogor yang mencoba mencari tahu tentang kesehatan reproduksi. Namun, Kelly tidak memiliki akses cukup untuk mencari informasi.

Cerita terakhir, mengangkat seputar kemanusiaan dan hubungan sosial. "Regat'e Anak" karya Ucu Agustin, barangkali menjadi penutup yang sempurna. Menghentak, sekaligus menyentuh.
Cerita tentang Nur Hidayah (34), ibu lima anak asal Tulung Agung, Jawa Timur, dan temannya, Mira. Sehari-hari, mereka bekerja sebagai buruh penghancur batu. Namun ketika malam menjelang, mereka menjelma menjadi pekerja seks komersil di pemakaman China Gunung Bolo.
Jangan bayangkan wajah cantik dan tubuh gemulai. Kedua perempuan itu toh bekerja untuk menyambung hidup. Dari bekerja sebagai PSK, mereka menerima imbalan Rp 10.000,00 setiap kali transaksi. Sedangkan dengan menjadi pemecah batu, pendapatan kotor hanya Rp 400.000,00.

Membius dalam keheningan, antologi "Pertaruhan" ini nyatanya bisa menelisik hingga kedalaman yang mampu mengaduk emosi penonton. Mengiris ketidakpedulian dan mempertanyakan kemapanan. Juga menekankan tentang hak dan otonomi atas tubuh perempuan. Sebagaimana tubuh perempuan yang dijadikan pertaruhan. (Endah Asih/"PR")***

==
Genre: Dokumenter
Sutradara: Ani Ema Susanti, Iwan Setiawan, M. Ichsan, Lucky Kuswandi, Ucu Agustin
Produser: Nia Dinata
Durasi: 106 menit

No comments: