Tak lepas dari campur tangan 7 sutradara lokal, "Takut (Faces of Fear)" terdiri dari 6 cerita independen. Dengan nihilisme penampakan hantu lokal yang "tradisional", film berdurasi sekitar 90 menit ini lumayan sukses "menghibur". Menghibur dalam arti, memuaskan dahaga penonton akan suguhan film horor lokal yang berbeda. Tidak menjenuhkan, pun menggelikan.
Melalui ilustrasi mulus yang ditingkahi oleh sajian gending jawa kontemporer, "Takut (Faces of Fear)" mulai mempersilahkan penonton untuk memasuki gerbang satu per satu babak.
Dan begitulah, segmen pertama berjudul "Show Unit (Rumah Contoh) dimulai dengan setting perumahan minimalis modern, dengan nuansa kelam. Bukan sembarang kelam, dominasi warna redup yang ditampilkan sutradara Rako Prijanto, layaknya hasil fotografi olah digital.
Terkadang ditemani dengan gambar yang dihasilkan dengan pergerakan kamera handheld, segmen ini bercerita mengenai Dinna (Marcella Zalianty), janda beranak satu, dan kekasihnya, Bayu (Lukman Sardi). Tanpa sengaja, Bayu membunuh Shira, anak Dinna. Karena dalam posisi terancam, Bayu juga membunuh Andre, mantan suami Dinna. Namun Bayu tak menyangka, kalau ada seseorang yang memperhatikan dan mengetahui kejadian itu.
Dari sini, suasana mencekam mulai terbangun. Sayang, segmen ini tidak memperlihatkan simpul cerita yang utuh. Hubungan antara Bayu dan sosok misterius, tidak terjalin dengan kuat. Rapuh.
Modernitas menjadi penghubung. Namun dalam segmen kedua, "Titisan Naya", sutradara Riri Riza mencoba menampilkan sakralitas budaya Jawa yang kental. Lewat segmen ini, Riri seakan ingin menampilkan satire, terhadap kaum muda yang terkadang melecehkan spiritualisme berbau klenik.
Naya (Dinna Olivia) terpaksa datang ke upacara pencucian keris keluarga, bersama sang ibu. Merasa bosan, ia mencoba untuk menggoda sepupunya, Leo (Junior Lim). Ketika derajat leluhur disejajarkan dengan dorongan seksual yang liar, gerbang mistis yang sedang terbuka menyeret Naya. Suasana mencekam terbangun dari bisikan sosok gaib dan pemindahan foto ke sosok aktual.
Dengan perlahan, tarian tradisional Naya berpindah pada sebuah mata yang sedang mengintip. Kebudayaan Jawa masih dipertahankan pada segmen ini, "Peeper (Pengintip)". Seorang laki-laki pengidap voyeurisme (Epy "Kang Dadang" Kusnandar) terpikat pada kecantikan seorang pelakon teater tradisional yang mengantarkan kisah Sarpanaka. Sang perempuan (Wiwied Gunawan) ternyata tak segan membunuh, demi hidup yang lebih abadi.
Sutradara Ray Arief John Nayoan, meramu "Peeper" dalam genre erotic thriller. Suasana apik terbangun dari detail cantik tarian dan gesture sang penari melalui paduan musik khas. Hal tersebut dengan cepat berpindah, menjadi adegan pembunuhan sadis.
Segmen beranjak pada "The List (Catatan Si Mbah)". Seorang gadis modern bernama Sarah (Shanty) mendatangi dukun agar bisa membalas sakit hatinya pada mantan kekasih (Fauzi Baadilah). Sarah memberikan serangkaian catatan, tentang apa yang harus dilakukan dukun.
Sampai sini, penempatan "The List" dalam dalam segmen keempat seakan memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas. Tak hanya itu, humor lugas coba ditampilkan sutradara Robby Ertanto. Cara tersebut ampuh, karena Robby menyimpan kejutan di akhir cerita.
Segmen cerita berlanjut pada misi penyelamatan di kota Jakarta. Bergaya futuristik dengan sound system yang agak lain dengan 4 film sebelumnya, "The Rescue (Penyelamatan)" melukiskan thriller dengan cara berbeda. Layaknya "Resident Evil", sutradara Raditya Sidharta menampilkan sosok zombie yang mengkontaminasi manusia lain, hingga yang selamat harus dievakuasi. Sayangnya, perangkat canggih, darah hijau, dan serangan zombie ganas, tidak mampu dipadu dengan acting natural. Terlebih, sisipan iklan komersial terlalu banyak ditampilkan, hingga terkesan mengganggu, walaupun cukup masuk akal.
Lewat "The Rescue (Penyelamatan)", sisi humanitas manusia modern disentil. Lewat monolog mengenai sisi kemanusiaan yang semakin hilang dan kemudian hanya menyisakan kebiadaban, film ini mencoba mempertanyakan kembali arti hubungan dengan sesama.
Dan kemudian, segmen terakhir ditutup dengan manis oleh "Dara". Dara (Shareefa Danish), gadis pemilik restoran steak sekaligus koki perfeksionis, memanfaatkan kecantikan dan keanggunannya untuk memikat lelaki agar datang ke rumahnya. Namun di balik itu, ia membunuh dan memutilasi para lelaki, untuk dijadikan bahan steak yang dimasaknya. Dengan demikian, ia tak perlu repot mencari daging.
Dengan gaya slasher black comedy, dua sutradara Kimo Samboel dan Timo Tjahtanto (atau The Mo Brothers) menampilkan sosok Dara dengan tuntas. Mereka pun tak pelit untuk menampilkan reka ulang, sejak daging manusia diambil dari lemari pendingin, hingga dikunyah dengan lezat oleh tamu restoran.
Setting kekinian bercampur budaya dan mitos, masih jadi andalan antologi ini. Terlebih, seluruh cerita sangat masuk akal jika terjadi di kehidupan nyata. Dan akhirnya, jeritan menyambung segmen demi segmen, menjadi satu benang merah.
==
Genre: Horor
Durasi: 90 Menit
Sutradara: Riri Riza, The Mo Brothers, Rako Prijanto, Ray Nayoan, Raditya Sidharta, dan Robby Ertanto
Pemain: Mike Muliardo, Shareffa Daanish, Wiwid Gunawan, Epy Kusnandar, Dinna Olivia, Junior Lim, Eva Celia Lesmana, Sogi Indraduaja, Ruben, Shanti, Fauzi Baadilah, Marcella Zalianti, dan Lukman Sardi.

No comments:
Post a Comment