11/24/08

Pencarian Terakhir

IKLIM misteri dan ketegangan yang dibangun dalam dramaturgi berbalut petualangan pendaki gunung, barangkali sudah menjadi sepenggal cerita usang. Namun dalam film panjang pertama sutradara Affandi Abdul Rachman, kisah ini bak penyejuk bagi tema film lokal yang didominasi oleh cerita berbau seksualitas dan horor. 

"Pencarian Terakhir" tak sepenuhnya terlepas dari horor, memang. Tubuh utama cerita dibumbui oleh nuansa mistis yang menegangkan. Kalau anda suka suasana yang mampu dibangun oleh film"Jelangkung" berupa kelebatan sosok misterius dan penampakan parsial, bisa jadi anda terbuai dengan film yang mulai diputar di bioskop sejak Kamis (20/11) ini. 

Daya pikat pegunungan yang penuh dengan petualangan, maskulinitas, kerja sama absolut, disiplin, dan mitos yang menyertai, menjadi jiwa tersendiri. Hal itu pulalah, yang membuat banyak orang selalu kembali, untuk menaklukan pegunungan. 

Berawal dari gambar usang tanda alur bergerak mundur, "Pencarian Terakhir" berkisah mengenai kakak beradik Gancar (Tesadesrada Ryza) dan Sita (Richa Novisha) yang sama-sama memiliki hobi mendaki gunung. Suatu hari, Gancar dan 5 temannya mendaki gunung Sarangan. Karena terlalu asyik berada di puncak gunung sambil menenggak minuman keras, mereka terlambat turun. Hari yang semakin gelap, membuat mereka kehilangan petunjuk untuk pulang. Mereka tersesat di lembah gunung. 

Sita, kakak Gancar, yang mengetahui kabar tersebut dari laporan tim SAR, langsung memutuskan untuk menjadi relawan dan melakukan pencarian. Bersama 2 temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos), Sita memulai pencarian. Mereka mengajak serta Tito (Lukman Sardi), yang selama 5 tahun absen mendaki gunung. Tito memendam rasa traumatis terhadap gunung Sarangan karena pernah tersesat. Waktu itu, Tito sempat kehilangan sahabatnya, Norman (Mike Muliardo), secara misterius. 

Medan hutan hujan tropis dengan cuaca yang tidak menentu mempersulit pencarian. Belum lagi, mitos dan unsur mistis yang bergelayut dalam gunung Sarangan. Alhasil, tim SAR memutuskan untuk menghentikan pencarian. Lalu, bagaimanakah nasib Gancar dkk?

"Vertical Limits" dan "Cliffhanger" barangkali menjadi sedikit acuan, untuk film dengan tema cerita seperti ini. Untungnya oleh sutradara Affandi Abdul Rachman, "Pencarian Terakhir" mampu diadaptasi secara lokal dengan lumayan natural. Sebelumnya, sutradara lulusan Columbia College Laude ini pernah menggarap film pendek, "Paranoid" dan "Phoenix". 

Lokasi gunung Sarangan yang namanya diciptakan secara fiktif, diambil di daerah Situ Gunung, Sukabumi. Setting tempat dan iringan musik depresif mampu membangun ketegangan demi ketegangan sejak awal cerita. Dialog natural juga tak jarang mengundang senyum. Mayoritas adegan terasa ringan, tanpa harus banyak mengerutkan kening. Pesan cerita berupa persahabatan, kemampuan bertahan, dan pelajaran mendasar bagi pendaki gunung, mampu disajikan dengan mengalir.

Namun sub plot yang ditampilkan tampaknya terlalu asyik dieksplorasi. Sehingga, alur cerita utama tak mampu terjaga dengan baik. Tak ada kemampuan teknis yang menguatkan sebagai pendaki gunung, dan penaklukan terhadap alam liar, menjadi minus tersendiri. Karakter Sita yang terlihat dingin dan tak acuh, tampak kontradiktif dengan sifat pendaki gunung yang umumnya reaktif. Dalam satu adegan bahkan terlihat, Sita terlalu asyik hingga melupakan Tito yang tengah berjuang menghindari jatuh ke lembah. (Endah Asih)***
 

---
Sutradara : Affandi Abdul Rachman
Skenario : Syamsul Hadi 
Pemain : Lukman Sardi, Yama Carlos, Alex Abbad, Richa Novisha
Produksi : Vandea

No comments: