11/20/08

Si Jago Merah

SEGAR dan berisi. Dua kata yang barangkali bisa tergambar dari drama komedi terbaru besutan sutradara muda Iqbal Rais, "Si Jago Merah". Ide manarik yang jarang dilirik, berupa suka duka kehidupan petugas pemadam kebakaran, coba dibidik dalam tampilan heroik yang lumayan menghibur. 
Dimulai dari kesamaan nasib 4 orang mahasiswa yang kebetulan dikumpulkan dalam satu ruangan, kisah "Si Jago Merah" mulai bergulir. Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat Purwakarta yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dari Semarang, dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan. Mereka terancam drop out dari Universitas Merdeka, jika dalam waktu 3 hari tidak bisa membayar tunggakan uang kuliah 4 semester berturut-turut. 
Dari situ, "Si Jago Merah" mulai memunculkan sub plot. Mereka menjual barang-barang yang mereka miliki agar dapat melunasi tunggakan. Alhasil, mereka harus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Satu per satu cara dijalani. Mulai dari pindah bersama ke rumah kontrakan yang dekat dengan kampus supaya bisa lebih mengirit pengeluaran, hingga mencari pekerjaan sampingan. Awalnya, mereka menjalani pekerjaan masing-masing. Namun, karena kelelahan usai bekerja, mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan lain.
Dengan pertimbangan profesi petugas pemadam kebakaran yang tidak memiliki banyak tugas sehingga punya banyak waktu santai, mereka memutuskan mencoba. Jalan itu mulai terbuka setelah Rojak berhasil membetulkan mesin sebuah mobil pemadam kebakaran yang bak tertidur panjang. Mobil keluaran 1975, bermesin 4.000 cc, bernama Si Jago Merah. Dengan tugas sebagai pemadam cadangan, mereka mulai menelusuri sisi unik yang ditawarkan dari profesi ini. Bersama Si Jago Merah, tentunya.
Orisinalitas ide yang makin sulit terjamah oleh film lokal kebanyakan, mampu ditemui dalam film yang penggarapannya dikerjakan oleh komposisi kru yang tak jauh berbeda dengan kru "The Tarix Jabrix" ini. Bahkan bisa dibilang, ide untuk menampilkan pemadam kebakaran sebagai bingkai utama, sangat menarik. Pemilihan ide tersebut bukan tanpa sebab, karena filosofi yang dikandung di balik profesi pemadam kebarakan. Sebuah profesi yang -sebenarnya- lebih diharapkan tidak bekerja. Namun ketika api berkobar, profesi ini menjadi satu-satunya ujung tombak. 
Tak heran, jika kemudian yang muncul adalah sikap patriotisme. Sampai di sini, "Si Jago Merah" cukup asyik dinikmati. Tanpa perlu mengerutkan dahi, aksi empat mahasiswa yang memiliki karakter persahabatan ogah-ogahan tersebut, bisa disaksikan dengan santai. Humor yang ditawarkan segar, ringan dan lepas. Terlebih, empat karakter utama sengaja dipilih untuk mewakili latar belakang yang berbeda. Untuk penonton Jawa Barat, bisa jadi merasakan sisi kedekatan dengan sosok Dede. Tak terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dari segi penokohan, empat karakter utama terbangun dengan mulus. Rojak yang memiliki emosi mudah tersulut, Dede yang playboy, Kuncoro yang pasrah dan Gito yang naif. Bahkan, sub plot yang berusaha ditampilkan, cukup mampu mendukung alur utama. Sebut saja Kuncoro yang memiliki fobia terhadap ruang tertutup (Claustrophobia), atau Dede yang dikejar hutang oleh mantan pacarnya, Nola (Poppy Sovia). 
Namun dengan adanya dramatisasi di sana sini, jangan berharap pada porsi drama yang besar. Karena sejak awal, sutradara menjaga genre film yang bernuansa komedi. Untungnya, umpan humor yang dilempar kepada penonton, seringkali disambut tawa renyah. Riset berupa data statistik seputar dinamika pemadam kebakaran, juga menjadi suguhan satire. Kondisi ideal yang seharusnya dimiliki sebuah daerah, hanya mampu dipenuhi setengahnya. 
Sedangkan dari segi acting, tak ada yang teramat spesial. Keempat pemeran utama seolah tak bereksplorasi acting secara maksimal. Tak salah, tentu saja. Karena karakter yang ditawarkan juga terlihat tak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Positifnya, mereka seolah berperan secara natural. Scene dimana Judika (Indonesian Idol) menyanyikan lagu miliknya secara santai, mampu menimbulkan reaksi penonton. Terlebih, ketika Desta menyanyikan lagu "Dari Hati", disambut gelak tawa. Dari deretan pemain, tak sedikit cameo yang ditampilkan. Sebut saja Francine Roosenda, The Changcuters, Mpok Nori, hingga wakil Bupati Tangerang Rano Karno, lumayan menghibur. 
(Endah Asih)***

Genre: Drama Komedi
Durasi: 90 menit
Produser: Chand Parwez, Hanung Bramantyo
Sutradara: Iqbal Rais
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's, Ytonk Club 80's, Judika, Poppy Sovia, Tika Putri, Indra Birowo, Sarah Sechan

No comments: