11/20/08

Room Mate

BICARA tentang film Iran, tak heran jika pikiran langsung tertuju pada tema kekerasan. Minimal, dampak kekerasan akibat intervensi rezim Taliban mampu menyisakan bekas. Sebut saja deretan film seperti "Baran", "Osama", "Children of Heaven", "The Kite Runner", "Kandahar", atau bahkan "Turtles Can Fly". Namun tak demikian halnya dengan film yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Mehrdad Farid, "Room Mate (Hamkhaneh)" yang menjelma sebagai titisan film bertingkah kontemporer.

Diawali dengan adegan Mahsa (Bita Saharkhiz) yang berjalan di lorong sekolah sambil meyakinkan para dosen, penonton langsung diarahkan untuk menyimpulkan karakter Mahsa. Mahsa adalah seorang perempuan yang pantang menyerah, obsesif, dan cenderung pemaksa. Karena kehilangan tempat tinggal, Mahsa terpaksa mencari tempat tinggal lain untuk tiga bulan ke depan, hingga ia lulus. Dengan uang seadanya dan tak bisa mengharapkan bantuan dari sang Ayah, apa yang bisa Mahsa perbuat?

Mahsa yang tak kehilangan akal, menyambut baik ide teman kerjanya untuk menjaga rumah seorang wanita tua, Fakhri. Sayangnya, Fakhri memberikan satu syarat mutlak, orang yang boleh menjaga rumahnya hanya pasangan yang sudah menikah. Mahsa pun repot mencari seorang lelaki untuk diajak berpura-pura menjadi suaminya, hingga ia bertemu Jamshid (Ali Reza). 

Bersama Jamshid, Mahsa pun menciptakan kebohongan demi kebohongan. Taktik mereka berlangsung mulus, hingga Fakhri berangkat ke luar negeri. Mahsa yang terlanjur merasa bebas dan nyaman di rumah Fakhri, kelabakan ketika mengetahui Fakhri batal bepergian. Hal itu berarti, ia dan Jamshid harus lebih meyakinkan Fakhri, agar Mahsa tidak kehilangan tempat tinggal. Alhasil, mereka benar-benar harus hidup dalam satu atap, dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di sinilah cerita mulai berliku-liku. Di negara seperti Iran, dua orang yang tidak menikah namun hidup dalam satu rumah,merupakan permasalahan besar. Bagaimana Mahsa dan Jamshid yang harus berperan sebagai suami istri di hadapan orang lain, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, mampu mengulirkan cerita demi cerita. 

Ide cerita "Room Mate" sebenarnya menarik. Bahkan bisa dikatakan sederhana. Karena jika tema "hidup seatap" diangkat oleh film lokal, barangkali akan terlihat biasa dan hambar. Namun ketika setting Iran yang mewakili, bisa berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Saking sederhananya, cerita melaju linier. Tak ada sub plot yang ditawarkan. Tak perlu banyak berpikir untuk menikmati film ini. Cukup duduk santai, penonton bisa tersenyum sesekali melihat tingkah polah Mahsa dan Jamshid. 

Sayang, ide cerita tidak diikuti oleh penggarapan yang apik. Sinematografi seadanya, menjadi teman penonton hingga akhir cerita. Yang agak berbeda, adalah bagaimana sequence gambar-gambar diambil. Kameraman tampak mampu mengambil gambar dari sudut yang agak berbeda, tak terpikirkan sebelumnya. Dari situ terlihat, banyak hal yang sedang dieksplorasi. Layaknya film Indie.

Lewat cerita yang dibingkai dalam "Room Mate" pula, penonton diajak untuk melihat kehidupan Teheran masa kini. Banyak pula masalah sosial yang diperlihatkan. Sebut saja masalah seperti peredaran obat terlarang, pekerja seks komersil, hingga moral. Namun, permasalahan itu hanya ditimbulkan dalam porsi yang sangat kecil. Kalaupun ada yang konsisten diperlihatkan, adalah norma-norma yang selama ini dipegang oleh film ala Iran. Hal itu terlihat dari tak ada satu pun adegan sentuhan fisik antara Masha dan Jamshid, atau Masha yang selalu tampil berkerudung. 

Walaupun sama sekali menepikan tragedi kemanusiaan seperti yang biasanya muncul pada film Iran, "Room Mate" tetap memiliki nuansa redup. Warna pastel yang mendominasi, membuat penonton sulit lepas dari stereotype film Iran. Kursi tua, deretan foto masa lalu, bahkan warna yang muncul pada mayoritas adegan film, sama sekali jauh dari nuansa kontemporer yang sebenarnya hendak dibidik.

Dan memang, ide cerita menjadi satu-satunya hal yang mampu menjadi komoditas film ini menjadi berbeda. Namun, jangan tanyakan bagimana Mahsa dan Jamshid menutup kisahnya. Saking terlenanya dengan alur lambat dan detail cerita yang ditampilkan, penonton bahkan tanpa sadar telah sampai pada akhir cerita. Tapi tenang saja, penonton diberi keleluasaan menafsirkan. (Endah Asih)***

Genre: Drama Komedi
Sutradara: Mehrdad Farid
Pemain: Bita Saharkhiz, Ali Reza Ashkan, Maryam Bubani
Durasi: 93 menit

No comments: