12/18/08

Dokumenter Tak Lagi Pinggiran

BUKAN hal baru jika dalam perfilman lokal, karya dokumenter kerap berada dalam ranah pinggiran. Lewat "Pertaruhan" yang dibidik dari perspektif perempuan, seni dokumenter seolah diberikan tempat istimewa. 

Produser Nia Dinata menyebutnya "counter culture". Sebuah budaya yang mampu menandingi keakuatan film naratif. "Pertaruhan" dianggap bisa menggambarkan stereotype yang ditempelkan dalam label perempuan, sekaligus mempertanyakan zona kenyamanan setiap orang.

"Lewat film ini, saya mencoba untuk menggambarkan kekuatan film dokumenter, yang katanya tidak punya nilai punya komersil. Di antara sekian banyak film naratif, mengapa tidak coba untuk memunculkan dokumenter yang memiliki narasi kuat?" ucap Nia, di sela-sela press screening film "Pertaruhan" di Blitz Megaplex Parijs Van Java Bandung, Minggu (14/12). 

Usaha Nia memang tidak sia-sia. Karena nyatanya, selain diputar pada pembukaan Jiffest 2008 lalu, "Pertaruhan" menyimpan potensi gemilang. Pada Senin (15/12), Nia mendapatkan kabar bahwa film yang diproduksinya tersebut, memeriahkan salah satu ajang bergengsi di kawasan Eropa. Berlinale 2009, Festival Film International Berlin ke-59, yang akan digelar di Berlin, Jerman, mulai tanggal 5 Februari 2009. 

"Pertaruhan" merupakan film dokumenter lokal pertama yang akan menyemarakkan Berlinale 2009. Film berdurasi 106 menit ini, rencananya akan bersanding dengan film naratif "Laskar Pelangi" yang sudah ditonton oleh lebih dari 4,4 juta penonton. Sebelumnya, film karya sutradara Garin Nugroho, "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja", pernah lolos dalam seleksi "Berlinale 2003" yang berlangsung di Berlin, 6-16 Februari 2003.  

Kuncinya Kepercayaan

Diakui oleh seluruh sutradara antologi "Pertaruhan", tidak ada rekayasa naskah dalam bentuk fiksi. Semua berjalan seperti narasi kecil yang ditemukan, untuk kemudian disusun menjadi sebuah kepingan besar. 

"Pembuatan dokumenter gampang-gampang susah. Karena semua harus berdasar kenyataan, bagian tersulit adalah mendekati narasumber dan membuat mereka nyaman dengan kehadiran kami dan kamera kami. Kuncinya kepercayaan," ucap Ani Ema Susanti, penggarap "Mengusahakan Cinta".

Senada dengan Ani, Ucu Agustin yang menggarap "Regat'e Anak" juga mengalami kesulitan dalam mendekati narasumber. Ucu mengaku, hanya dengan memanusiakan subyek, ia bisa bereksplorasi dengan narasumber. "Tapi itu tidak mudah. Ketika awal syuting di Bolo, saya saja sempat ditawar lima belas ribu. Dikiranya saya anyaran," ucap Ucu diiringi gelak tawa.

Kesulitan tentunya juga menyergap Iwan Setiawan, M. Ichsan, dan Lucky Kuswandi ketika harus memandang dari perspektif perempuan. "Topiknya under the service," ucap Lucky yang membahasakan "Nona Nyonya" lewat diskriminasi pemeriksaan reproduksi ini, sambil tersenyum.

Sementara Iwan dan Ichsan, mengaku benturan antara agama dan budaya, menjadi titik kontemplasi. "Ketika menggarap tentang sunat pada perempuan, jujur saja saya takut salah, makanya kami beri judul 'Untuk Apa?', supaya terkesan tidak menghakimi," kata Ichsan.

Kelima sutradara muda itu tentu punya alasan kuat memproduksi karya dokumenter. Meminjam istilah Nia, barangkali ungkapan "sarana penyentil untuk breaking the ice" mumpuni juga melukiskan "Pertaruhan". Akankah "Pertaruhan" benar-benar bisa membuka jalan bagi agar orang tidak memicingkan mata bagi film dokumenter?***

Antologi Otonomi Tubuh Perempuan

WACANA anatomi tubuh perempuan barangkali bisa dipermainkan dalam ambiguitas benak setiap orang. Namun di tangan 5 sutradara muda, wacana tersebut diolah menjadi antologi film pendek dokumenter berjudul "Pertaruhan (At Stake)". Dan memang, yang dipertaruhkan adalah tubuh. Tubuh banyak perempuan dalam empat penggal cerita.

Riset merupakan modal awal. Setiap membuka cerita, hasil riset berupa potongan data faktual menjadi suguhan menarik. Tentang kenyataan yang terkadang pahit. Bahkan membuat terhenyak. Tak jarang membuat bahu tak lagi nyaman bersandar.

Cerita pertama mengambil setting tempat di Hongkong. Tempat dimana kebebasan bisa direngkuh. Begitu pula untuk Riantini (30), atau Ryan, janda beranak satu yang memilih untuk menjadi TKW. Ryan adalah korban kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian memilih menjadi lesbian. "Daripada jadi budak lelaki, mending jadi budak di luar negeri bisa dapet uang," ucapnya dalam satu adegan.

Selain itu ada Ruwati Rahayu (43), yang bimbang karena stereotype keperawanan di mata calon suaminya, Yanto, duda beranak satu. Ruwati yang masih berstatus gadis, harus melakukan operasi karena masalah rahim. Namun karena ia belum pernah melahirkan, operasi harus dilakukan melalui vagina. Tentunya, hal tersebut melahirkan keraguan di benak Yanto.

Dua cerita itu melahirkan "Mengusahakan Cinta", karya Ani Ema Susanti. Dari cerita tersebut, Ani mencoba mempertanyakan tentang otonomi tubuh perempuan. Mulai adegan "berpacaran" antara Ryan dan pacarnya yang juga merupakan migran asal Indonesia yang cukup personal, hingga adegan sentimentil Ruwati ketika bertemu Yanto di tanah air. Penonton bisa tersenyum sejenak.

Hingga dua sutradara Iwan Setiawan dan Muhammad Ichsan yang berkolaborasi menghasilkan cerita kedua, "Untuk Apa?". Tanda tanya di belakang judul bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, kedua lelaki ini mencoba untuk memberi keleluasaan bagi perempuan untuk memilih.

Cerita ini tentang praktik sunat pada perempuan, ditinjau dari berbagai aspek. Mulai aspek agama, budaya, isu gender, hingga medis ditampilkan untuk memperkaya khasanah. Yang barangkali masih belum disosialisasikan dengan gencar, adalah sunat pada perempuan sudah dilarang oleh Departemen Kesehatan. Namun, tak sedikit orang yang mempertahankan sunat masal demi alasan budaya.

Indramayu dan Banten menjadi dua lokasi yang dipilih untuk meneguhkan budaya sunat pada perempuan. Sedangkan dari segi agama, dipilih momen saat Nong Darul Mahmada, aktivis perempuan yang juga menerima Yap Thiam Hien Award Musdah Mulia, bertanya pada Gus Dur tentang sunat perempuan.

"Dalam Islam tak ada itu. Sunat perempuan hanya tradisi di Indonesia," kata Gus Dur dalam film itu. Penonton lalu dibuat miris, ketika secuil adegan sunat dipraktikkan. Melalui sebilah silet, adegan ditutup dengan klimaks.

Cerita ketiga mengambil setting lebih kekinian. Mengambil judul "Nona Nyonya", Lucky Kuswandi menggarap isu tentang diskriminasi dalam layanan kesehatan reproduksi. Entah sadar atau tidak, diskriminasi tersebut muncul di awal pemeriksaan, dengan petugas medis yang bertanya, "anda nona atau nyonya?".

Pada pemeriksaan papsmear misalnya. Diskriminasi terjadi kepada perempuan yang aktif secara seksual, namun tidak menikah. Dalam cerita ini, Lucky dengan cerdik menggunakan kamera tersembunyi untuk kemudian mendapatkan kenyataan mencengangkan. Dua dokter yang terbukti melecehkan secara moril, hingga dokter yang memberikan ceramah keagamaan sambil mengutip beberapa bagian dari kitab suci.

Sebagai perbandingan, ditampilkan sosok Kelly (17) asal Bogor yang mencoba mencari tahu tentang kesehatan reproduksi. Namun, Kelly tidak memiliki akses cukup untuk mencari informasi.

Cerita terakhir, mengangkat seputar kemanusiaan dan hubungan sosial. "Regat'e Anak" karya Ucu Agustin, barangkali menjadi penutup yang sempurna. Menghentak, sekaligus menyentuh.
Cerita tentang Nur Hidayah (34), ibu lima anak asal Tulung Agung, Jawa Timur, dan temannya, Mira. Sehari-hari, mereka bekerja sebagai buruh penghancur batu. Namun ketika malam menjelang, mereka menjelma menjadi pekerja seks komersil di pemakaman China Gunung Bolo.
Jangan bayangkan wajah cantik dan tubuh gemulai. Kedua perempuan itu toh bekerja untuk menyambung hidup. Dari bekerja sebagai PSK, mereka menerima imbalan Rp 10.000,00 setiap kali transaksi. Sedangkan dengan menjadi pemecah batu, pendapatan kotor hanya Rp 400.000,00.

Membius dalam keheningan, antologi "Pertaruhan" ini nyatanya bisa menelisik hingga kedalaman yang mampu mengaduk emosi penonton. Mengiris ketidakpedulian dan mempertanyakan kemapanan. Juga menekankan tentang hak dan otonomi atas tubuh perempuan. Sebagaimana tubuh perempuan yang dijadikan pertaruhan. (Endah Asih/"PR")***

==
Genre: Dokumenter
Sutradara: Ani Ema Susanti, Iwan Setiawan, M. Ichsan, Lucky Kuswandi, Ucu Agustin
Produser: Nia Dinata
Durasi: 106 menit

Ada 3 Doa, Tapi Satu Cinta

KETIGA pria itu duduk dengan santai. Sebatang rokok putih tampak berpindah tangan dengan cepat. Setelah menghisap dalam-dalam, mereka berbincang dengan seru, sesekali diiringi adegan mengintip lewat celah dinding. 

Sepintas, potret tersebut tampak jauh dari citra yang diharapkan dari para santri. Namun dalam film "3 Doa 3 Cinta" debut sutradara Nurman Hakim, citra baku kalangan santri justru tampak rigid. 

Tiga tokoh sentral itu adalah Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama), dan Syahid (Yoga Bagus) yang menimba ilmu di pesantren Al Hikmah milik Kyai Wahab (Brohisman). Pesantren yang dikisahkan terletak di Bantul, Jogjakarta, itu masih tergolong tradisional. Tidur beralaskan tikar, bantal yang diganti dengan tumpukan buku, tidak ada musik, dan jauh dari perkembangan teknologi.

Namun mereka tetaplah tiga pria biasa. Ereksi di sebagian pagi, mengantuk bahkan tertidur ketika sholat, gugup ketika bertemu pujaan hati, dan punya mimpi. 

Huda yang naif, berambisi untuk bertemu sang ibu yang meninggalkannya saat berumur 11 tahun di depan pesantren. Rian yang berasal dari keluarga kaya, berambisi untuk menjadi sineas, minimal tukang video pernikahan. Sedangkan Syahid, ingin ditakdirkan seperti namanya: mati syahid.

Dibatasi oleh koridor penokohan masing-masing, mereka mulai menemukan pertanda dengan cara berbeda. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo), penyanyi dangdut keliling yang terobsesi menjadi artis ibu kota. Lewat kerlingan matanya, Dona berhasil menarik perhatian Huda. Selanjutnya, Huda meminta bantuan Dona yang matrealistis untuk mencari alamat ibunya di Jakarta.

Sementara Rian, bertemu dengan kelompok pemutar film di layar tancap. Lalu Syahid, mendapati kenyataan bahwa ayahnya sakit keras. Karena terhimpit kemiskinan, ia terpaksa menjual sawah milik keluarga dengan sangat murah. Merasa frustasi, ia memilih hengkang saja, lewat jihad.

Dibingkai dengan narasi beralur lambat, penonton diajak untuk menjelajahi sisi lain para santri, pun orang-orang yang kesehariannya dekat dengan keagamaan. Sayangnya, detail yang ditampilkan dalam porsi yang terlalu banyak, membuat jalan cerita berjalan membosankan di beberapa bagian. 

Tokoh sentral yang berjumlah 3 orang, juga terkadang membuat adegan berjalan tak beraturan. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan. Sehingga terkesan, film ini mencoba untuk meluruskan berbagai anggapan miring seputar agama Islam. 

Sutradara Nurman Hakim menyebutnya tontonan alternatif. "Tidak seperti film Holywood yang punya satu tokoh sentral dengan tujuan yang tercapai atau tidak di akhir cerita, film ini punya struktur cerita yang berbeda," ucap Nurman ketika ditemui usai press screening film "3 Doa 3 Cinta" di Blitz Megaplex Parijs Van Java Bandung, Jumat (12/12).

Dan memang, unsur drama bernafaskan religi yang ada dalam "3 Doa 3 Cinta", lumayan membius lewat banyolan ringan. Simak saja adegan dimana Syahid merekam dirinya menyampaikan pesan terakhir, sebelum pergi berjihad. Ada juga Rian yang berceloteh, "Sholat enggak perlu kayak gitu, emangnya di Arab?" saat Syahid hendak sholat dengan mengenakan sorban. Atau adegan Huda dan Dona sedang melakukan syuting.

Bicara tentang peran, ajang pertemuan Nicholas dan Dian kali ini memang terasa istimewa. Mengisi kekosongan yang ditinggalkan sejak "Ada Apa Dengan Cinta?", duet Nico-Dian mampu bersinar. Dian yang berperan sebagai penyanyi dangdut, memang berperan sangat "dangdut". Dengan tubuh sekal yang meliuk-liuk dengan rok minim dan cengkok khas, Dian mampu bertransformasi sebagai Dona Satelit. Begitu pula dengan Nico. Dimulai dari berpakaian, berwudhu, hingga menabuh rebana dilakoni Nico dengan natural.

Ide cerita seputar insiden salah kaprah pemaknaan agama barangkali bukan kali ini saja dieksplor oleh film lokal. Sebelumnya "Long Road To Heaven" karya Nia Dinata sempat diluncurkan ke pasaran. Namun pengalaman Nurman hidup di sebuah pesantren di Demak selama 3 tahun, membuatnya "gatal" untuk meluruskan anggapan yang berkembang tentang pondok pesantren.

"Tidak semua santri itu radikal. Justru saya ingin menggambarkan adanya cinta dan ketenangan," ucap Nurman. Berhasilkah Nurman memindahkan realitas yang ditemuinya menjadi sepotong fiksi menggigit "3 Doa 3 Cinta"? Kita tunggu saja. “3 Doa 3 Cinta” hadir serentak pada 18 Desember 2008. (Endah Asih/"PR")

12/2/08

aku Takuuuttt... (Faces of Fear)

JERITAN demi jeritan, teruntai apik membentuk antologi film horor berdurasi pendek. Nuansa kelam, musik mencekam, dialog pendek, terutama gagasan menyatukan segmen demi segmen, menjadikan film "Takut (Faces of Fear)" berontak terhadap pakem horor yang kini merebak dalam perfilman lokal. 

Tak lepas dari campur tangan 7 sutradara lokal, "Takut (Faces of Fear)" terdiri dari 6 cerita independen. Dengan nihilisme penampakan hantu lokal yang "tradisional", film berdurasi sekitar 90 menit ini lumayan sukses "menghibur". Menghibur dalam arti, memuaskan dahaga penonton akan suguhan film horor lokal yang berbeda. Tidak menjenuhkan, pun menggelikan. 

Melalui ilustrasi mulus yang ditingkahi oleh sajian gending jawa kontemporer, "Takut (Faces of Fear)" mulai mempersilahkan penonton untuk memasuki gerbang satu per satu babak. 

Dan begitulah, segmen pertama berjudul "Show Unit (Rumah Contoh) dimulai dengan setting perumahan minimalis modern, dengan nuansa kelam. Bukan sembarang kelam, dominasi warna redup yang ditampilkan sutradara Rako Prijanto, layaknya hasil fotografi olah digital. 

Terkadang ditemani dengan gambar yang dihasilkan dengan pergerakan kamera handheld, segmen ini bercerita mengenai Dinna (Marcella Zalianty), janda beranak satu, dan kekasihnya, Bayu (Lukman Sardi). Tanpa sengaja, Bayu membunuh Shira, anak Dinna. Karena dalam posisi terancam, Bayu juga membunuh Andre, mantan suami Dinna. Namun Bayu tak menyangka, kalau ada seseorang yang memperhatikan dan mengetahui kejadian itu.

Dari sini, suasana mencekam mulai terbangun. Sayang, segmen ini tidak memperlihatkan simpul cerita yang utuh. Hubungan antara Bayu dan sosok misterius, tidak terjalin dengan kuat. Rapuh. 

Modernitas menjadi penghubung. Namun dalam segmen kedua, "Titisan Naya", sutradara Riri Riza mencoba menampilkan sakralitas budaya Jawa yang kental. Lewat segmen ini, Riri seakan ingin menampilkan satire, terhadap kaum muda yang terkadang melecehkan spiritualisme berbau klenik.

Naya (Dinna Olivia) terpaksa datang ke upacara pencucian keris keluarga, bersama sang ibu. Merasa bosan, ia mencoba untuk menggoda sepupunya, Leo (Junior Lim). Ketika derajat leluhur disejajarkan dengan dorongan seksual yang liar, gerbang mistis yang sedang terbuka menyeret Naya. Suasana mencekam terbangun dari bisikan sosok gaib dan pemindahan foto ke sosok aktual. 

Dengan perlahan, tarian tradisional Naya berpindah pada sebuah mata yang sedang mengintip. Kebudayaan Jawa masih dipertahankan pada segmen ini, "Peeper (Pengintip)". Seorang laki-laki pengidap voyeurisme (Epy "Kang Dadang" Kusnandar) terpikat pada kecantikan seorang pelakon teater tradisional yang mengantarkan kisah Sarpanaka. Sang perempuan (Wiwied Gunawan) ternyata tak segan membunuh, demi hidup yang lebih abadi. 

Sutradara Ray Arief John Nayoan, meramu "Peeper" dalam genre erotic thriller. Suasana apik terbangun dari detail cantik tarian dan gesture sang penari melalui paduan musik khas. Hal tersebut dengan cepat berpindah, menjadi adegan pembunuhan sadis.

Segmen beranjak pada "The List (Catatan Si Mbah)". Seorang gadis modern bernama Sarah (Shanty) mendatangi dukun agar bisa membalas sakit hatinya pada mantan kekasih (Fauzi Baadilah). Sarah memberikan serangkaian catatan, tentang apa yang harus dilakukan dukun. 

Sampai sini, penempatan "The List" dalam dalam segmen keempat seakan memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas. Tak hanya itu, humor lugas coba ditampilkan sutradara Robby Ertanto. Cara tersebut ampuh, karena Robby menyimpan kejutan di akhir cerita. 

Segmen cerita berlanjut pada misi penyelamatan di kota Jakarta. Bergaya futuristik dengan sound system yang agak lain dengan 4 film sebelumnya, "The Rescue (Penyelamatan)" melukiskan thriller dengan cara berbeda. Layaknya "Resident Evil", sutradara Raditya Sidharta menampilkan sosok zombie yang mengkontaminasi manusia lain, hingga yang selamat harus dievakuasi. Sayangnya, perangkat canggih, darah hijau, dan serangan zombie ganas, tidak mampu dipadu dengan acting natural. Terlebih, sisipan iklan komersial terlalu banyak ditampilkan, hingga terkesan mengganggu, walaupun cukup masuk akal. 

Lewat "The Rescue (Penyelamatan)", sisi humanitas manusia modern disentil. Lewat monolog mengenai sisi kemanusiaan yang semakin hilang dan kemudian hanya menyisakan kebiadaban, film ini mencoba mempertanyakan kembali arti hubungan dengan sesama. 

Dan kemudian, segmen terakhir ditutup dengan manis oleh "Dara". Dara (Shareefa Danish), gadis pemilik restoran steak sekaligus koki perfeksionis, memanfaatkan kecantikan dan keanggunannya untuk memikat lelaki agar datang ke rumahnya. Namun di balik itu, ia membunuh dan memutilasi para lelaki, untuk dijadikan bahan steak yang dimasaknya. Dengan demikian, ia tak perlu repot mencari daging. 

Dengan gaya slasher black comedy, dua sutradara Kimo Samboel dan Timo Tjahtanto (atau The Mo Brothers) menampilkan sosok Dara dengan tuntas. Mereka pun tak pelit untuk menampilkan reka ulang, sejak daging manusia diambil dari lemari pendingin, hingga dikunyah dengan lezat oleh tamu restoran. 

Setting kekinian bercampur budaya dan mitos, masih jadi andalan antologi ini. Terlebih, seluruh cerita sangat masuk akal jika terjadi di kehidupan nyata. Dan akhirnya, jeritan menyambung segmen demi segmen, menjadi satu benang merah. 

==

Genre: Horor
Durasi: 90 Menit
Sutradara: Riri Riza, The Mo Brothers, Rako Prijanto, Ray Nayoan, Raditya Sidharta, dan Robby Ertanto
Pemain: Mike Muliardo, Shareffa Daanish, Wiwid Gunawan, Epy Kusnandar, Dinna Olivia, Junior Lim, Eva Celia Lesmana, Sogi Indraduaja, Ruben, Shanti, Fauzi Baadilah, Marcella Zalianti, dan Lukman Sardi.

11/24/08

Pencarian Terakhir

IKLIM misteri dan ketegangan yang dibangun dalam dramaturgi berbalut petualangan pendaki gunung, barangkali sudah menjadi sepenggal cerita usang. Namun dalam film panjang pertama sutradara Affandi Abdul Rachman, kisah ini bak penyejuk bagi tema film lokal yang didominasi oleh cerita berbau seksualitas dan horor. 

"Pencarian Terakhir" tak sepenuhnya terlepas dari horor, memang. Tubuh utama cerita dibumbui oleh nuansa mistis yang menegangkan. Kalau anda suka suasana yang mampu dibangun oleh film"Jelangkung" berupa kelebatan sosok misterius dan penampakan parsial, bisa jadi anda terbuai dengan film yang mulai diputar di bioskop sejak Kamis (20/11) ini. 

Daya pikat pegunungan yang penuh dengan petualangan, maskulinitas, kerja sama absolut, disiplin, dan mitos yang menyertai, menjadi jiwa tersendiri. Hal itu pulalah, yang membuat banyak orang selalu kembali, untuk menaklukan pegunungan. 

Berawal dari gambar usang tanda alur bergerak mundur, "Pencarian Terakhir" berkisah mengenai kakak beradik Gancar (Tesadesrada Ryza) dan Sita (Richa Novisha) yang sama-sama memiliki hobi mendaki gunung. Suatu hari, Gancar dan 5 temannya mendaki gunung Sarangan. Karena terlalu asyik berada di puncak gunung sambil menenggak minuman keras, mereka terlambat turun. Hari yang semakin gelap, membuat mereka kehilangan petunjuk untuk pulang. Mereka tersesat di lembah gunung. 

Sita, kakak Gancar, yang mengetahui kabar tersebut dari laporan tim SAR, langsung memutuskan untuk menjadi relawan dan melakukan pencarian. Bersama 2 temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos), Sita memulai pencarian. Mereka mengajak serta Tito (Lukman Sardi), yang selama 5 tahun absen mendaki gunung. Tito memendam rasa traumatis terhadap gunung Sarangan karena pernah tersesat. Waktu itu, Tito sempat kehilangan sahabatnya, Norman (Mike Muliardo), secara misterius. 

Medan hutan hujan tropis dengan cuaca yang tidak menentu mempersulit pencarian. Belum lagi, mitos dan unsur mistis yang bergelayut dalam gunung Sarangan. Alhasil, tim SAR memutuskan untuk menghentikan pencarian. Lalu, bagaimanakah nasib Gancar dkk?

"Vertical Limits" dan "Cliffhanger" barangkali menjadi sedikit acuan, untuk film dengan tema cerita seperti ini. Untungnya oleh sutradara Affandi Abdul Rachman, "Pencarian Terakhir" mampu diadaptasi secara lokal dengan lumayan natural. Sebelumnya, sutradara lulusan Columbia College Laude ini pernah menggarap film pendek, "Paranoid" dan "Phoenix". 

Lokasi gunung Sarangan yang namanya diciptakan secara fiktif, diambil di daerah Situ Gunung, Sukabumi. Setting tempat dan iringan musik depresif mampu membangun ketegangan demi ketegangan sejak awal cerita. Dialog natural juga tak jarang mengundang senyum. Mayoritas adegan terasa ringan, tanpa harus banyak mengerutkan kening. Pesan cerita berupa persahabatan, kemampuan bertahan, dan pelajaran mendasar bagi pendaki gunung, mampu disajikan dengan mengalir.

Namun sub plot yang ditampilkan tampaknya terlalu asyik dieksplorasi. Sehingga, alur cerita utama tak mampu terjaga dengan baik. Tak ada kemampuan teknis yang menguatkan sebagai pendaki gunung, dan penaklukan terhadap alam liar, menjadi minus tersendiri. Karakter Sita yang terlihat dingin dan tak acuh, tampak kontradiktif dengan sifat pendaki gunung yang umumnya reaktif. Dalam satu adegan bahkan terlihat, Sita terlalu asyik hingga melupakan Tito yang tengah berjuang menghindari jatuh ke lembah. (Endah Asih)***
 

---
Sutradara : Affandi Abdul Rachman
Skenario : Syamsul Hadi 
Pemain : Lukman Sardi, Yama Carlos, Alex Abbad, Richa Novisha
Produksi : Vandea

11/20/08

Room Mate

BICARA tentang film Iran, tak heran jika pikiran langsung tertuju pada tema kekerasan. Minimal, dampak kekerasan akibat intervensi rezim Taliban mampu menyisakan bekas. Sebut saja deretan film seperti "Baran", "Osama", "Children of Heaven", "The Kite Runner", "Kandahar", atau bahkan "Turtles Can Fly". Namun tak demikian halnya dengan film yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Mehrdad Farid, "Room Mate (Hamkhaneh)" yang menjelma sebagai titisan film bertingkah kontemporer.

Diawali dengan adegan Mahsa (Bita Saharkhiz) yang berjalan di lorong sekolah sambil meyakinkan para dosen, penonton langsung diarahkan untuk menyimpulkan karakter Mahsa. Mahsa adalah seorang perempuan yang pantang menyerah, obsesif, dan cenderung pemaksa. Karena kehilangan tempat tinggal, Mahsa terpaksa mencari tempat tinggal lain untuk tiga bulan ke depan, hingga ia lulus. Dengan uang seadanya dan tak bisa mengharapkan bantuan dari sang Ayah, apa yang bisa Mahsa perbuat?

Mahsa yang tak kehilangan akal, menyambut baik ide teman kerjanya untuk menjaga rumah seorang wanita tua, Fakhri. Sayangnya, Fakhri memberikan satu syarat mutlak, orang yang boleh menjaga rumahnya hanya pasangan yang sudah menikah. Mahsa pun repot mencari seorang lelaki untuk diajak berpura-pura menjadi suaminya, hingga ia bertemu Jamshid (Ali Reza). 

Bersama Jamshid, Mahsa pun menciptakan kebohongan demi kebohongan. Taktik mereka berlangsung mulus, hingga Fakhri berangkat ke luar negeri. Mahsa yang terlanjur merasa bebas dan nyaman di rumah Fakhri, kelabakan ketika mengetahui Fakhri batal bepergian. Hal itu berarti, ia dan Jamshid harus lebih meyakinkan Fakhri, agar Mahsa tidak kehilangan tempat tinggal. Alhasil, mereka benar-benar harus hidup dalam satu atap, dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di sinilah cerita mulai berliku-liku. Di negara seperti Iran, dua orang yang tidak menikah namun hidup dalam satu rumah,merupakan permasalahan besar. Bagaimana Mahsa dan Jamshid yang harus berperan sebagai suami istri di hadapan orang lain, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, mampu mengulirkan cerita demi cerita. 

Ide cerita "Room Mate" sebenarnya menarik. Bahkan bisa dikatakan sederhana. Karena jika tema "hidup seatap" diangkat oleh film lokal, barangkali akan terlihat biasa dan hambar. Namun ketika setting Iran yang mewakili, bisa berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Saking sederhananya, cerita melaju linier. Tak ada sub plot yang ditawarkan. Tak perlu banyak berpikir untuk menikmati film ini. Cukup duduk santai, penonton bisa tersenyum sesekali melihat tingkah polah Mahsa dan Jamshid. 

Sayang, ide cerita tidak diikuti oleh penggarapan yang apik. Sinematografi seadanya, menjadi teman penonton hingga akhir cerita. Yang agak berbeda, adalah bagaimana sequence gambar-gambar diambil. Kameraman tampak mampu mengambil gambar dari sudut yang agak berbeda, tak terpikirkan sebelumnya. Dari situ terlihat, banyak hal yang sedang dieksplorasi. Layaknya film Indie.

Lewat cerita yang dibingkai dalam "Room Mate" pula, penonton diajak untuk melihat kehidupan Teheran masa kini. Banyak pula masalah sosial yang diperlihatkan. Sebut saja masalah seperti peredaran obat terlarang, pekerja seks komersil, hingga moral. Namun, permasalahan itu hanya ditimbulkan dalam porsi yang sangat kecil. Kalaupun ada yang konsisten diperlihatkan, adalah norma-norma yang selama ini dipegang oleh film ala Iran. Hal itu terlihat dari tak ada satu pun adegan sentuhan fisik antara Masha dan Jamshid, atau Masha yang selalu tampil berkerudung. 

Walaupun sama sekali menepikan tragedi kemanusiaan seperti yang biasanya muncul pada film Iran, "Room Mate" tetap memiliki nuansa redup. Warna pastel yang mendominasi, membuat penonton sulit lepas dari stereotype film Iran. Kursi tua, deretan foto masa lalu, bahkan warna yang muncul pada mayoritas adegan film, sama sekali jauh dari nuansa kontemporer yang sebenarnya hendak dibidik.

Dan memang, ide cerita menjadi satu-satunya hal yang mampu menjadi komoditas film ini menjadi berbeda. Namun, jangan tanyakan bagimana Mahsa dan Jamshid menutup kisahnya. Saking terlenanya dengan alur lambat dan detail cerita yang ditampilkan, penonton bahkan tanpa sadar telah sampai pada akhir cerita. Tapi tenang saja, penonton diberi keleluasaan menafsirkan. (Endah Asih)***

Genre: Drama Komedi
Sutradara: Mehrdad Farid
Pemain: Bita Saharkhiz, Ali Reza Ashkan, Maryam Bubani
Durasi: 93 menit

Si Jago Merah

SEGAR dan berisi. Dua kata yang barangkali bisa tergambar dari drama komedi terbaru besutan sutradara muda Iqbal Rais, "Si Jago Merah". Ide manarik yang jarang dilirik, berupa suka duka kehidupan petugas pemadam kebakaran, coba dibidik dalam tampilan heroik yang lumayan menghibur. 
Dimulai dari kesamaan nasib 4 orang mahasiswa yang kebetulan dikumpulkan dalam satu ruangan, kisah "Si Jago Merah" mulai bergulir. Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat Purwakarta yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dari Semarang, dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan. Mereka terancam drop out dari Universitas Merdeka, jika dalam waktu 3 hari tidak bisa membayar tunggakan uang kuliah 4 semester berturut-turut. 
Dari situ, "Si Jago Merah" mulai memunculkan sub plot. Mereka menjual barang-barang yang mereka miliki agar dapat melunasi tunggakan. Alhasil, mereka harus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Satu per satu cara dijalani. Mulai dari pindah bersama ke rumah kontrakan yang dekat dengan kampus supaya bisa lebih mengirit pengeluaran, hingga mencari pekerjaan sampingan. Awalnya, mereka menjalani pekerjaan masing-masing. Namun, karena kelelahan usai bekerja, mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan lain.
Dengan pertimbangan profesi petugas pemadam kebakaran yang tidak memiliki banyak tugas sehingga punya banyak waktu santai, mereka memutuskan mencoba. Jalan itu mulai terbuka setelah Rojak berhasil membetulkan mesin sebuah mobil pemadam kebakaran yang bak tertidur panjang. Mobil keluaran 1975, bermesin 4.000 cc, bernama Si Jago Merah. Dengan tugas sebagai pemadam cadangan, mereka mulai menelusuri sisi unik yang ditawarkan dari profesi ini. Bersama Si Jago Merah, tentunya.
Orisinalitas ide yang makin sulit terjamah oleh film lokal kebanyakan, mampu ditemui dalam film yang penggarapannya dikerjakan oleh komposisi kru yang tak jauh berbeda dengan kru "The Tarix Jabrix" ini. Bahkan bisa dibilang, ide untuk menampilkan pemadam kebakaran sebagai bingkai utama, sangat menarik. Pemilihan ide tersebut bukan tanpa sebab, karena filosofi yang dikandung di balik profesi pemadam kebarakan. Sebuah profesi yang -sebenarnya- lebih diharapkan tidak bekerja. Namun ketika api berkobar, profesi ini menjadi satu-satunya ujung tombak. 
Tak heran, jika kemudian yang muncul adalah sikap patriotisme. Sampai di sini, "Si Jago Merah" cukup asyik dinikmati. Tanpa perlu mengerutkan dahi, aksi empat mahasiswa yang memiliki karakter persahabatan ogah-ogahan tersebut, bisa disaksikan dengan santai. Humor yang ditawarkan segar, ringan dan lepas. Terlebih, empat karakter utama sengaja dipilih untuk mewakili latar belakang yang berbeda. Untuk penonton Jawa Barat, bisa jadi merasakan sisi kedekatan dengan sosok Dede. Tak terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dari segi penokohan, empat karakter utama terbangun dengan mulus. Rojak yang memiliki emosi mudah tersulut, Dede yang playboy, Kuncoro yang pasrah dan Gito yang naif. Bahkan, sub plot yang berusaha ditampilkan, cukup mampu mendukung alur utama. Sebut saja Kuncoro yang memiliki fobia terhadap ruang tertutup (Claustrophobia), atau Dede yang dikejar hutang oleh mantan pacarnya, Nola (Poppy Sovia). 
Namun dengan adanya dramatisasi di sana sini, jangan berharap pada porsi drama yang besar. Karena sejak awal, sutradara menjaga genre film yang bernuansa komedi. Untungnya, umpan humor yang dilempar kepada penonton, seringkali disambut tawa renyah. Riset berupa data statistik seputar dinamika pemadam kebakaran, juga menjadi suguhan satire. Kondisi ideal yang seharusnya dimiliki sebuah daerah, hanya mampu dipenuhi setengahnya. 
Sedangkan dari segi acting, tak ada yang teramat spesial. Keempat pemeran utama seolah tak bereksplorasi acting secara maksimal. Tak salah, tentu saja. Karena karakter yang ditawarkan juga terlihat tak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Positifnya, mereka seolah berperan secara natural. Scene dimana Judika (Indonesian Idol) menyanyikan lagu miliknya secara santai, mampu menimbulkan reaksi penonton. Terlebih, ketika Desta menyanyikan lagu "Dari Hati", disambut gelak tawa. Dari deretan pemain, tak sedikit cameo yang ditampilkan. Sebut saja Francine Roosenda, The Changcuters, Mpok Nori, hingga wakil Bupati Tangerang Rano Karno, lumayan menghibur. 
(Endah Asih)***

Genre: Drama Komedi
Durasi: 90 menit
Produser: Chand Parwez, Hanung Bramantyo
Sutradara: Iqbal Rais
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's, Ytonk Club 80's, Judika, Poppy Sovia, Tika Putri, Indra Birowo, Sarah Sechan

9/24/08

kembali

apalah namanya, tapi dia benar-benar memintaku kembali..

aku harus apa?

aku cinta dia..

tapi...



*dan aku yakin kalau ketapi-tapian itu tak akan pernah terjawab tuntas

8/30/08

first post

heh, siapa bilang ini postingan pertama gw di blogspot?? (huehehe, baru pembukaan aja udah nyolot yah si ndaayy:D)..

anyhow, this is my 2nd blogspot.. and who cares with the first one? i'd already put it on my trashcase.. why? hmm,, you name it!

ya ya yaaaa.. nanti gw akan posting2 lagi tulisan yang ngga penting aaahhh, tapi aniway itu penting lah buat katarsis gw, hehehehhe...

soon:D
*cup

so, my favourite quote for today: there is always the first time for everything.. (basi ga seh ini quoteee?? hueheh..)