1/19/09

The Movie, Pintu Terlarang

"Dia tidak malu. Dia hanya tidak mau punya anak dari kamu. Dia musuh kamu."

KALIMAT yang dituding dari mulut seorang lelaki tak dikenal di sebuah klinik aborsi, mengguncang benak Gambir. Saat itu, ia mengantar calon istrinya Talyda, menggugurkan kandungan. Sejak saat itu, ia dihantui oleh masa-masa kelam tak berkesudahan.

Sosok Gambir adalah Fachri Albar, dan Talyda adalah Marsha Timothy. Dalam dunia surealis yang dikonstruk oleh sutradara muda Joko Anwar, kehidupan mereka diciptakan melalui "Pintu Terlarang".

Gambir, adalah seorang seniman introvert. Hidupnya sempurna. Keluarga yang hangat, karir yang cemerlang, sahabat yang solid, dan satu lagi yang sempurna, istrinya yang cerdas dan cantik, Talyda. Namun siapa yang sangka, kalau di balik itu, Gambir menyimpan banyak penat. Kesempurnaan itu hanya ada di atas permukaan. 

Di lain adegan, pameran patung yang diselenggarakan Gambir sukses besar. Kali ini bukan sembarang patung. Patung perempuan hamil yang dibuat Gambir. Patung itu serasa memiliki ruh, sebuah pencapaian estetika yang tinggi. 

Istrinya Talyda yang manipulatif, terus mendorong Gambir untuk menghasilkan patung perempuan hamil. Begitu juga dengan pemilik Galeri, Koh Jimmy yang terlanjur kepincut dengan karya Gambir. Alasannya singkat, ia suka patung buatan Gambir dan mencium raupan keuntungan dari situ. 

Hingga suatu saat, Gambir mendapat teror berupa pesan aneh. Bunyinya sederhana, dua kata "Tolong Saya". Ternyata, pesan itu dari seorang anak kecil misterius yang disiksa secara sadis oleh orang tuanya. Gambir seakan terobsesi, untuk menolong. 

Kepenatan dalam otak Gambir semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa Talyda menyimpan suatu rahasia. Ada satu pintu bercat merah di belakang dinding bengkel kerjanya. Pintu itu ditutupi sebuah lemari kayu besar. Saat hendak dibuka, Talyda muncul sambil menatap Gambir, nanar. 

“Kamu ingat ya Gambir. Pintu itu adalah pintu yang terlarang. Sekali kamu buka, semua yang kita telah bina selama ini akan hilang. Sekali kamu buka, hidup kita akan berakhir. Hidup kamu akan berakhir," ancam Talyda. 

Potongan-potongan adegan tersebut sepintas membingungkan. Terutama, untuk menguraikan simpul-simpul cerita, dan kemana cerita itu akan berujung. Dalam versi novel berjudul sama garapan Sekar Ayu Asmara, cerita itu memang dibagi menjadi 3 plot. 

Plot pertama tentang seorang anak berusia 7 tahun yang mendapat siksaan fisik dan mental dari kedua orang tuanya. Plot kedua tentang hidup Gambir yang sempurna. Plot ketiga tentang seorang jurnalis obsesif bernama Pusparanti. Di sinilai kepiawaian Joko Anwar untuk mentransformasikan buku ke dalam media film, harus teruji.

Tak seperti versi novel yang baru mendapat ruh di setengah cerita terakhir, versi film garapan Joko sudah menampilkan simpul menarik sejak awal. Dibalut opening yang unik dan elegan, Joko mengaduk emosi penonton lewat twist hidup Gambir.

Menyaksikan opening film, siapa saja bisa terhenyak. Nampaknya Joko sadar benar, opening adalah bagian krusial. Bagian yang menyisakan kesan mendalam di benak penonton dengan kekaguman atau sebaliknya. Dan ia berhasil dengan baik. 

Plot yang ditampilkan sebelum opening credit, mampu menjadi nyawa tersendiri. Kesan artistik, elegan, dan berkelas muncul lewat dialog, penggambaran karakter secara tuntas, dan sinematografi jempolan. 

Pesan yang ingin diguratkan sebenarnya cukup jelas. Kekerasan terhadap anak akan terus membekas, menghasilkan kelakuan minor yang terus ada hingga dewasa. 

Balutan drama kental, menjadi sedemikian menarik untuk dinikmati tatkala Joko menampilkan kualitas gambar artistik. Konsep noir jelas tak mampu dihindarkan. Gelap, namun estetis. Gaya “Joko banget”. Kehadiran klub rahasia “Herosase” yang imajinatif juga menjadi ruh tersendiri.

Untuk membuat detail makro gambar, Joko menggunakan kamera film 35mm ARRICAM ST. Proses post-production dilakukan melalui proses Digital Intermediate (DI), yaitu proses untuk memperkaya warna melalui high definition digital medium sebelum kembali ditransfer ke film selluloid 35mm. Tak hanya itu, "Pintu Terlarang" diperkaya dengan tata audio Dolby Digital Surround EX. 

Dukungan perangkat memang menjadi keunggulan tersendiri. Simak saja adegan ketika Gambir mengejar sang anak misterius di lorong. Tata cahaya, angle pengambilan gambar, scoring, dan sinematografi yang menciptakan perpaduan memuaskan. 

Tak hanya itu, Joko memboyong kru yang sudah membuatnya klik dalam film sebelumnya, "Kala". Penata musik Aghi Narottama, penata sinematografi Rachmat Syaiful, dan penata artistik Wencislaus. Bahkan, untuk pengerjaan scoring dan lagu soundtrack, Aghi menggandeng band SORE, Zeke Khaseli, Anda, dan Emil "Naif". Dengan begitu, kesan nuansa musik yang dihasilkan sudah bisa dibayangkan, bukan? 

Sesungguhnya, "Pintu Terlarang" menjadi film yang "membuka" 2009 dengan baik. Thriller dewasa dalam bentuk crime-violance-sex-obsessive-conspiracy, merupakan movie-going experience yang akan meninggalkan kesan mendalam. Dan akhirnya, satu kata terakhir untuk "Pintu Terlarang", classy. (Endah Asih)*** 

The Soul of Pintu Terlarang

BELUM juga ditayangkan secara reguler pada Kamis (22/1), drama thriller "Pintu Terlarang" sudah banyak mendapat banyak apresiasi positif. Dari pemutaran midnight pada Sabtu (17/1) lalu, nyaris seluruh tiket yang dijual di 7 bioskop di Jakarta dan Bandung ludes terjual.

Pada pemutaran midnight di Jakarta, "Pintu Terlarang" diputar di dua jaringan 21 Cineplex, dan tiga auditorium Blitz Megaplex. Sedangkan di Bandung, film garapan Joko Anwar ini diputar di Blitz Megaplex Parijs Van Java dan Cihampelas Walk XXI. 

"Di 5 bioskop semua sold out, kalau yang lain hanya deretan depan yang tersisa," ucap produser "Pintu Terlarang" Sheila Timothy, Senin (19/1). 

Dan tentu, ambang kesuksesan "Pintu Terlarang" berada di tangan sang sutradara, Joko Anwar. "Yess, hampir semua sold out, im so exciting, jadi optimis banget setelah tahu jumlah penonton pada pemutaran midnight," kata Joko.

Produksi film berdurasi 115 menit ini memakan biaya sekitar Rp 6 Miliar. "Hmm, tapi budget segitu masih tergolong kecil untuk film seperti ini," ujar penyuka film misteri thriller sejak kecil ini. 

Proses syuting sendiri, dilakukan di Jakarta dan Bogor selama 30 hari sejak 27 Juli 2008. Sedangkan tahap pra-produksi dimulai sejak Maret 2008. "Saya sudah menonton film ini beratus-ratus kali, mulai dari hasil editing yang masih kasar sampai jadi, dan semakin mendekati hasil akhirnya, saya makin optimis, ya kita do the best aja," kata Sheila. Film ini merupakan produksi perdana LifeLike Pictures.


Diberi Kebebasan

Ide skenario film memang bisa berasal dari mana saja. Terutama video game, komik, dan novel. Semakin karya awal diapresiasi oleh kalangan penikmat kebudayaan massa, maka semakin beratlah beban yang harus dipikul oleh filmaker. 

"Tapi percaya atau enggak, waktu gue nulis skenario film ini tuh ngalir banget. Setelah selesai baca novelnya, gue diemin buku itu 3 bulan. Habis itu, baru gue mulai penulisan skenarionya dari awal, supaya enggak terpengaruh banget," kata Joko. 

Pilihan Joko untuk mengadaptasi "Pintu Terlarang" dari novel karya Sekar Ayu Asmara terbilang tepat. Hal itu disebabkan karena ia mendapatkan kebebasan mutlak dalam proses adaptasi.

"Pas ketemu sama mbak Sekar, dia bilang ini skenario boleh diacak-acak semau gue, terserah mau diapain aja. Dan sejak awal gue memang enggak mau menjadikan film ini tumplek sama kayak novelnya. Film adaptasi itu harus punya nilai tambah karena harus ada added value nya," kata pria yang pertama kali menulis sekaligus menyutradarai "Janji Joni" ini.

Penulis novel “Pintu Terlarang” Sekar Ayu Asmara, ketika dihubungi Senin (19/1) mengaku puas dengan adaptasi yang dilakukan Joko. “Adaptasi yang bagus. Joko bisa melihat novel saya sebagai satu kesatuan yang utuh,” kata Sekar. 

Joko Anwar dan Sekar Ayu Asmara pertama kali dipertemukan pada penggarapan “Biola Tak Berdawai”. “Saat itu dia (Joko, red) yang jadi asisten sutradara saya. Saya memang khusus meminta dia untuk membuat film Pintu Terlarang, karena jujur saja saya tidak bisa. Satu-satunya orang yang bisa kayaknya cuma dia,” kata Sekar, menjelaskan tentang hal ihwal proses adaptasi.

Terhadap penggarapan film “Pintu Terlarang”, Sekar mengaku memberikan keleluasaan kepada Joko dan kru. Sampai-sampai, ia menolak untuk membaca ketika disodori naskah skenario garapan Joko. 

“Saya enggak mau waktu Lala (panggilan untuk Sheila, red) minta saya untuk baca skenario. Kalau saya baca dan mengedit, apa bedanya dengan novel saya jadinya. Makanya saya memilih untuk tidak ikut campur,” kata Sekar.

Dan kepercayaan Sekar berbuah manis. Usai menonton “Pintu Terlarang”, ia tak menyebutkan kritikan. “Saya memandang dari kaca mata penonton saja. Yang penting esensi moral tidak hilang. Dan dia berhasil,” ujar Sekar. 


Tak Pasang Target

Namun, Joko memang belum menemukan kesulitan berarti pada tahap adaptasi. Kesulitan sebenarnya baru ditemui saat ia harus menawarkan konsep matangnya kepada beberapa produser.

"Yang jadi masalah banget, produsernya ga ada yang berani bikin ketika selesai baca. Mereka bilang terlalu sadis. Padahal gue udah mencoba untuk ngeyakinin mereka, kalau gue enggak akan bikin film ini jadi kotor kayak Saw dan semacamnya. I'll make this become an ellegance film, yang indah," kenang Joko. 

Untungnya, kesulitan tersebut sirna ketika ia bertemu dengan Sheila Timothy. "Lala open minded banget, dia percaya banget sama gue, gue bisa ngapain aja, makanya hasilnya bisa maksimal," ucap Joko. 

Tak hanya berpotensi untuk mendongkrak penjualan tiket dalam skala nasional, "Pintu Terlarang" sudah melakukan jauh daripada itu. Film ketiga yang disutradarai sekaligus ditulis skenarionya oleh Joko Anwar ini, terpilih untuk mengikuti International Film Festival Rotterdam ke-38, yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Januari-1 Februari 2009. 

Namun untuk target penonton, Joko tak mematok pencapaian tertentu. "Gue enggak bikin target penonton. Soalnya itu enggak bisa dikontrol. Yang bisa dikontrol cuma kualitas. Gue udah manggil resources terbaik buat proyek film ini. Jadi angka penonton kita lihat nanti pas udah running," ucap Joko. (Endah Asih)***

When Jazz Romance Meet The Oldies

DAYA pikat film "Pintu Terlarang" rupanya tak hanya sampai pada level cerita yang kuat, penokohan yang tuntas, dan sinematografi yang apik. Jalan yang diretas penata musik "Pintu Terlarang" Aghi Narottama terbilang mulus. Bersama Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro, ia menghasilkan musik yang soulfull bagi "Pintu Terlarang". 

Tak percaya? Pejamkan mata anda sejenak saat menyaksikan "Pintu Terlarang". Theatre of mind anda bisa-bisa terhanyut dalam nuansa 50-an. Hal tersebut beralasan, karena konsep musik yang bertaburan dalam "Pintu Terlarang" memang sengaja dibuat seperti itu. Musik yang light-hearted berirama jazz dikawinkan dengan oldies. Untuk itu, Aghi mencari referensi dari Howard Shore, Lex Baxter, dan beberapa musisi Jazz tahun 50-an.

"Dalam dua kata, saya menyebutnya 50's American," ujar Aghi, Minggu (18/1). Dalam "Pintu Terlarang", ada 9 musik score dan 9 lagu yang menghiasi sepanjang film. Konsepnya terbilang unik, "mocking", yaitu nuansa kontradiktif. Absurditas karakter Gambir yang sedang dijajah oleh isi twisted kepala, akan disandingkan dengan lagu berirama ringan. Semua harmonis bertabrakan.

"Tapi pas kita tonton hasil gambarnya, ternyata kesan dark nya lebih terasa dari yang direncanakan. Akhirnya kita rombak musiknya. Untuk lagu, kita tetap pakai mocking. Tapi untuk scoring, kita mengikuti alur. Kalau suasana tegang, kita pakai musik tegang, supaya penonton bisa terhanyut," ucap Aghi yang merupakan lulusan Art Institute of Seattle jurusan Audio Production (Sound engineering) ini. 

Untuk penggarapan lagu, Aghi menggandeng Zeke Khaseli dan band barunya Mantra, grup musik SORE, Notturno, dan Tika and The Dissidents. 

Mantra yang di antaranya terdiri dari Zeke "Zeke And The Popo" Khaseli, Emil "Naif", dan Anda "Bunga" ini, membawakan 4 lagu untuk "Pintu Terlarang". Masing-masing berjudul "Why", "Please, Operator, Please", "Blessed The Tainted Hearts", dan "Baby, Baby". 

"Intinya semua love songs, tapi liriknya disesuaikan sama bahasa-bahasa tahun 50an. Waktu itu kan bahasanya puitis-puitis bersih, innocent. Misalnya, kata Please diulang dua kali. Musiknya early Beattles lah," ucap Zeke, Senin (19/1).

Lagu "Why" bercerita tentang seorang laki-laki yang bermimpi. Dalam mimpi itu, ia seakan disambut oleh suasana karnaval yang indah. Bahkan, ia sudah cukup bahagia walau hanya bermimpi. Sedangkan "Blessed The Tainted Hearts", bercerita tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mendapat banyak rintangan. "Walaupun susah, tapi mereka tau apa yang mereka mau. Dan mereka akhirnya sama-sama ngejalanin itu," kata Zeke. 

"Baby, Baby" yang diciptakan oleh Emil "Naif", sebenarnya diciptakan untuk anak Emil. "Feelingnya Emil waktu itu, dia lagi ada di panggung, dan di tonton anaknya. Dia juga enggak kebayang kalau nanti anaknya gede bakal kayak gimana ya rasanya," ucap Zeke berseloroh.

Sedangkan pilihan lagu terunik jatuh pada "Please, Operator, Please". "Konsep lagunya memang weird, kayak twilight zone gitu," ujarnya. Layaknya film yang dibintangi oleh Jim Carrey, "The Truman Show", lagu ini bercerita tentang seseorang yang tidak menyadari kalau dirinya berada dalam setting. "Kalo jaman dulu kan mau nelfon harus disambung lewat operator, nah dari situlah lagu ini tercipta, saat orang itu mau nelfon pacarnya," ungkap Zeke. 

Selain Zeke dan Mantra, musisi lain yang kebagian peran signifikan adalah grup band SORE. Grup yang sudah menelurkan 2 album ("Centralismo" dan "Ports of Lima") ini menciptakan 3 lagu untuk "Pintu Terlarang". Lagu tersebut adalah "Nancy Bird", "Merry Mist", dan "Lullaby Blues". 

"Awalnya kita bikin 2 versi, nuansa yang kental sama tahun 20-an dan 60-an," kata vokalis sekaligus gitaris SORE, Ade Firza Paloh. Untuk kiblat pengerjaan ketiga lagu ini, mereka paling banyak terinspirasi dari musik Englebert Humperdinck dan Al Gouly. Di antara ketiganya, mereka paling terbuai dengan nuansa yang dihadirkan harmoni "Merry Mist". 

"Merry Mist memang gila banget. Nuansanya hangat, kekeluargaan, dan romantis. Itu menantang karena kita harus bikin lagu yang berdurasi 10 menit tapi enggak diulang-ulang. Akhirnya kita gabung sama saxophone yang panjang dan string section," ucap gitaris yang lain, Reza Dwiputranto. Dan lagu yang ter-influence dari Bing Crosby dan Nat King Cole ini memang ampuh mendampingi adegan klimaks dalam "Pintu Terlarang". 

"Nancy Bird" bercerita tentang keputusasaan seseorang yang hanya bisa melihat penderitaan dari jauh. "Waktu itu yang ada di kepala gue waktu nyiptain ini adalah suasana sub-urban, inspirasinya dari Al Gouly," ucap Ade, yang juga berperan sebagai salah satu karakter dalam "Pintu Terlarang" ini. Sedangkan "Lullaby Blues", bercerita tentang seseorang yang memutuskan untuk meninggalkan apa yang dimiliki, demi bersama dengan seseorang. 
After all, komposisi yang ada dalam musik "Pintu Terlarang" menjadikan film ini elegan dan stylish. Satu paket apik yang urung terbantahkan. (Endah Asih)***

1/18/09

Can Slumdog Became a Millionaire? Why Not?

KEMENANGAN film Bollywood "Slumdog Millionaire" di ajang Golden Globe 2009 menyisakan catatan menarik. Film yang bersetting tentang kehidupan di Mumbai, India ini, mampu mengalahkan prediksi kuat kemenangan "Revolutionary Road" dan "The Curious Case of Benjamin Button". Bagaimana bisa?

Dibesut oleh sutradara berkebangsaan Inggris yang populer lewat "Trainspotting" dan "The Beach", Danny Boyle, film ini memang terbilang istimewa. Cerita dan setting yang membumi, menampilkan wajah polos perkampungan kumuh di India. 

Film adaptasi novel ini berkisah tentang seorang anak berusia 18 tahun, Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas "Who Wants To Be Millionaire" versi India. Jamal yang dibesarkan di jalan, terbilang beruntung. Ia bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, untuk mendapat hadiah utama, 20 juta rupee. 

Kisah satire ini berlanjut ketika Jamal kemudian ditangkap polisi karena dicurigai bertindak curang. Ia disiksa sambil dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Namun, siapa sangka kalau pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, justru membuka luka lama di benak Jamal.

Sepintas, gaya indie yang terlihat mempengaruhi film ini mengingatkan pada film sejenis "Juno" dan "Little Miss Sunshine" yang sudah lebih dulu disambut baik oleh pasar. Penonton diajak tertawa dengan kepolosan adegan dan gaya tutur. Sederhana, segar, dan menghibur.

Lewat "Slumdog Millionaire", Boyle seakan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arti kemapanan dari sudut pandang anak terlantar. Lewat twist kisah hidup Jamal, penonton seolah diajak untuk berempati. Film yang juga dibintangi oleh Shah Rukh Khan ini, juga menyentuh sisi humanis, ketika baik disadari atau tidak, sikap sinis sudah sedemikian erat bergelayut di kalangan mapan, dengan menepikan masyarakat kelas bawah.

Simak saja dialog ketika sang pembawa acara kuis menyepelekan kemampuan Jamal saat kuis berganti iklan. Atau saat ia melontarkan sindiran, "Get along with 100 dollar bills of your life?" ketika pertanyaan sampai pada topik mengenai tokoh yang ada dalam uang 100 dollar AS. Ya, cerita polos seperti bagaimana Jamal kecil bisa mendapatkan tanda tangan sang idola, Amitabh Bachchan, juga merupakan satire yang teramat menggelitik.

Kalaupun ada satu keanehan yang mengganggu sepanjang film, barangkali adalah ketika Jamal sampai pada pertanyaan terakhir, detik-detik menentukan apakah ia akan menjadi milyuner, atau kembali ke jalan. Jamal yang buta huruf latin, tiba-tiba bisa membaca sederetan pertanyaan. Namun terlepas dari itu, "Slumdog Millionaire" tetap segar dan menyenangkan.

Dan memang, nuansa segar dan menyenangkan tersebut belum bisa ditandingi oleh besutan sutradara David Fincher, "The Curious Case of Benjamin Button". Walaupun sebenarnya, "The Curious Case of Benjamin Button" ini memiliki lebih dari harapan penonton terhadap sebuah film berkualitas. 

Plot yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini, bercerita tentang seorang bayi yang dilahirkan dengan wajah renta. Namun seiring berjalannya waktu, ia berangsur-angsur menjadi muda. Benjamin (Brad Pitt), anak tersebut, mengalami kebalikan pertumbuhan orang normal. 

Naskah film ini sendiri, dikerjakan oleh Eric Youth, yang pernah menggarap "Forrest Gump". Sedangkan deretan pemain sudah terkesan "sangat aman". Sebut saja nama seperti Brad Pitt, Cate Blanchett, hingga Tilda Swinton yang menjadi jaminan.

Menggunakan teknik animasi motion capture canggih Contour System (CS), Fincher mampu menyulap metamorfosis wajah Pitt. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil wajah Pitt dari segala sudut pandang dan ekspresi, mengolahnya sesuai kebutuhan adegan, dan menempelkan wajah hasil kreasi tersebut di tubuh Pitt. Hasilnya luar biasa, akting Pitt tetap bisa dinikmati walau ia berwajah remaja, atau renta sekalipun. 

Keindahan film ini memang mengangkat memori terhadap film sejenis "Forrest Gump", elegan dan menarik. Sayangnya, hal tersebut masih belum mampu menandingi gaya "indie" yang diusung Boyle dalam "Slumdog Millionaire". Terlebih, ending film yang mudah ditebak dalam "The Curious Case of Benjamin Button", kurang memicu rasa penasaran penonton. 

Sedangkan "Revolutionary Road" yang kembali mempertemukan pasangan emas "Titanic", Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet sebagai kekasih, tampaknya harus kalah pamor. Padahal, film ini sekaligus menjadi pencapaian akting Di Caprio-Winslet yang nyaris sempurna. 

Film dengan setting yang setia terhadap novel karya Richard Yates ini, bercerita tentang konflik ketidakcocokan dan ketidakpuasan dalam rumah tangga. Cinta dan toleransi, toh masih bisa terkalahkan ketika idealisme mengatakan lain. Ego dan ambisi April (Kate Winslet) dan Frank Wheeler (Leonardo Dicaprio), menciptakan pertengkaran demi pertengkaran yang menjadi pukulan telak kehidupan rumah tangga. 

Nafas drama yang kental mewarnai film berdurasi 119 menit ini, juga mengisahkan cerita yang membumi. Namun, tak terlalu banyak kejutan yang mampu ditawarkan. Pamor pertautan emosi Di Caprio dan Winslet yang mengagumkan, tetap sulit diimbangi oleh kepolosan wajah Dev Patel yang berperan sebagai Jamal dalam "Slumdog Millionaire". 

Dan ya, kualitas prima sebuah film memang bisa diharapkan dari film mapan seperti “The Curious Case of Benjamin Button” dan “Revolutionary Road”. Namun, apapun bisa terjadi. Lewat kemenangan “Slumdog Millionaire” dalam ajang pemanasan Oscar ini, elegansi dan kemapanan kualiatas rupanya belum menjadi jaminan. Justru film berbudget rendah dan plot polos nan membumi, bisa mencuat ke permukaan. Gejala apakah ini? ***

Way to Road of Revolutionary

PERNAH dilanda kejenuhan hebat akibat rutinitas yang selalu berputar? Berbagai upaya memang kerap dilakukan untuk menghalau. Tujuannya jelas, memperoleh kembali tantangan untuk sekedar meningkatkan adrenalin. Bahkan, bisa mendapat percikan gairah menjalani hidup. Merasa bebas, dan bersemangat.

Jika iya, tenang saja, anda tak sendiri. Pasangan emas Leonardo di Caprio dan Kate Winslet dalam "Revolutionary Road", menemani anda. Salah satu nominasi film terbaik Golden Globe 2009 ini, sengaja mengantarkan permasalahan tersebut.

Intinya tantangan. Ya, mereka membutuhkan tantangan. Sesuatu yang baru. Selama ini, hidup memperlakukan mereka dengan baik. Rutinitas yang menampilkan kemapanan. Namun rupanya, itu belum cukup. 

Frank (Leonardo Di Caprio) dan April Wheeler (Kate Winslet) adalah pasangan suami istri yang sudah memiliki 2 anak. Sedikit flashback, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Selanjutnya bisa ditebak, pasangan yang memiliki karakter sama kuatnya ini terlihat seperti pasangan bahagia. Muda dan bergairah. Semua sempurna.

Tapi tunggu dulu. Tak semua hal yang terlihat baik-baik saja di permukaan, menyimpan geliat hal yang sama. Mereka punya satu masalah besar: rutinitas sehari-hari yang menimbulkan kebosanan, menjadi kerak persoalan. Tak ada lagi hal baru yang menantang. Semua datar.

Hingga akhirnya, April mendapat ide baru. Semangatnya kembali bergelora. Ia pun membujuk suaminya, untuk memuluskan rencananya. Pergi ke Paris, memulai sesuatu yang baru. Tantangan hidup jelas menganga lebar. Seketika, pasangan ini tampak seperti pertama kali berkenalan. Tak ada lagi adu mulut panjang. Pun sikap dingin di meja makan. Semua baru.  

Sayangnya, rencana mereka terganjal dua hal. Kehamilan April dan promosi Frank di kantor. Sanggupkah mereka melepas segala kemapanan, demi suatu tantangan baru yang sudah ada di depan mata?

"Revolutionary Road" memang bukan kisah cinta sederhana dengan konsep happily ever after. Sutradara kelahiran Berkshire, Inggris - yang juga suami Winslet - Sam Mendes, jelas menghadirkan realisme kehidupan rumah tangga. Semua tampak nyata.

Sutradara yang sebelumnya sukses menggarap "American Beauty" (1999) ini, membidik sisi kelam persoalan rumah tangga. Percampuran ego dua orang dalam kemasan pernikahan, memang menyisakan sekelumit masalah. Seperti sosok April, yang masih berambisi untuk menjadi aktris. Atau Frank, yang berambisi untuk bebas, tak terikat dengan peraturan baku perusahaan. 

Terlebih, mereka tidak hanya disibukkan dengan percekcokan internal rumah tangga. Faktor tetangga dan teman kantor, juga menjadi bumbu cerita tersendiri, dan menarik. Selain itu, ada perselingkuhan. 

Mendes detail menyampaikan permasalahan itu. Betapa cinta dan kompromi tidak mampu menghalau masalah yang timbul. Tentunya, hal itu jadi pukulan telak bagi setiap perjalanan rumah tangga yang tak mampu bertahan.

Bicara tentang penokohan, unsur Di Caprio-Winslet tentu tak bisa ditepikan. "Revolutionary Road" bukan hanya ajang reuni mereka seperti 11 tahun lalu dalam "Titanic". Film berdurasi 119 menit ini, merupakan ajang pencapaian akting mereka yang nyaris sempurna. Tak lagi menampilkan kesan imut-imut seperti Rose-Jack dalam "Titanic", kini mereka menampilkan akting yang lebih matang. 

Bahkan kalau Winslet membawa pulang trofi Golden Globe untuk perannya sebagai April, itu memang layak. Winslet berhasil bertransformasi menjadi April yang kuat, ambisius, sekaligus rapuh. 

Dan akhirnya, skenario yang matang, menampilkan "Revolutionary Road" yang menggetarkan. Walaupun dibungkus dengan banyak dialog panjang, film adaptasi novel Richard Yates toh tetap asyik disaksikan. Memotret Sarana untuk memotret kehidupan realistis yang bisa dihadapi dalam rumah tangga, hingga kontemplasi. ***

Under The Old Tree

KETIGA perempuan itu punya kisah berbeda. Perempuan pertama, 27 tahun, terduduk lemas di kursi belakang taksi, simbol kemapanan kaum urban. Dia mencari ibu yang membuangnya di waktu kecil. Perempuan kedua, 40 tahun, berdiri lemas menahan rasa sakit teramat sangat. Sakit itu bersumber dari rahimnya, janin yang dikandung. Sang janin divonis terkena Anchepalus. Perempuan ketiga, lebih eksplisit. Dia lemas karena sosok yang dipujanya tak juga memberi perhatian balasan. 

Perempuan pertama adalah Maharani (Marcella Zalianty). Perempuan kedua adalah Dewi (Ayu Laksmi). Dan perempuan ketiga adalah Nian Priyatna (Bella Saphira). Oleh sutradara Garin Nugroho, kisah ketiganya diuntai dalam bentuk fiksi berdurasi 107 menit, "Under The Tree". 

Sebelum diputar reguler untuk publik, Kamis (8/1), gaung yang terdengar dari film ke-10 Garin tersebut sudah kencang berhembus. Sejak pertengahan 2008, "Under The Tree" sudah melakukan roadshow internasional, dari festival ke festival. 

Pada Tokyo Film Festival 2008, "Under The Tree" berhasil masuk kategori International Competition Selection. Lalu film ini ikut serta dalam beberapa festival film internasional lain seperti Toronto International Film Festival 2008, Vancouver International Film Festival 2008, London International Film Festival 2008, Jakarta International Film Festival 2008, dan berikutnya akan tampil dalam International International Film Festival 2009. Sementara pada FFI 2008, "Under The Tree" membawa pulang 2 trofi, dari 9 nominasi yang disabet.

Sederet pengalaman festival tersebut, tentu bukan tanpa alasan. Kekayaan budaya pulau Dewata dieksplor dengan cara tak biasa. Di tangan Garin, Bali tak hanya ditampilkan dalam bungkus pariwisata benderang, melainkan eksotisme yang menampilkan daya magis tak terhingga.

Tak tanggung-tanggung, Garin memvisualisasikan adegan Calonarang, dramatari ritual magis yang bercerita tentang kematian. Di Bali, prosesi tradisional ini masih tergolong "angker". I Made Bandem dan Frederik Eugene deBoer dalam "Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition" (1981), sempat menjuluki Calonarang sebagai "magic dance of the street and graveyard".

Tokoh utama prosesi tari Calonarang, adalah seorang balian, atau setidaknya orang yang paham dunia supranatural. Untuk melakoni adegan yang diambil di Pura Puseh Tegalsuci-Gianyar tersebut, Garin menggandeng grup Sandhi Muti pimpinan I Gusti Ngurah Hartha. Tokoh utama tari tersebut, adalah dramawan dan penulis skenario, Ikranegra. 

Namun, sukses di kancah festival dan diperkuat deretan pemain mumpuni bukan berarti menjadi jaminan sukses di mata penonton lokal. Nyatanya, dari hasil penjualan tiket di dua bioskop di Jakarta pada hari pertama pemutaran, "Under The Tree" hanya membukukan angka penonton yang bisa dikatakan tak spesial. "Di dua bioskop di Jakarta, baru ada 318 penonton, masing-masing 144 penonton dan 174 penonton," kata Rani Yunanda, perwakilan SET Films, rumah produksi dimana "Under The Tree" bernaung. 

Di Bandung sendiri, film yang baru diputar di Blitz Megaplex Parijs Van Java (PVJ), meraih angka penonton yang kurang menggembirakan. Sebagai contoh, pada hari kedua pemutaran, Jumat (9/1), hanya ada 3 tiket yang terjual di jam pemutaran pertama. Di Blitz Megaplex PVJ, "Under The Tree" diputar dalam 4 kali penayangan.

Dan memang, menyaksikan karya milik Garin, berarti memilih untuk bermain dalam dunia simbolis. Simbolis dalam bertutur, pun visualisasi adegan, ketika realisme sosial bercampur mitos. Namun secara sederhana, lewat "Under The Tree", Garin mencoba untuk mempersoalkan krisis lingkungan, yang bersumber dari krisis sosial. 

Krisis sosial sendiri, bersumber dari individu. Lebih jauhnya lagi, janin dan persemaian. Maharani yang malah mendapat lebih banyak pertanyaan ketika mencari jawaban. Dewi yang harus memilih di antara melakukan aborsi atau melahirkan, ketika mengetahui anaknya kelak akan lahir tanpa otak dan tulang tengkorak. Atau Nian yang mendambakan sosok paternal yang kemudian menjadi terobsesi. 

Mereka bertemu dengan tiga lelaki aneh lain. Mayun (Dwi Sasono) yang juga memendam kebencian pada ibunya, Darma (Ikranegara) yang kehilangan masa lalunya sebagai orang Bali, dan Kaler (I Ketut Rina) yang hebat di panggung, namun sulit untuk mengungkapkan perasaannya di kehidupan nyata. 

Alur yang lambat, simbolisasi budaya yang dapat dimaknai secara luas, mitos magis dan tak lupa alam Bali, memang menyuguhkan tontonan kualitas ala festival. Namun, bisakah film ini diinternalisasikan dalam benak penonton secara lugas? Belum tentu. ***

Ketika Pembunuhan Ditingkahi Logika Berhitung

BAGAIMANA jadinya jika urusan pembunuhan disangkutpautkan dengan teorema yang ada di balik ilmu pasti seperti matematika? Rumit, bisa jadi. Namun dalam satu film arahan sutradara berkebangsaan Spanyol Alex de la Iglesia bertajuk "The Oxford Murders", pengungkapan kasus pembunuhan menjadi metode penemuan jati diri, bahkan pencapaian. 

Berlatar tembok angkuh kampus Oxford pada 1993, seorang mahasiswa Amerika, Martin (Elijah Wood), pindah ke Oxford untuk melanjutkan kuliah. Martin yang tertarik dengan seluk beluk filsafat, memilih rumah keluarga Eagleton untuk ditinggali selama kuliah. Dalam rumah tersebut, tinggal janda Eagleton (Anna Massey) dan anak semata wayang mereka, Beth (Julie Cox). 

Tak sembarang memilih rumah untuk ditinggali, Martin sebenarnya menyimpan maksud tertentu. Yakni untuk lebih mendekatkan diri terhadap obsesinya, dosen senior Oxford, Arthur Seldom (John Hurt). Keluarga Eagleton sendiri, berteman baik dengan keluarga Seldom.

Martin yang amat tertarik dengan pemikiran Seldom, terus mencari cara agar bisa bertatap muka. Lebih lanjut, ia menginginkan Seldom untuk menjadi pembimbing thesis. Salah satu pemikiran Seldom yang mengusik Martin adalah, kematian dunia filosofi. Alasannya klasik, tak ada yang sepasti matematika. 

Suatu hari, mereka berdua terjebak dalam satu kasus pembunuhan. Mrs Eagleton ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Petunjuk pertama yang ditinggalkan sederhana, sebuah anagram lingkaran. 

Pembunuhan kedua menyangkut nyawa rekan sejawat Seldom, Prof. Kalman (Alex Cox) yang kehilangan anggota tubuh akibat kanker ganas. Namun, sang pembunuh salah sasaran. Yang terbunuh adalah teman sekamar Kalman. Petunjuk kali ini, kurva lengkung bersinggungan. Dibantu teman dekat Martin yang merupakan seorang perawat, Lorna (Leonor Watling), mereka berupaya menemukan makna pembunuhan tersebut.

Sepintas, film dengan nuansa seperti ini pernah didapat dalam "Conspiracy Theory" (Richard Donner, 1997) dan "The Da Vinci Code" (Ron Howard, 2006). Tema cerita yang dikemas dalam sebuah "versus story" menarik. Menjelajah kemungkinan filosifis versus matematis. Wittgensteinian versus logika serial-matematis. Dan persinggungan tersebut, dimunculkan untuk menguak pembunuhan yang dianggap terpola. 

Film ini memakan waktu syuting sekitar 3 bulan, sejak 22 Januari-24 Maret 2007, mengambil lokasi di Universitas Oxford, Inggris, Museum Victoria dan Albert di London, dan Pengadilan Cast Courts. 

Seperti "The Da Vinci Code", film ini diadaptasi dari sebuah novel. Novel berjudul sama yang ditulis oleh pria berkebangsaan Argentina, Guillermo Martinez. "The Oxford Murders" sendiri merupakan film produksi bersama tiga negara, Inggris, Perancis dan Spanyol. Sebelumnya kencang berhembus kabar, bahwa Iglesia memasang Elijah Wood melalui pertimbangan panjang yang dilakukan oleh pihak Tornasol Films yang memproduksi film ini. Sebelum memutuskan memasang Wood, Alex sempat melirik Gael Garcia Bernal, aktor terkenal Spanyol untuk peran utama. 

Sayangnya pilihan Iglesia memasang Wood dinilai tak terlalu tepat. Sorot mata Wood yang tajam tak diimbangi oleh gerak tubuh karakter yang seharusnya diperankan. Kecerdasan Martin tampaknya tak terlalu bisa dipancarkan secara paripurna oleh Wood. Biasanya, aktor yang berhasil melakoni peran semacam ini adalah Matt Damon dan Leonardo Di Caprio.Untungnya, Wood yang sebelumnya sukses berperan sebagai Hobbit di trilogi "The Lord of The Ring" bisa memancarkan hasrat ingin tahu besar, sehingga tak terlampau mengecewakan. 

Kegemilangan akting justru ditunjukkan oleh aktor gaek John Hurt. Walaupun peran Hurt tak terlalu menonjol dalam "V For Vendetta", "Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull", "Hell Boy", atau bahkan "Harry Potter and the Sorcerer's Stone". 

Alur yang sebagian besar twisted, membuat penonton dibuat bertanya-tanya hampir sepanjang film. Menarik untuk ditelusuri. Namun plot yang terkadang lambat ditambah dengan rumitnya persamaan matematika, membuat kening harus berkerut. Tapi tak apa. Toh hiburan pun juga bisa didapat dengan mendapatkan buncah konspirasi yang didapat dari dialog Seldom-Martin.

Semangat mencari tahu yang tak kenal lelah dan pemikiran cerdas, tentu menjadi bumbu cerita. Ditambah lagi, romantika kisah percintaan segitiga antara Martin-Beth-Lorna cukup menentukan arah cerita. Bagaimana "The Oxford Murders" mengakhiri kisahnya? Misteri apa yang hendak menyeruak di balik kisah pembunuhan tersebut? Film ini diputar secara reguler mulai 7 Januari 2008. ***