KALIMAT yang dituding dari mulut seorang lelaki tak dikenal di sebuah klinik aborsi, mengguncang benak Gambir. Saat itu, ia mengantar calon istrinya Talyda, menggugurkan kandungan. Sejak saat itu, ia dihantui oleh masa-masa kelam tak berkesudahan.
Sosok Gambir adalah Fachri Albar, dan Talyda adalah Marsha Timothy. Dalam dunia surealis yang dikonstruk oleh sutradara muda Joko Anwar, kehidupan mereka diciptakan melalui "Pintu Terlarang".
Gambir, adalah seorang seniman introvert. Hidupnya sempurna. Keluarga yang hangat, karir yang cemerlang, sahabat yang solid, dan satu lagi yang sempurna, istrinya yang cerdas dan cantik, Talyda. Namun siapa yang sangka, kalau di balik itu, Gambir menyimpan banyak penat. Kesempurnaan itu hanya ada di atas permukaan.
Di lain adegan, pameran patung yang diselenggarakan Gambir sukses besar. Kali ini bukan sembarang patung. Patung perempuan hamil yang dibuat Gambir. Patung itu serasa memiliki ruh, sebuah pencapaian estetika yang tinggi.
Istrinya Talyda yang manipulatif, terus mendorong Gambir untuk menghasilkan patung perempuan hamil. Begitu juga dengan pemilik Galeri, Koh Jimmy yang terlanjur kepincut dengan karya Gambir. Alasannya singkat, ia suka patung buatan Gambir dan mencium raupan keuntungan dari situ.
Hingga suatu saat, Gambir mendapat teror berupa pesan aneh. Bunyinya sederhana, dua kata "Tolong Saya". Ternyata, pesan itu dari seorang anak kecil misterius yang disiksa secara sadis oleh orang tuanya. Gambir seakan terobsesi, untuk menolong.
Kepenatan dalam otak Gambir semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa Talyda menyimpan suatu rahasia. Ada satu pintu bercat merah di belakang dinding bengkel kerjanya. Pintu itu ditutupi sebuah lemari kayu besar. Saat hendak dibuka, Talyda muncul sambil menatap Gambir, nanar.
“Kamu ingat ya Gambir. Pintu itu adalah pintu yang terlarang. Sekali kamu buka, semua yang kita telah bina selama ini akan hilang. Sekali kamu buka, hidup kita akan berakhir. Hidup kamu akan berakhir," ancam Talyda.
Potongan-potongan adegan tersebut sepintas membingungkan. Terutama, untuk menguraikan simpul-simpul cerita, dan kemana cerita itu akan berujung. Dalam versi novel berjudul sama garapan Sekar Ayu Asmara, cerita itu memang dibagi menjadi 3 plot.
Plot pertama tentang seorang anak berusia 7 tahun yang mendapat siksaan fisik dan mental dari kedua orang tuanya. Plot kedua tentang hidup Gambir yang sempurna. Plot ketiga tentang seorang jurnalis obsesif bernama Pusparanti. Di sinilai kepiawaian Joko Anwar untuk mentransformasikan buku ke dalam media film, harus teruji.
Tak seperti versi novel yang baru mendapat ruh di setengah cerita terakhir, versi film garapan Joko sudah menampilkan simpul menarik sejak awal. Dibalut opening yang unik dan elegan, Joko mengaduk emosi penonton lewat twist hidup Gambir.
Menyaksikan opening film, siapa saja bisa terhenyak. Nampaknya Joko sadar benar, opening adalah bagian krusial. Bagian yang menyisakan kesan mendalam di benak penonton dengan kekaguman atau sebaliknya. Dan ia berhasil dengan baik.
Plot yang ditampilkan sebelum opening credit, mampu menjadi nyawa tersendiri. Kesan artistik, elegan, dan berkelas muncul lewat dialog, penggambaran karakter secara tuntas, dan sinematografi jempolan.
Pesan yang ingin diguratkan sebenarnya cukup jelas. Kekerasan terhadap anak akan terus membekas, menghasilkan kelakuan minor yang terus ada hingga dewasa.
Untuk membuat detail makro gambar, Joko menggunakan kamera film 35mm ARRICAM ST. Proses post-production dilakukan melalui proses Digital Intermediate (DI), yaitu proses untuk memperkaya warna melalui high definition digital medium sebelum kembali ditransfer ke film selluloid 35mm. Tak hanya itu, "Pintu Terlarang" diperkaya dengan tata audio Dolby Digital Surround EX.
Dukungan perangkat memang menjadi keunggulan tersendiri. Simak saja adegan ketika Gambir mengejar sang anak misterius di lorong. Tata cahaya, angle pengambilan gambar, scoring, dan sinematografi yang menciptakan perpaduan memuaskan.
Tak hanya itu, Joko memboyong kru yang sudah membuatnya klik dalam film sebelumnya, "Kala". Penata musik Aghi Narottama, penata sinematografi Rachmat Syaiful, dan penata artistik Wencislaus. Bahkan, untuk pengerjaan scoring dan lagu soundtrack, Aghi menggandeng band SORE, Zeke Khaseli, Anda, dan Emil "Naif". Dengan begitu, kesan nuansa musik yang dihasilkan sudah bisa dibayangkan, bukan?
Sesungguhnya, "Pintu Terlarang" menjadi film yang "membuka" 2009 dengan baik. Thriller dewasa dalam bentuk crime-violance-sex-obsessive-conspiracy, merupakan movie-going experience yang akan meninggalkan kesan mendalam. Dan akhirnya, satu kata terakhir untuk "Pintu Terlarang", classy. (Endah Asih)***
