IKLIM misteri dan ketegangan yang dibangun dalam dramaturgi berbalut petualangan pendaki gunung, barangkali sudah menjadi sepenggal cerita usang. Namun dalam film panjang pertama sutradara Affandi Abdul Rachman, kisah ini bak penyejuk bagi tema film lokal yang didominasi oleh cerita berbau seksualitas dan horor.
"Pencarian Terakhir" tak sepenuhnya terlepas dari horor, memang. Tubuh utama cerita dibumbui oleh nuansa mistis yang menegangkan. Kalau anda suka suasana yang mampu dibangun oleh film"Jelangkung" berupa kelebatan sosok misterius dan penampakan parsial, bisa jadi anda terbuai dengan film yang mulai diputar di bioskop sejak Kamis (20/11) ini.
Daya pikat pegunungan yang penuh dengan petualangan, maskulinitas, kerja sama absolut, disiplin, dan mitos yang menyertai, menjadi jiwa tersendiri. Hal itu pulalah, yang membuat banyak orang selalu kembali, untuk menaklukan pegunungan.
Berawal dari gambar usang tanda alur bergerak mundur, "Pencarian Terakhir" berkisah mengenai kakak beradik Gancar (Tesadesrada Ryza) dan Sita (Richa Novisha) yang sama-sama memiliki hobi mendaki gunung. Suatu hari, Gancar dan 5 temannya mendaki gunung Sarangan. Karena terlalu asyik berada di puncak gunung sambil menenggak minuman keras, mereka terlambat turun. Hari yang semakin gelap, membuat mereka kehilangan petunjuk untuk pulang. Mereka tersesat di lembah gunung.
Sita, kakak Gancar, yang mengetahui kabar tersebut dari laporan tim SAR, langsung memutuskan untuk menjadi relawan dan melakukan pencarian. Bersama 2 temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos), Sita memulai pencarian. Mereka mengajak serta Tito (Lukman Sardi), yang selama 5 tahun absen mendaki gunung. Tito memendam rasa traumatis terhadap gunung Sarangan karena pernah tersesat. Waktu itu, Tito sempat kehilangan sahabatnya, Norman (Mike Muliardo), secara misterius.
Medan hutan hujan tropis dengan cuaca yang tidak menentu mempersulit pencarian. Belum lagi, mitos dan unsur mistis yang bergelayut dalam gunung Sarangan. Alhasil, tim SAR memutuskan untuk menghentikan pencarian. Lalu, bagaimanakah nasib Gancar dkk?
"Vertical Limits" dan "Cliffhanger" barangkali menjadi sedikit acuan, untuk film dengan tema cerita seperti ini. Untungnya oleh sutradara Affandi Abdul Rachman, "Pencarian Terakhir" mampu diadaptasi secara lokal dengan lumayan natural. Sebelumnya, sutradara lulusan Columbia College Laude ini pernah menggarap film pendek, "Paranoid" dan "Phoenix".
Lokasi gunung Sarangan yang namanya diciptakan secara fiktif, diambil di daerah Situ Gunung, Sukabumi. Setting tempat dan iringan musik depresif mampu membangun ketegangan demi ketegangan sejak awal cerita. Dialog natural juga tak jarang mengundang senyum. Mayoritas adegan terasa ringan, tanpa harus banyak mengerutkan kening. Pesan cerita berupa persahabatan, kemampuan bertahan, dan pelajaran mendasar bagi pendaki gunung, mampu disajikan dengan mengalir.
Namun sub plot yang ditampilkan tampaknya terlalu asyik dieksplorasi. Sehingga, alur cerita utama tak mampu terjaga dengan baik. Tak ada kemampuan teknis yang menguatkan sebagai pendaki gunung, dan penaklukan terhadap alam liar, menjadi minus tersendiri. Karakter Sita yang terlihat dingin dan tak acuh, tampak kontradiktif dengan sifat pendaki gunung yang umumnya reaktif. Dalam satu adegan bahkan terlihat, Sita terlalu asyik hingga melupakan Tito yang tengah berjuang menghindari jatuh ke lembah. (Endah Asih)***
---
Sutradara : Affandi Abdul Rachman
Skenario : Syamsul Hadi
Pemain : Lukman Sardi, Yama Carlos, Alex Abbad, Richa Novisha
Produksi : Vandea
11/24/08
11/20/08
Room Mate
BICARA tentang film Iran, tak heran jika pikiran langsung tertuju pada tema kekerasan. Minimal, dampak kekerasan akibat intervensi rezim Taliban mampu menyisakan bekas. Sebut saja deretan film seperti "Baran", "Osama", "Children of Heaven", "The Kite Runner", "Kandahar", atau bahkan "Turtles Can Fly". Namun tak demikian halnya dengan film yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Mehrdad Farid, "Room Mate (Hamkhaneh)" yang menjelma sebagai titisan film bertingkah kontemporer.
Diawali dengan adegan Mahsa (Bita Saharkhiz) yang berjalan di lorong sekolah sambil meyakinkan para dosen, penonton langsung diarahkan untuk menyimpulkan karakter Mahsa. Mahsa adalah seorang perempuan yang pantang menyerah, obsesif, dan cenderung pemaksa. Karena kehilangan tempat tinggal, Mahsa terpaksa mencari tempat tinggal lain untuk tiga bulan ke depan, hingga ia lulus. Dengan uang seadanya dan tak bisa mengharapkan bantuan dari sang Ayah, apa yang bisa Mahsa perbuat?
Mahsa yang tak kehilangan akal, menyambut baik ide teman kerjanya untuk menjaga rumah seorang wanita tua, Fakhri. Sayangnya, Fakhri memberikan satu syarat mutlak, orang yang boleh menjaga rumahnya hanya pasangan yang sudah menikah. Mahsa pun repot mencari seorang lelaki untuk diajak berpura-pura menjadi suaminya, hingga ia bertemu Jamshid (Ali Reza).
Bersama Jamshid, Mahsa pun menciptakan kebohongan demi kebohongan. Taktik mereka berlangsung mulus, hingga Fakhri berangkat ke luar negeri. Mahsa yang terlanjur merasa bebas dan nyaman di rumah Fakhri, kelabakan ketika mengetahui Fakhri batal bepergian. Hal itu berarti, ia dan Jamshid harus lebih meyakinkan Fakhri, agar Mahsa tidak kehilangan tempat tinggal. Alhasil, mereka benar-benar harus hidup dalam satu atap, dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di sinilah cerita mulai berliku-liku. Di negara seperti Iran, dua orang yang tidak menikah namun hidup dalam satu rumah,merupakan permasalahan besar. Bagaimana Mahsa dan Jamshid yang harus berperan sebagai suami istri di hadapan orang lain, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, mampu mengulirkan cerita demi cerita.
Ide cerita "Room Mate" sebenarnya menarik. Bahkan bisa dikatakan sederhana. Karena jika tema "hidup seatap" diangkat oleh film lokal, barangkali akan terlihat biasa dan hambar. Namun ketika setting Iran yang mewakili, bisa berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Saking sederhananya, cerita melaju linier. Tak ada sub plot yang ditawarkan. Tak perlu banyak berpikir untuk menikmati film ini. Cukup duduk santai, penonton bisa tersenyum sesekali melihat tingkah polah Mahsa dan Jamshid.
Sayang, ide cerita tidak diikuti oleh penggarapan yang apik. Sinematografi seadanya, menjadi teman penonton hingga akhir cerita. Yang agak berbeda, adalah bagaimana sequence gambar-gambar diambil. Kameraman tampak mampu mengambil gambar dari sudut yang agak berbeda, tak terpikirkan sebelumnya. Dari situ terlihat, banyak hal yang sedang dieksplorasi. Layaknya film Indie.
Lewat cerita yang dibingkai dalam "Room Mate" pula, penonton diajak untuk melihat kehidupan Teheran masa kini. Banyak pula masalah sosial yang diperlihatkan. Sebut saja masalah seperti peredaran obat terlarang, pekerja seks komersil, hingga moral. Namun, permasalahan itu hanya ditimbulkan dalam porsi yang sangat kecil. Kalaupun ada yang konsisten diperlihatkan, adalah norma-norma yang selama ini dipegang oleh film ala Iran. Hal itu terlihat dari tak ada satu pun adegan sentuhan fisik antara Masha dan Jamshid, atau Masha yang selalu tampil berkerudung.
Walaupun sama sekali menepikan tragedi kemanusiaan seperti yang biasanya muncul pada film Iran, "Room Mate" tetap memiliki nuansa redup. Warna pastel yang mendominasi, membuat penonton sulit lepas dari stereotype film Iran. Kursi tua, deretan foto masa lalu, bahkan warna yang muncul pada mayoritas adegan film, sama sekali jauh dari nuansa kontemporer yang sebenarnya hendak dibidik.
Dan memang, ide cerita menjadi satu-satunya hal yang mampu menjadi komoditas film ini menjadi berbeda. Namun, jangan tanyakan bagimana Mahsa dan Jamshid menutup kisahnya. Saking terlenanya dengan alur lambat dan detail cerita yang ditampilkan, penonton bahkan tanpa sadar telah sampai pada akhir cerita. Tapi tenang saja, penonton diberi keleluasaan menafsirkan. (Endah Asih)***
Genre: Drama Komedi
Sutradara: Mehrdad Farid
Pemain: Bita Saharkhiz, Ali Reza Ashkan, Maryam Bubani
Durasi: 93 menit
Diawali dengan adegan Mahsa (Bita Saharkhiz) yang berjalan di lorong sekolah sambil meyakinkan para dosen, penonton langsung diarahkan untuk menyimpulkan karakter Mahsa. Mahsa adalah seorang perempuan yang pantang menyerah, obsesif, dan cenderung pemaksa. Karena kehilangan tempat tinggal, Mahsa terpaksa mencari tempat tinggal lain untuk tiga bulan ke depan, hingga ia lulus. Dengan uang seadanya dan tak bisa mengharapkan bantuan dari sang Ayah, apa yang bisa Mahsa perbuat?
Mahsa yang tak kehilangan akal, menyambut baik ide teman kerjanya untuk menjaga rumah seorang wanita tua, Fakhri. Sayangnya, Fakhri memberikan satu syarat mutlak, orang yang boleh menjaga rumahnya hanya pasangan yang sudah menikah. Mahsa pun repot mencari seorang lelaki untuk diajak berpura-pura menjadi suaminya, hingga ia bertemu Jamshid (Ali Reza).
Bersama Jamshid, Mahsa pun menciptakan kebohongan demi kebohongan. Taktik mereka berlangsung mulus, hingga Fakhri berangkat ke luar negeri. Mahsa yang terlanjur merasa bebas dan nyaman di rumah Fakhri, kelabakan ketika mengetahui Fakhri batal bepergian. Hal itu berarti, ia dan Jamshid harus lebih meyakinkan Fakhri, agar Mahsa tidak kehilangan tempat tinggal. Alhasil, mereka benar-benar harus hidup dalam satu atap, dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di sinilah cerita mulai berliku-liku. Di negara seperti Iran, dua orang yang tidak menikah namun hidup dalam satu rumah,merupakan permasalahan besar. Bagaimana Mahsa dan Jamshid yang harus berperan sebagai suami istri di hadapan orang lain, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, mampu mengulirkan cerita demi cerita.
Ide cerita "Room Mate" sebenarnya menarik. Bahkan bisa dikatakan sederhana. Karena jika tema "hidup seatap" diangkat oleh film lokal, barangkali akan terlihat biasa dan hambar. Namun ketika setting Iran yang mewakili, bisa berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Saking sederhananya, cerita melaju linier. Tak ada sub plot yang ditawarkan. Tak perlu banyak berpikir untuk menikmati film ini. Cukup duduk santai, penonton bisa tersenyum sesekali melihat tingkah polah Mahsa dan Jamshid.
Sayang, ide cerita tidak diikuti oleh penggarapan yang apik. Sinematografi seadanya, menjadi teman penonton hingga akhir cerita. Yang agak berbeda, adalah bagaimana sequence gambar-gambar diambil. Kameraman tampak mampu mengambil gambar dari sudut yang agak berbeda, tak terpikirkan sebelumnya. Dari situ terlihat, banyak hal yang sedang dieksplorasi. Layaknya film Indie.
Lewat cerita yang dibingkai dalam "Room Mate" pula, penonton diajak untuk melihat kehidupan Teheran masa kini. Banyak pula masalah sosial yang diperlihatkan. Sebut saja masalah seperti peredaran obat terlarang, pekerja seks komersil, hingga moral. Namun, permasalahan itu hanya ditimbulkan dalam porsi yang sangat kecil. Kalaupun ada yang konsisten diperlihatkan, adalah norma-norma yang selama ini dipegang oleh film ala Iran. Hal itu terlihat dari tak ada satu pun adegan sentuhan fisik antara Masha dan Jamshid, atau Masha yang selalu tampil berkerudung.
Walaupun sama sekali menepikan tragedi kemanusiaan seperti yang biasanya muncul pada film Iran, "Room Mate" tetap memiliki nuansa redup. Warna pastel yang mendominasi, membuat penonton sulit lepas dari stereotype film Iran. Kursi tua, deretan foto masa lalu, bahkan warna yang muncul pada mayoritas adegan film, sama sekali jauh dari nuansa kontemporer yang sebenarnya hendak dibidik.
Dan memang, ide cerita menjadi satu-satunya hal yang mampu menjadi komoditas film ini menjadi berbeda. Namun, jangan tanyakan bagimana Mahsa dan Jamshid menutup kisahnya. Saking terlenanya dengan alur lambat dan detail cerita yang ditampilkan, penonton bahkan tanpa sadar telah sampai pada akhir cerita. Tapi tenang saja, penonton diberi keleluasaan menafsirkan. (Endah Asih)***
Genre: Drama Komedi
Sutradara: Mehrdad Farid
Pemain: Bita Saharkhiz, Ali Reza Ashkan, Maryam Bubani
Durasi: 93 menit
Si Jago Merah
SEGAR dan berisi. Dua kata yang barangkali bisa tergambar dari drama komedi terbaru besutan sutradara muda Iqbal Rais, "Si Jago Merah". Ide manarik yang jarang dilirik, berupa suka duka kehidupan petugas pemadam kebakaran, coba dibidik dalam tampilan heroik yang lumayan menghibur.
Dimulai dari kesamaan nasib 4 orang mahasiswa yang kebetulan dikumpulkan dalam satu ruangan, kisah "Si Jago Merah" mulai bergulir. Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat Purwakarta yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dari Semarang, dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan. Mereka terancam drop out dari Universitas Merdeka, jika dalam waktu 3 hari tidak bisa membayar tunggakan uang kuliah 4 semester berturut-turut.
Dari situ, "Si Jago Merah" mulai memunculkan sub plot. Mereka menjual barang-barang yang mereka miliki agar dapat melunasi tunggakan. Alhasil, mereka harus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Satu per satu cara dijalani. Mulai dari pindah bersama ke rumah kontrakan yang dekat dengan kampus supaya bisa lebih mengirit pengeluaran, hingga mencari pekerjaan sampingan. Awalnya, mereka menjalani pekerjaan masing-masing. Namun, karena kelelahan usai bekerja, mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan lain.
Dengan pertimbangan profesi petugas pemadam kebakaran yang tidak memiliki banyak tugas sehingga punya banyak waktu santai, mereka memutuskan mencoba. Jalan itu mulai terbuka setelah Rojak berhasil membetulkan mesin sebuah mobil pemadam kebakaran yang bak tertidur panjang. Mobil keluaran 1975, bermesin 4.000 cc, bernama Si Jago Merah. Dengan tugas sebagai pemadam cadangan, mereka mulai menelusuri sisi unik yang ditawarkan dari profesi ini. Bersama Si Jago Merah, tentunya.
Orisinalitas ide yang makin sulit terjamah oleh film lokal kebanyakan, mampu ditemui dalam film yang penggarapannya dikerjakan oleh komposisi kru yang tak jauh berbeda dengan kru "The Tarix Jabrix" ini. Bahkan bisa dibilang, ide untuk menampilkan pemadam kebakaran sebagai bingkai utama, sangat menarik. Pemilihan ide tersebut bukan tanpa sebab, karena filosofi yang dikandung di balik profesi pemadam kebarakan. Sebuah profesi yang -sebenarnya- lebih diharapkan tidak bekerja. Namun ketika api berkobar, profesi ini menjadi satu-satunya ujung tombak.
Tak heran, jika kemudian yang muncul adalah sikap patriotisme. Sampai di sini, "Si Jago Merah" cukup asyik dinikmati. Tanpa perlu mengerutkan dahi, aksi empat mahasiswa yang memiliki karakter persahabatan ogah-ogahan tersebut, bisa disaksikan dengan santai. Humor yang ditawarkan segar, ringan dan lepas. Terlebih, empat karakter utama sengaja dipilih untuk mewakili latar belakang yang berbeda. Untuk penonton Jawa Barat, bisa jadi merasakan sisi kedekatan dengan sosok Dede. Tak terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dari segi penokohan, empat karakter utama terbangun dengan mulus. Rojak yang memiliki emosi mudah tersulut, Dede yang playboy, Kuncoro yang pasrah dan Gito yang naif. Bahkan, sub plot yang berusaha ditampilkan, cukup mampu mendukung alur utama. Sebut saja Kuncoro yang memiliki fobia terhadap ruang tertutup (Claustrophobia), atau Dede yang dikejar hutang oleh mantan pacarnya, Nola (Poppy Sovia).
Namun dengan adanya dramatisasi di sana sini, jangan berharap pada porsi drama yang besar. Karena sejak awal, sutradara menjaga genre film yang bernuansa komedi. Untungnya, umpan humor yang dilempar kepada penonton, seringkali disambut tawa renyah. Riset berupa data statistik seputar dinamika pemadam kebakaran, juga menjadi suguhan satire. Kondisi ideal yang seharusnya dimiliki sebuah daerah, hanya mampu dipenuhi setengahnya.
Sedangkan dari segi acting, tak ada yang teramat spesial. Keempat pemeran utama seolah tak bereksplorasi acting secara maksimal. Tak salah, tentu saja. Karena karakter yang ditawarkan juga terlihat tak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Positifnya, mereka seolah berperan secara natural. Scene dimana Judika (Indonesian Idol) menyanyikan lagu miliknya secara santai, mampu menimbulkan reaksi penonton. Terlebih, ketika Desta menyanyikan lagu "Dari Hati", disambut gelak tawa. Dari deretan pemain, tak sedikit cameo yang ditampilkan. Sebut saja Francine Roosenda, The Changcuters, Mpok Nori, hingga wakil Bupati Tangerang Rano Karno, lumayan menghibur.
(Endah Asih)***
Genre: Drama Komedi
Durasi: 90 menit
Produser: Chand Parwez, Hanung Bramantyo
Sutradara: Iqbal Rais
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's, Ytonk Club 80's, Judika, Poppy Sovia, Tika Putri, Indra Birowo, Sarah Sechan
Dimulai dari kesamaan nasib 4 orang mahasiswa yang kebetulan dikumpulkan dalam satu ruangan, kisah "Si Jago Merah" mulai bergulir. Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat Purwakarta yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dari Semarang, dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan. Mereka terancam drop out dari Universitas Merdeka, jika dalam waktu 3 hari tidak bisa membayar tunggakan uang kuliah 4 semester berturut-turut.
Dari situ, "Si Jago Merah" mulai memunculkan sub plot. Mereka menjual barang-barang yang mereka miliki agar dapat melunasi tunggakan. Alhasil, mereka harus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Satu per satu cara dijalani. Mulai dari pindah bersama ke rumah kontrakan yang dekat dengan kampus supaya bisa lebih mengirit pengeluaran, hingga mencari pekerjaan sampingan. Awalnya, mereka menjalani pekerjaan masing-masing. Namun, karena kelelahan usai bekerja, mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan lain.
Dengan pertimbangan profesi petugas pemadam kebakaran yang tidak memiliki banyak tugas sehingga punya banyak waktu santai, mereka memutuskan mencoba. Jalan itu mulai terbuka setelah Rojak berhasil membetulkan mesin sebuah mobil pemadam kebakaran yang bak tertidur panjang. Mobil keluaran 1975, bermesin 4.000 cc, bernama Si Jago Merah. Dengan tugas sebagai pemadam cadangan, mereka mulai menelusuri sisi unik yang ditawarkan dari profesi ini. Bersama Si Jago Merah, tentunya.
Orisinalitas ide yang makin sulit terjamah oleh film lokal kebanyakan, mampu ditemui dalam film yang penggarapannya dikerjakan oleh komposisi kru yang tak jauh berbeda dengan kru "The Tarix Jabrix" ini. Bahkan bisa dibilang, ide untuk menampilkan pemadam kebakaran sebagai bingkai utama, sangat menarik. Pemilihan ide tersebut bukan tanpa sebab, karena filosofi yang dikandung di balik profesi pemadam kebarakan. Sebuah profesi yang -sebenarnya- lebih diharapkan tidak bekerja. Namun ketika api berkobar, profesi ini menjadi satu-satunya ujung tombak.
Tak heran, jika kemudian yang muncul adalah sikap patriotisme. Sampai di sini, "Si Jago Merah" cukup asyik dinikmati. Tanpa perlu mengerutkan dahi, aksi empat mahasiswa yang memiliki karakter persahabatan ogah-ogahan tersebut, bisa disaksikan dengan santai. Humor yang ditawarkan segar, ringan dan lepas. Terlebih, empat karakter utama sengaja dipilih untuk mewakili latar belakang yang berbeda. Untuk penonton Jawa Barat, bisa jadi merasakan sisi kedekatan dengan sosok Dede. Tak terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dari segi penokohan, empat karakter utama terbangun dengan mulus. Rojak yang memiliki emosi mudah tersulut, Dede yang playboy, Kuncoro yang pasrah dan Gito yang naif. Bahkan, sub plot yang berusaha ditampilkan, cukup mampu mendukung alur utama. Sebut saja Kuncoro yang memiliki fobia terhadap ruang tertutup (Claustrophobia), atau Dede yang dikejar hutang oleh mantan pacarnya, Nola (Poppy Sovia).
Namun dengan adanya dramatisasi di sana sini, jangan berharap pada porsi drama yang besar. Karena sejak awal, sutradara menjaga genre film yang bernuansa komedi. Untungnya, umpan humor yang dilempar kepada penonton, seringkali disambut tawa renyah. Riset berupa data statistik seputar dinamika pemadam kebakaran, juga menjadi suguhan satire. Kondisi ideal yang seharusnya dimiliki sebuah daerah, hanya mampu dipenuhi setengahnya.
Sedangkan dari segi acting, tak ada yang teramat spesial. Keempat pemeran utama seolah tak bereksplorasi acting secara maksimal. Tak salah, tentu saja. Karena karakter yang ditawarkan juga terlihat tak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Positifnya, mereka seolah berperan secara natural. Scene dimana Judika (Indonesian Idol) menyanyikan lagu miliknya secara santai, mampu menimbulkan reaksi penonton. Terlebih, ketika Desta menyanyikan lagu "Dari Hati", disambut gelak tawa. Dari deretan pemain, tak sedikit cameo yang ditampilkan. Sebut saja Francine Roosenda, The Changcuters, Mpok Nori, hingga wakil Bupati Tangerang Rano Karno, lumayan menghibur.
(Endah Asih)***
Genre: Drama Komedi
Durasi: 90 menit
Produser: Chand Parwez, Hanung Bramantyo
Sutradara: Iqbal Rais
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Desta Club 80's, Ytonk Club 80's, Judika, Poppy Sovia, Tika Putri, Indra Birowo, Sarah Sechan
Subscribe to:
Comments (Atom)
