JALAN pintas memang kerap menyenangkan. Singkat, mudah, dan tepat sasaran. Perumpamaan ini nampaknya juga sedang digandrungi oleh beberapa film Indonesia yang sedang diputar di pasaran. Sebut saja "Asmara Dua Diana" dan "Jagad X Code". Seberapa pintas jalan yang diretas, dan apakah film-film dengan cerita "instan" masih digandrungi?
Dalam "Asmara Dua Diana", jalan pintas dilakukan oleh Asmara, tokoh utama yang diperankan oleh Jamie Aditya. Asmara terbilang beruntung. Ia menikahi Diana Wulandari (Luna Maya), seorang putri tunggal dari keluarga kaya raya.
Karena itu, Asmara menjadi bos sebuah travel sukses. Namun tak hanya itu, ia harus menghadapi gangguan dari sekelilingnya. Misalnya, ulah pengusaha travel saingan, dan "gangguan" dari wanita-wanita cantik yang hanya mengincar hartanya.
Tentu saja Asmara tergoda. Walau sudah punya istri cantik yang menunggunya di rumah, Asmara tetap bermain api. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Diana Dwiyana (Aura Kasih).
Dewi Fortuna selalu bersama Asmara. Nama yang sama, dipikirnya akan menjadi hal yang mudah. Bukankah tak perlu lagi repot mencari nama samaran ketika ia sedang “terjebak”? Bagaimana kalau ia mengigau? Atau, salah panggil nama? Begitulah, nama yang sama jadi kebetulan yang manis. Tak perlu ada kerepotan seputar nama. Asmara menyebutnya "Diana1" dan "Diana2".
Diana Dwiyana yang seksi, agresif, dan manipulatif pun sukses menggoda Asmara. Ia hamil. Ia menuntut Asmara untuk menikahinya. Asmara bingung bukan kepalang. Pasalnya, istrinya juga sedang hamil.
Lantaran pusing, Asmara memikirkan jalan pintas. Jalan pertama, menculik dan menekan Diana Dwiyana, gagal. Hingga ia mencari jalan pintas lain, masuk penjara. Dengan begitu, ia terbebas dari dua Diana.
Nah, kalau dalam "Jagad X Code", jalan pintas dilakukan oleh tiga sekawan. Mereka adalah Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah) dan Gareng (Opie Bahtiar). Tak punya pekerjaan, mereka menerima tawaran dari seorang preman, Semsar (Tio Pakusadewo).
Tugas mereka sebenarnya mudah. Mencopet tas seorang sekretaris wanita, dan mengambil flashdisk di dalamnya. Untuk kerja itu, mereka diiming-imingi imbalan Rp 30 juta. Namun masalahnya, mereka yang tinggal di bantaran Kali Code Jogjakarta, tak tahu apa itu flashdisk.
Dari sana, kelucuan mulai terjadi. Mereka pun mengira, bahwa parfum mini yang ditemukan di dalam tas, adalah flashdisk. Hingga suatu saat, parfum yang dikira flashdisk itu dicuri orang.
Orang itu adalah Regina (Tika Putri), yang punya penyakit clepto. Adegan kejar-kejaran pun terjadi, hingga mereka sampai ke rumah Regina. Ternyata, Regina adalah seorang putri dari pengusaha yang kaya raya. Mau dibilang apa? Mereka tak bisa masuk karena ada penjagaan.
Dewi Fortuna menaungi Jagad, Bayu, dan Gareng. Di suatu jalan, mereka menemukan Regina kembali. Setelah adegan kejar-kejaran, mereka menangkap Regina. Setelah beberapa saat mengobrol, mereka mengetahui bahwa Regina sedang minggat dari rumah. Akhirnya, mereka mengajak Regina untuk tinggal di rumah Jagad.
Dari dinding kaku di rumahnya, Regina dengan cepat menyukai daerah tempat tinggal Jagad. Lika-liku gang perkampungan, warga yang hangat dan saling menyapa, serta persahabatan baru, dengan cepat menarik hati Regina.
Bersama-sama, mereka memburu keberadaan flashdisk tersebut. Alasannya simpel. Trio Jagad, Bayu, dan Gareng butuh uang. Jagad ingin membelikan mesin cuci bagi ibunya, Bayu ingin punya lapak jualan buku dan majalah, sedangkan Gareng ingin membuat salon kecil buat adiknya, Menik.
Jalan pintas yang diambil Asmara dan trio Jagad-Bayu-Gareng, memang menarik disoroti. Mereka ingin hidup enak. Enak dalam maksud Asmara, adalah jauh dari kejaran istri dan selingkuhannya. Ia juga tak perlu pusing memikirkan beban biaya hidup ketika ia jatuh miskin. Di penjara, kehidupannya toh sudah terjamin.
Sedangkan hidup enak menurut Jagad-Bayu-Gareng, adalah ketika bisa menyenangkan orang terdekat mereka. Mereka yang tergolong anak muda "baik-baik" ini, harus menghalalkan segala cara. Oh ya, ada lagi hal menarik dalam kisah mereka. Perburuan flashdisk dibungkus dengan suasana Kali Code yang polos. Sungguh menarik.
Dua hal yang dapat ditarik dari dua film ini, adalah karakter tokoh yang selalu beruntung dan pengambilan jalan pintas. Kalau kedua film ini laris manis di pasaran, pasti akan menambah peruntungan tersendiri. Sedangkan jalan pintas yang dipilih tokoh di kedua film tersebut, menjadi suatu satire tersendiri.
Sesungguhnya, masih banyak cara dengan bisa ditempuh untuk keluar dari masalah. Untungnya, kedua film ini dibalut dengan nuansa komedi ringan. Ironis? Namanya juga jalan pintas. ***

No comments:
Post a Comment