2/9/09

Napak Tilas ABBA Lewat Mamma Mia!

Napak Tilas ABBA Lewat "Mamma Mia!"

I have a dream/ A song to sing/ To help me cope with anything..

UNTUK anda pecinta grup musik legendaris ABBA, pasti tahu benar lirik tersebut. Lirik yang merupakan penggalan dari lagu "I Have a Dream", membawa penonton dalam kisah petualangan romantis seorang ibu dan anak perempuan. Setelah munculnya film “Accross The Universe” yang menjawab keinginan pecinta The Beattless, “Mamma Mia!” yang kini menunjukkan tajinya.

Tak hanya itu, lewat film berdurasi 108 menit ini, penonton diajak untuk relaks dan bernostalgia menyanyikan hits milik ABBA. Judul film yang diambil pun eksentrik, "Mamma Mia!", salah satu lagu ABBA yang semakin melambungkan nama mereka.

Sebenarnya, agak disayangkan ketika publik Bandung baru bisa menyaksikan film ini di jaringan bioskop satu minggu belakangan. Padahal, di Amerika sendiri, waktu rilis pada Juli 2008. Sedangkan di kota lain seperti Jakarta dan beberapa kota lain, film ini diputar dalam kurun waktu Oktober-November 2008.

Anyhow, tak ada masalah. Kendati demikian, film ini memang layak ditunggu --dan disaksikan tentunya. Tak perlu mengerutkan kening. Cukup duduk santai, anda sudah bisa menikmati sajian musikal "Mamma Mia!". 

Tak banyak memang film musikal yang mampu menjaring loyalitas penonton untuk datang dan menyaksikan. Alur yang lambat, cerita yang terkadang tak logis, dan scene berlebihan terkadang menjadi pengganjal. Namun tak demikian halnya dengan "Mamma Mia!". Langkah pertama untuk menjadikan film ini semacam "tribute to ABBA" sudah menjadi strategi pamungkas untuk menjaring massa. 

Siapa yang tak kenal ABBA, lagipula? Grup asal Swedia ini, digaungi oleh Benny Anderson, Bjorn Ulvaeus, Anni-Frid Lyngstad, dan Agnetha Faltskog. Singkatan inisial nama depan mereka menguntai ejaan "A.B.B.A". Pop hits mereka bercokol di anak tangga teratas radio-radio di Eropa dan Amerika Serikat dalam kurun waktu 70-80'an.

“Mamma Mia!” sendiri dimeriahkan dengan 22 lagu ABBA yang dinyanyikan kembali dengan baik oleh pemerannya. Seperti "Dancing Queen", "Money, Money, Money", "Super Trouper", dan "I Do, I Do, I Do, I Do, I Do" yang akan kembali merebut hati pecinta ABBA.

Pemasangan nama beken seperti Meryl Streep, Pierce Brosnan, dan Colin Firth, menjadi jaminan tersendiri. Belum lagi setting pulau Kalokairi yang eksotis dan luar biasa indah. Tak heran jika kemudian film ini meraup pendapatan di luar dugaan. 

Seperti dilansir oleh Official UK Charts Company, "Mamma Mia! versi DVD terjual sampai 1,7 juta keping pada hari pertamanya. Jumlah tersebut mengalahkan "Titanic" yang berhasil menjual 1,2 juta keping. 

Jika dilihat sepintas, film ini sederhana. Namun jika diperhatikan, film ini sarat pesan. Yang paling kentara, perasaan seorang anak yang tumbuh tanpa mengetahui keberadaan sang ayah. Atau himbauan kepada orang tua untuk tak terlalu membatasi dunia anaknya. Bahkan ketika rasa sakit hari seseorang kemudian bisa membawanya ke tempat lain. One thing leads to another.

Kisah "Mamma Mia!" berawal dari keinginan seorang anak, Sophie (Amanda Seyfried) yang punya satu impian untuk hari pernikahannya. Ia ingin ditemani sang ayah. Sayangnya, selama hidupnya ia tak pernah mengenal sosok ayahnya. Hingga kemudian ia menemukan buku harian sang ibu, Donna Sheridan (Maryl Streep). 

Dari buku itu, ia mengetahui bahwa ada tiga orang yang kemungkinan menjadi ayah biologisnya. Mereka adalah Sam Carmichael (Pierce Brosnan), Harry Bright (Collin Firtf), dan Bill Anderson (Stellan Skarsgard). Tentunya kedatangan mereka membuat suatu kekacauan tersendiri. Terutama di benak Donna, setelah melewati 20 tahun. Ia bahkan harus menyembunyikan kegelisahan dari dua sahabatnya, Rosie (Julie Walters) dan Tanya (Christine Baranski). 


Chiquitita tell me the truth/ I'm a shoulder you can cry on/ Your best friend /I'm the one you must rely on..

Ketika bertemu mereka bertiga secara tidak sengaja, Donna pun bingung bukan kepalang. Itu seperti membuka luka lama yang sudah dibebat paksa. Namun di sisi lain, ia tidak ingin mengacaukan pernikahan putrinya.

Yes, I've been brokenhearted/ Blue since the day we parted/Why, why did I ever let you go?/Mamma mia.. Now I really know/My my, I could never let you go..

Apakah pada akhirnya Sophie bisa mengetahui jati diri ayahnya? Dan pria mana yang Donna pilih setelah 20 tahun memendam perasaan? Temukan jawabannya disini. Karena usaha Sophie memang patut diacungi jempol. 

If you see the wonder of a fairy tale/ You can take the future even if you fail.. ***

==
Genre: Drama musikal
Durasi: 108 menit
Sutradara: Phyllida Lloyd
Skenario: Catherine Johnson
Pemain: Meryl Streep, Amanda Seyfried, Pierce Brosnan, Collin Firth, Stellan Skarsgard, Julie Walters, Christine Baranski

Pegulat yang Tak Lagi Liat

KALAU ada alasan kuat yang mendorong untuk menyaksikan film "The Wrestler", salah satunya adalah faktor penampilan aktor gaek Mickey Rourke di dalamnya.

Setelah lama menghilang dari belantara perfilman "laku" Holywood, Rourke langsung menggebrak dengan aktingnya dalam "The Wrestler", yang kemudian membuatnya diganjar predikat aktor terbaik Golden Globe 2009. Tak hanya itu, Rourke tampaknya memang memesona banyak pasang mata. Hal itu terbukti dari nominasi yang ia peroleh dalam Academy Award 2009, yang lagi-lagi dalam kategori aktor terbaik.

Dalam "The Wrestler", Rourke berperan sebagai Randy "Ram" Robinson, seorang pegulat profesional yang harus meletakkan karirnya. Di pembuka film, penonton disuguhi oleh kliping tentang kejayaan Ram.

Setting dengan cepat berpindah ke 20 tahun sesudahnya. Di sebuah kursi, Ram terduduk. Ia meratap sambil terbatuk, karirnya tak secemerlang dulu. Dengan semakin menurunnya kemampuan fisik dan motorik yang melanda, ia tak lagi dianggap menguntungkan bagi promotornya, Lenny (Mark Margolis).

Ram yang sudah mulai tua kemudian mencoba untuk melakoni beberapa pekerjaan lain, seperti tukang angkut barang. Sesekali, ia masih masih bertarung secara liar. Beberapa trik sempat dilakoninya. Seperti menyelipkan silet di antara bebatan pelindung tungkai tangannya.

Selain untuk mendapatkan uang, Ram bertarung sebagai nostalgia kecintaannya terhadap dunia bertarung. Hingga pada suatu saat, ia roboh di ruang ganti. Ram masuk rumah sakit. Oleh dokter, ia divonis memiliki penyakit jantung, dan dilarang keras bertarung dengan cara apapun.

Oleh Cassidy (Marisa Tomei), teman dekatnya, Ram disarankan untuk mencari pekerjaan "aman". Lebih daripada itu, Ram disarankan untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarga. Sebenarnya, Ram memiliki seorang putri. Namanya Stephanie (Evan Rachel Wood).

Stephanie yang sejak kecil ditelantarkan Ram, tentu tak mudah menerima kehadiran ayahnya. Di sini lah letak perjuangan Ram sebagai seorang ayah.

"The Wrestler" jelas menggambarkan secara gamblang mengenai sisi humanis kehidupan pegulat. Proses post power syndrome yang menggelayut dalam diri Ram, dan pendekatan diri dengan sang putri yang selama ini ditinggalkan, menjadi drama yang mewarnai keseluruhan film.

Selain itu, kehidupan malam yang kerap dijalani Ram juga menjadi bumbu penyedap. Adegan kekerasan menjadi pengiring. Di sini, tak ada batas yang jelas antara seni dan crime dalam gulat.

Tak ada yang istimewa dalam sinematografi. Pun scoring yang dimainkan. Hanya ada drama berbalut kisah Ram, yang menjadi nilai jual tertinggi. Kalaupun ada faktor pendongkrak lain, barangkali adalah single “The Wrestler” yang dinyanyikan oleh Bruce Springsteen yang menjadi soundtrack. Atau ketika “Sweet Child O’Mine” versi Guns N’ Roses berkumandang.

Lagu dekade 80-90 an yang sempat populer seperti “Jump” milik Madonna, “Animal Magnetism” milik Scorpions, dan “Don’t Walk Away” milik Firehouse juga sempat terdengar. Cocok sebagai sarana nostalgia untuk anda yang ada dalam jaman-jaman keemasan mereka.

Rourke sendiri, memerankan tokoh Ram dengan pas. Di satu sisi, ia harus menjadi pegulat keji. Namun di sisi lain, ia bisa juga takluk di tangan wanita. Atau ketika ia harus berhadapan dengan putrinya. Sampai-sampai harus berbelanja hadiah untuk sang putri.

Bisa jadi "The Wrestler" menjadi film terbaik yang pernah dibintangi Rourke. Apalagi, jika mengingat prestasi yang diraih sejauh ini. Seperti mendapatkan penghargaan Singa Emas untuk film terbaik pada festival Film Venisia 2008.

Namun untuk mendapuk Rourke sebagai aktor terbaik pada Academy Award 2009, pemikiran panjang tentu tak bisa dihindarkan. Rourke harus "bergulat" dengan akting memukau Sean Penn dalam "Milk", dan Brad Pitt dalam "The Curious Case of Benjamin Button". Juga ada dua pesaing lain, yaitu Richard Jenkins dalam "The Visitor" dan Frank Langella dalam "Frost/Nixon" yang tak mudah ditepikan. ***

Dewi Fortuna, Flashdisk, dan Jalan Pintas

JALAN pintas memang kerap menyenangkan. Singkat, mudah, dan tepat sasaran. Perumpamaan ini nampaknya juga sedang digandrungi oleh beberapa film Indonesia yang sedang diputar di pasaran. Sebut saja "Asmara Dua Diana" dan "Jagad X Code". Seberapa pintas jalan yang diretas, dan apakah film-film dengan cerita "instan" masih digandrungi?

Dalam "Asmara Dua Diana", jalan pintas dilakukan oleh Asmara, tokoh utama yang diperankan oleh Jamie Aditya. Asmara terbilang beruntung. Ia menikahi Diana Wulandari (Luna Maya), seorang putri tunggal dari keluarga kaya raya.

Karena itu, Asmara menjadi bos sebuah travel sukses. Namun tak hanya itu, ia harus menghadapi gangguan dari sekelilingnya. Misalnya, ulah pengusaha travel saingan, dan "gangguan" dari wanita-wanita cantik yang hanya mengincar hartanya.

Tentu saja Asmara tergoda. Walau sudah punya istri cantik yang menunggunya di rumah, Asmara tetap bermain api. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Diana Dwiyana (Aura Kasih). 

Dewi Fortuna selalu bersama Asmara. Nama yang sama, dipikirnya akan menjadi hal yang mudah. Bukankah tak perlu lagi repot mencari nama samaran ketika ia sedang “terjebak”? Bagaimana kalau ia mengigau? Atau, salah panggil nama? Begitulah, nama yang sama jadi kebetulan yang manis. Tak perlu ada kerepotan seputar nama. Asmara menyebutnya "Diana1" dan "Diana2". 

Diana Dwiyana yang seksi, agresif, dan manipulatif pun sukses menggoda Asmara. Ia hamil. Ia menuntut Asmara untuk menikahinya. Asmara bingung bukan kepalang. Pasalnya, istrinya juga sedang hamil. 

Lantaran pusing, Asmara memikirkan jalan pintas. Jalan pertama, menculik dan menekan Diana Dwiyana, gagal. Hingga ia mencari jalan pintas lain, masuk penjara. Dengan begitu, ia terbebas dari dua Diana. 

Nah, kalau dalam "Jagad X Code", jalan pintas dilakukan oleh tiga sekawan. Mereka adalah Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah) dan Gareng (Opie Bahtiar). Tak punya pekerjaan, mereka menerima tawaran dari seorang preman, Semsar (Tio Pakusadewo). 

Tugas mereka sebenarnya mudah. Mencopet tas seorang sekretaris wanita, dan mengambil flashdisk di dalamnya. Untuk kerja itu, mereka diiming-imingi imbalan Rp 30 juta. Namun masalahnya, mereka yang tinggal di bantaran Kali Code Jogjakarta, tak tahu apa itu flashdisk.

Dari sana, kelucuan mulai terjadi. Mereka pun mengira, bahwa parfum mini yang ditemukan di dalam tas, adalah flashdisk. Hingga suatu saat, parfum yang dikira flashdisk itu dicuri orang. 

Orang itu adalah Regina (Tika Putri), yang punya penyakit clepto. Adegan kejar-kejaran pun terjadi, hingga mereka sampai ke rumah Regina. Ternyata, Regina adalah seorang putri dari pengusaha yang kaya raya. Mau dibilang apa? Mereka tak bisa masuk karena ada penjagaan. 

Dewi Fortuna menaungi Jagad, Bayu, dan Gareng. Di suatu jalan, mereka menemukan Regina kembali. Setelah adegan kejar-kejaran, mereka menangkap Regina. Setelah beberapa saat mengobrol, mereka mengetahui bahwa Regina sedang minggat dari rumah. Akhirnya, mereka mengajak Regina untuk tinggal di rumah Jagad. 

Dari dinding kaku di rumahnya, Regina dengan cepat menyukai daerah tempat tinggal Jagad. Lika-liku gang perkampungan, warga yang hangat dan saling menyapa, serta persahabatan baru, dengan cepat menarik hati Regina. 

Bersama-sama, mereka memburu keberadaan flashdisk tersebut. Alasannya simpel. Trio Jagad, Bayu, dan Gareng butuh uang. Jagad ingin membelikan mesin cuci bagi ibunya, Bayu ingin punya lapak jualan buku dan majalah, sedangkan Gareng ingin membuat salon kecil buat adiknya, Menik.

Jalan pintas yang diambil Asmara dan trio Jagad-Bayu-Gareng, memang menarik disoroti. Mereka ingin hidup enak. Enak dalam maksud Asmara, adalah jauh dari kejaran istri dan selingkuhannya. Ia juga tak perlu pusing memikirkan beban biaya hidup ketika ia jatuh miskin. Di penjara, kehidupannya toh sudah terjamin.

Sedangkan hidup enak menurut Jagad-Bayu-Gareng, adalah ketika bisa menyenangkan orang terdekat mereka. Mereka yang tergolong anak muda "baik-baik" ini, harus menghalalkan segala cara. Oh ya, ada lagi hal menarik dalam kisah mereka. Perburuan flashdisk dibungkus dengan suasana Kali Code yang polos. Sungguh menarik. 

Dua hal yang dapat ditarik dari dua film ini, adalah karakter tokoh yang selalu beruntung dan pengambilan jalan pintas. Kalau kedua film ini laris manis di pasaran, pasti akan menambah peruntungan tersendiri. Sedangkan jalan pintas yang dipilih tokoh di kedua film tersebut, menjadi suatu satire tersendiri.

Sesungguhnya, masih banyak cara dengan bisa ditempuh untuk keluar dari masalah. Untungnya, kedua film ini dibalut dengan nuansa komedi ringan. Ironis? Namanya juga jalan pintas. ***