9/6/09

film, 2008 - 2009

HARAPAN terhadap peningkatan kualitas film lokal, seakan tumbuh bersama perkembangan jumlah film -yang dapat dikatakan- bertema alternatif. Di satu aspek, memang tak terelakkan ketika 2008 lalu, masih banyak genre seperti komedi seks dan horor yang muncul dalam perfilman lokal, menimbulkan stigma kondisi yang jalan di tempat. Namun di sisi lain, mulai timbul secercah harapan, mengenai keberagaman tema film yang menghibur, sekaligus mencerdaskan.

Di kuartal pertama 2009, tema dunia perfilman lokal terbilang menjanjikan. Sedikitnya judul seperti "Under The Tree" (Garin Nugroho), "Perempuan Berkalung Sorban" (Hanung Bramantyo), "Asmara Dua Diana" (Awi Suryadi), "Pintu Terlarang" (Joko Anwar), "Kambing Jantan The Movie" (Rudi Soedjarwo) dan "Romeo*Juliet" (Andi Bachtiar Yusuf) hampir bisa dipastikan keberadaannya di bioskop tanah air.

Film "Under The Tree" sendiri sebelum dilempar ke pasaran secara reguler hari ini, Rabu (7/12) sudah melenggang mulus dalam kancah festival, dengan menyabet berbagai nominasi. Tentunya, hal tersebut menaikkan pamor "Under The Tree", jauh sebelum diputar di hadapan publik lokal.

Pada 2008 lalu, film yang disebut-sebut banyak menggunakan pendekatan realis magis itu masuk dalam nominasi Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-21. Selain itu, film produksi SET film ini juga membawa pulang 2 piala FFI 2008, dari 9 nominasi yang didapat.
Sineas yang juga merupakan salah satu pendiri SET film bersama Garin Nugroho, Arturo GP, ketika dihubungi "PR" Senin (5/12) malam, mengatakan bahwa keberagaman tema, menjadi satu gejala kejenuhan penonton.

"Ya, kejenuhan terhadap tema-tema yang berkembang di 2008, seperti tema seks remaja, bahkan religi," kata Arturo. Indikasinya, lanjut Arturo, adalah dengan mulai berkurangnya tema semacam itu di penghujung 2008.

"Penonton dengan tema itu berkurang, maka produksinya juga berkurang. Biasanya kan produser mengikuti pasar. Jadi semoga tema-tema alternatif yang berkembang sekarang, bisa diikuti produser lain," kata Arturo. Sedangkan tema yang banyak berkembang pada 2008, menurut Arturo lebih disebabkan oleh konsekuensi dari sebuah industri film. Lebih tepatnya, pengulangan periode.

"Sejarah memang selalu berulang. Dalam dunia perfilman Indonesia, di tahun 80an kan sempat booming jenis seperti komedi seks dan horor. Sebenarnya itu hanya penggampangan dari produser untuk memilih cerita yang biasanya laku di pasaran, soalnya tidak gambling. Itu problem film 80-an, dan berulang sekarang," ucap Arturo.

Film lain produksi SET Films yang diprediksi mendulang sukses, menurut Arturo, adalah "Generasi Biru" yang bercerita mengenai perjalanan hidup kelompok musik Slank. Seperti "Kantata Takwa" yang bercerita tentang perjalanan Kantata Takwa, atau bahkan "Shine A Light" milik grup legendaris Rolling Stones, "Generasi Biru" mencoba peruntungan lewat ranah dokumenter. Kali ini melalui kolaborasi sutradara Garin Nugroho-John De Rantau.

Berbeda sentuhan dengan dokumenter, film lokal lain yang sudah ditunggu adalah "Kambing Jantan The Movie". Film komedi yang merupakan adaptasi dari buku laris milik Raditya Dika ini, rencananya akan diantarkan kepada penikmat film lokal pada Februari 2009.

Film adaptasi dari buku dan film daur ulang juga mendapat porsi pada 2009. Misalnya sekuel "Sang Pemimpi", yang ingin menyusul kesuksesan film terdahulunya di 2008, "Laskar Pelangi", rencananya akan bisa dinikmati pada akhir 2009. Ada juga "Catatan Si Boy", yang pernah booming pada dekade 80-90an, rencananya akan ditayangkan 2009 ini.

Film yang disutradarai oleh John De Rantau ini, masih melibatkan beberapa pemeran asli. Seperti Only Alexander, Didi Petet, Btari Karlinda, Meriam Bellina. Sedangkan Ario Bayu dan Carrisa Putri dipilih sebagai generasi baru yang ikut mewarnai film.

Selain itu, layar lebar garapan sutradara muda Awi Suryadi bertajuk "Asmara Dua Diana" akan diluncurkan dalam waktu dekat. Film dengan ide menarik ini, memasang Jamie Aditya, Luna Maya, dan Aura Kasih sebagai jajaran pemain utama.

Jika dilihat dari sinopsis yang berkembang, Awi Suryadi yang sebelumnya menghasilkan karya seperti "Claudia/Jasmine" (2008) dan "Gue Kapok Jatuh Cinta" (2005) ini seperti ingin memberikan satire terhadap zona kemapanan hidup. Lugas dan menghibur.

Dan yang paling ditunggu, barangkali adalah karya sutradara Joko Anwar, "Pintu Terlarang", yang diadaptasi dari novel thriller milik Sekar Ayu Asmara. Dalam film yang akan beredar pada 22 Januari mendatang ini, Joko dengan kental kembali memberikan aksen noir. Mulai dari nuansa gambar, hingga produksi scoring dan lagu soundtrack.

Kualitas film besutan Joko, memang selalu layak ditunggu. Setelah sebelumnya menggebrak lewat "Kala" yang pernah masuk dalam daftar film-film terbaik dunia di tahun 2007 versi majalah Sight & Sound, Inggris, kali ini Joko kembali mencoba peruntungan. Bahkan skenario yang dibuatnya bersama Mouly Surya dalam "Fiksi", berhasil menyabet penghargaan film terbaik FFI 2008.

"Semoga dengan berkembangnya tema dalam perfilman lokal, diikuti dengan kualitas tema film itu sendiri," ujar Mouly, ketika dihubungi "PR", Minggu (4/12).

Bicara tentang film di 2009, tentu membuat sutradara terbaik versi FFI 2008 ini bersemangat. "Sekarang industri film di Indonesia bisa diibaratkan seperti bayi. Semakin lama grafik pertumbuhannya semakin naik, walau perlahan sekalipun. Maka butuh bantuan semua pihak. Misalnya, penonton sebaiknya menonton film berkualitas saja, agar sineas juga memproduksi film yang semakin berkualitas," kata Mouly menjelaskan.

Namun Mouly memprediksi, bahwa pada 2009, film bertemakan drama keluarga, anak-anak, dan komedi akan semakin banyak diproduksi. "Suspense juga masih ada, tapi sedikit. Kalau komedi seks dan horor pasti masih ada, tapi jumlahnya akan berkurang drastis dibanding tahun lalu," kata Mouly.

Prediksi Mouly diiyakan Arturo. "Setuju kalau film anak-anak banyak diproduksi," ujar Arturo. Arturo juga mengatakan, dalam waktu dekat rumah produksinya akan melepas beberapa judul yang saat ini tak terlalu banyak disentuh, seperti olahraga.

"Kita yang jelas ingin variatif, soalnya kalau cuma seperti ini saja, akan memukul kondisi perfilman dengan sendirinya. Karena lama-kelamaan, penonton tidak percaya lagi dengan kualitas perfilman lokal," kata sutradara yang kerap merangkap sebagai editor film ini. ***

No comments: