"hadoooh, sakit.. badanku pegel2, encok.."
"hadoooh, kayak neneknenek banget sih.."
"tapi kamu sayang kan sama neneknenek ini?"
"tentu.."
god, takes too much time to realize that i know heaven must exist :P
9/7/09
9/6/09
way to oscars
KEMENANGAN film Bollywood "Slumdog Millionaire" di ajang Golden Globe 2009 menyisakan catatan menarik. Film yang bersetting tentang kehidupan di Mumbai, India ini, mampu mengalahkan prediksi kuat kemenangan "Revolutionary Road" dan "The Curious Case of Benjamin Button". Bagaimana bisa?
Dibesut oleh sutradara berkebangsaan Inggris yang populer lewat "Trainspotting" dan "The Beach", Danny Boyle, film ini memang terbilang istimewa. Cerita dan setting yang membumi, menampilkan wajah polos perkampungan kumuh di India.
Film adaptasi novel ini berkisah tentang seorang anak berusia 18 tahun, Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas "Who Wants To Be Millionaire" versi India. Jamal yang dibesarkan di jalan, terbilang beruntung. Ia bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, untuk mendapat hadiah utama, 20 juta rupee.
Kisah satire ini berlanjut ketika Jamal kemudian ditangkap polisi karena dicurigai bertindak curang. Ia disiksa sambil dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Namun, siapa sangka kalau pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, justru membuka luka lama di benak Jamal.
Sepintas, gaya indie yang terlihat mempengaruhi film ini mengingatkan pada film sejenis "Juno" dan "Little Miss Sunshine" yang sudah lebih dulu disambut baik oleh pasar. Penonton diajak tertawa dengan kepolosan adegan dan gaya tutur. Sederhana, segar, dan menghibur.
Lewat "Slumdog Millionaire", Boyle seakan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arti kemapanan dari sudut pandang anak terlantar. Lewat twist kisah hidup Jamal, penonton seolah diajak untuk berempati. Film yang juga dibintangi oleh Shah Rukh Khan ini, juga menyentuh sisi humanis, ketika baik disadari atau tidak, sikap sinis sudah sedemikian erat bergelayut di kalangan mapan, dengan menepikan masyarakat kelas bawah.
Simak saja dialog ketika sang pembawa acara kuis menyepelekan kemampuan Jamal saat kuis berganti iklan. Atau saat ia melontarkan sindiran, "Get along with 100 dollar bills of your life?" ketika pertanyaan sampai pada topik mengenai tokoh yang ada dalam uang 100 dollar AS. Ya, cerita polos seperti bagaimana Jamal kecil bisa mendapatkan tanda tangan sang idola, Amitabh Bachchan, juga merupakan satire yang teramat menggelitik.
Kalaupun ada satu keanehan yang mengganggu sepanjang film, barangkali adalah ketika Jamal sampai pada pertanyaan terakhir, detik-detik menentukan apakah ia akan menjadi milyuner, atau kembali ke jalan. Jamal yang buta huruf latin, tiba-tiba bisa membaca sederetan pertanyaan. Namun terlepas dari itu, "Slumdog Millionaire" tetap segar dan menyenangkan.
Dan memang, nuansa segar dan menyenangkan tersebut belum bisa ditandingi oleh besutan sutradara David Fincher, "The Curious Case of Benjamin Button". Walaupun sebenarnya, "The Curious Case of Benjamin Button" ini memiliki lebih dari harapan penonton terhadap sebuah film berkualitas.
Plot yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini, bercerita tentang seorang bayi yang dilahirkan dengan wajah renta. Namun seiring berjalannya waktu, ia berangsur-angsur menjadi muda. Benjamin (Brad Pitt), anak tersebut, mengalami kebalikan pertumbuhan orang normal.
Naskah film ini sendiri, dikerjakan oleh Eric Youth, yang pernah menggarap "Forrest Gump". Sedangkan deretan pemain sudah terkesan "sangat aman". Sebut saja nama seperti Brad Pitt, Cate Blanchett, hingga Tilda Swinton yang menjadi jaminan.
Menggunakan teknik animasi motion capture canggih Contour System (CS), Fincher mampu menyulap metamorfosis wajah Pitt. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil wajah Pitt dari segala sudut pandang dan ekspresi, mengolahnya sesuai kebutuhan adegan, dan menempelkan wajah hasil kreasi tersebut di tubuh Pitt. Hasilnya luar biasa, akting Pitt tetap bisa dinikmati walau ia berwajah remaja, atau renta sekalipun.
Keindahan film ini memang mengangkat memori terhadap film sejenis "Forrest Gump", elegan dan menarik. Sayangnya, hal tersebut masih belum mampu menandingi gaya "indie" yang diusung Boyle dalam "Slumdog Millionaire". Terlebih, ending film yang mudah ditebak dalam "The Curious Case of Benjamin Button", kurang memicu rasa penasaran penonton.
Sedangkan "Revolutionary Road" yang kembali mempertemukan pasangan emas "Titanic", Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet sebagai kekasih, tampaknya harus kalah pamor. Padahal, film ini sekaligus menjadi pencapaian akting Di Caprio-Winslet yang nyaris sempurna.
Film dengan setting yang setia terhadap novel karya Richard Yates ini, bercerita tentang konflik ketidakcocokan dan ketidakpuasan dalam rumah tangga. Cinta dan toleransi, toh masih bisa terkalahkan ketika idealisme mengatakan lain. Ego dan ambisi April (Kate Winslet) dan Frank Wheeler (Leonardo Dicaprio), menciptakan pertengkaran demi pertengkaran yang menjadi pukulan telak kehidupan rumah tangga.
Nafas drama yang kental mewarnai film berdurasi 119 menit ini, juga mengisahkan cerita yang membumi. Namun, tak terlalu banyak kejutan yang mampu ditawarkan. Pamor pertautan emosi Di Caprio dan Winslet yang mengagumkan, tetap sulit diimbangi oleh kepolosan wajah Dev Patel yang berperan sebagai Jamal dalam "Slumdog Millionaire".
Dan ya, kualitas prima sebuah film memang bisa diharapkan dari film mapan seperti “The Curious Case of Benjamin Button” dan “Revolutionary Road”. Namun, apapun bisa terjadi. Lewat kemenangan “Slumdog Millionaire” dalam ajang pemanasan Oscar ini, elegansi dan kemapanan kualiatas rupanya belum menjadi jaminan. Justru film berbudget rendah dan plot polos nan membumi, bisa mencuat ke permukaan. Gejala apakah ini? ***
Dibesut oleh sutradara berkebangsaan Inggris yang populer lewat "Trainspotting" dan "The Beach", Danny Boyle, film ini memang terbilang istimewa. Cerita dan setting yang membumi, menampilkan wajah polos perkampungan kumuh di India.
Film adaptasi novel ini berkisah tentang seorang anak berusia 18 tahun, Jamal Malik (Dev Patel) yang sedang duduk di kursi panas "Who Wants To Be Millionaire" versi India. Jamal yang dibesarkan di jalan, terbilang beruntung. Ia bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, untuk mendapat hadiah utama, 20 juta rupee.
Kisah satire ini berlanjut ketika Jamal kemudian ditangkap polisi karena dicurigai bertindak curang. Ia disiksa sambil dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Namun, siapa sangka kalau pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, justru membuka luka lama di benak Jamal.
Sepintas, gaya indie yang terlihat mempengaruhi film ini mengingatkan pada film sejenis "Juno" dan "Little Miss Sunshine" yang sudah lebih dulu disambut baik oleh pasar. Penonton diajak tertawa dengan kepolosan adegan dan gaya tutur. Sederhana, segar, dan menghibur.
Lewat "Slumdog Millionaire", Boyle seakan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arti kemapanan dari sudut pandang anak terlantar. Lewat twist kisah hidup Jamal, penonton seolah diajak untuk berempati. Film yang juga dibintangi oleh Shah Rukh Khan ini, juga menyentuh sisi humanis, ketika baik disadari atau tidak, sikap sinis sudah sedemikian erat bergelayut di kalangan mapan, dengan menepikan masyarakat kelas bawah.
Simak saja dialog ketika sang pembawa acara kuis menyepelekan kemampuan Jamal saat kuis berganti iklan. Atau saat ia melontarkan sindiran, "Get along with 100 dollar bills of your life?" ketika pertanyaan sampai pada topik mengenai tokoh yang ada dalam uang 100 dollar AS. Ya, cerita polos seperti bagaimana Jamal kecil bisa mendapatkan tanda tangan sang idola, Amitabh Bachchan, juga merupakan satire yang teramat menggelitik.
Kalaupun ada satu keanehan yang mengganggu sepanjang film, barangkali adalah ketika Jamal sampai pada pertanyaan terakhir, detik-detik menentukan apakah ia akan menjadi milyuner, atau kembali ke jalan. Jamal yang buta huruf latin, tiba-tiba bisa membaca sederetan pertanyaan. Namun terlepas dari itu, "Slumdog Millionaire" tetap segar dan menyenangkan.
Dan memang, nuansa segar dan menyenangkan tersebut belum bisa ditandingi oleh besutan sutradara David Fincher, "The Curious Case of Benjamin Button". Walaupun sebenarnya, "The Curious Case of Benjamin Button" ini memiliki lebih dari harapan penonton terhadap sebuah film berkualitas.
Plot yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini, bercerita tentang seorang bayi yang dilahirkan dengan wajah renta. Namun seiring berjalannya waktu, ia berangsur-angsur menjadi muda. Benjamin (Brad Pitt), anak tersebut, mengalami kebalikan pertumbuhan orang normal.
Naskah film ini sendiri, dikerjakan oleh Eric Youth, yang pernah menggarap "Forrest Gump". Sedangkan deretan pemain sudah terkesan "sangat aman". Sebut saja nama seperti Brad Pitt, Cate Blanchett, hingga Tilda Swinton yang menjadi jaminan.
Menggunakan teknik animasi motion capture canggih Contour System (CS), Fincher mampu menyulap metamorfosis wajah Pitt. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil wajah Pitt dari segala sudut pandang dan ekspresi, mengolahnya sesuai kebutuhan adegan, dan menempelkan wajah hasil kreasi tersebut di tubuh Pitt. Hasilnya luar biasa, akting Pitt tetap bisa dinikmati walau ia berwajah remaja, atau renta sekalipun.
Keindahan film ini memang mengangkat memori terhadap film sejenis "Forrest Gump", elegan dan menarik. Sayangnya, hal tersebut masih belum mampu menandingi gaya "indie" yang diusung Boyle dalam "Slumdog Millionaire". Terlebih, ending film yang mudah ditebak dalam "The Curious Case of Benjamin Button", kurang memicu rasa penasaran penonton.
Sedangkan "Revolutionary Road" yang kembali mempertemukan pasangan emas "Titanic", Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet sebagai kekasih, tampaknya harus kalah pamor. Padahal, film ini sekaligus menjadi pencapaian akting Di Caprio-Winslet yang nyaris sempurna.
Film dengan setting yang setia terhadap novel karya Richard Yates ini, bercerita tentang konflik ketidakcocokan dan ketidakpuasan dalam rumah tangga. Cinta dan toleransi, toh masih bisa terkalahkan ketika idealisme mengatakan lain. Ego dan ambisi April (Kate Winslet) dan Frank Wheeler (Leonardo Dicaprio), menciptakan pertengkaran demi pertengkaran yang menjadi pukulan telak kehidupan rumah tangga.
Nafas drama yang kental mewarnai film berdurasi 119 menit ini, juga mengisahkan cerita yang membumi. Namun, tak terlalu banyak kejutan yang mampu ditawarkan. Pamor pertautan emosi Di Caprio dan Winslet yang mengagumkan, tetap sulit diimbangi oleh kepolosan wajah Dev Patel yang berperan sebagai Jamal dalam "Slumdog Millionaire".
Dan ya, kualitas prima sebuah film memang bisa diharapkan dari film mapan seperti “The Curious Case of Benjamin Button” dan “Revolutionary Road”. Namun, apapun bisa terjadi. Lewat kemenangan “Slumdog Millionaire” dalam ajang pemanasan Oscar ini, elegansi dan kemapanan kualiatas rupanya belum menjadi jaminan. Justru film berbudget rendah dan plot polos nan membumi, bisa mencuat ke permukaan. Gejala apakah ini? ***
seven pounds: 7 way to shattered mine..
"The first time I ever saw a box jellyfish, I was twelve. Our father took us to the Monterey Bay Aquarium. I never forgot what he said... That it was the most deadly creature on earth. To me it was just the most beautiful thing I'd ever seen"
BEN Thomas, yang saat itu berusia 12 tahun, berdiri terpaku di depan sebuah akuarium besar bersama ayah dan adiknya. Matanya menatap penuh minat. Mulutnya setengah menganga. Kedua tangan ia tempelkan pada dinding akuarium yang berisi beberapa ekor ubur-ubur. Ia tak bisa bicara saat itu. Benaknya terlalu dipenuhi kekaguman terhadap ubur-ubur, yang baru pertama kali itu ia lihat.
Siapa sangka, kejadian itu mengilhami rangkaian kejadian lain bagi masa depan Ben dalam "Seven Pounds". Di masa depan, Ben (diperankan oleh Will Smith), adalah seorang penagih pajak gadungan. Ia menggunakan nama lembaga IRS (Internal Revenue Service), untuk menjalankan rencananya.
Tiga puluh menit pertama, penonton hanya dibuat menyaksikan kegelisahan dan sosok Ben yang misterius. Potongan adegan demi adegan, ditambah kilasan adegan di masa lalu, menjadi suguhan yang tak jarang membuat heran. Siapa Ben? Apa yang sedang dilakukannya?
Ia kerap mendatangi rumah sakit. Berbuat "aneh" terhadap beberapa orang. Bahkan orang yang tidak dikenalnya. Namun ada beberapa hal yang dilakukannya, dan tidak dilakukan orang lain.
"In seven days, God created the world. And in seven seconds, I shattered mine". Ucapan Ben tersebut setidaknya menjelaskan beberapa hal. Ia tak suka kejadian yang menimpanya. Nyawa tunangannya terenggut dalam sebuah kecelakaan tragis. Hanya karena ia lalai menyetir.
Tujuh detik yang mengubah segalanya. Dari seorang pria yang punya semuanya, menjadi seseorang yang tak berarti. Begitu ia memandang dirinya sekarang. Semua yang ia punya, tak ada artinya lagi untuk dirinya sendiri.
Namun cerita ini tak hanya sampai di situ. Ia ingin menjadikan dirinya berguna untuk orang lain. Klise memang. Tapi begitulah. Ben mulai mendekati tujuh orang yang tidak dikenalnya secara personal. Pemilihan random itu, setidaknya memiliki kesamaan satu sama lain. Orang tersebut membutuhkan pertolongan, tak punya uang, namun terlalu enggan untuk meminta bantuan.
Ia mendekati Ezra Turner (Woody Harrelson). Pianis tuna netra yang juga bekerja sebagai customer service online di toko daging. Ben mendamprat Ezra habis-habisan, dengan alasan dibuat-buat. Tapi kemudian ia menguntit Ezra. Mendengarkan permainan piano Ezra di sebuah pusat keramaian yang sama sekali mengacuhkannya, lalu menghampirinya.
Ada juga Connie Tepos (Elpidia Carrillo), ibu dua anak yang mengalami kekerasan fisik dari pacarnya. Namun ia tak bisa berkutik, karena tak punya pilihan.
Lalu ia juga mendekati Emily Posa (Rosario Dawson), seorang perempuan yang redup karena penyakit jantung bawaan. Emily yang memandang hidup sama redup dengan kemungkinannya untuk normal, lantas heran. Ia bertanya kepada Ben. "Why do I get the feeling you're doing me a really big favor?"
Sosok Ben yang diperankan secara dramatis oleh Will Smith, memang menyimpan pesona tersendiri. Mata yang sayu dan senyum yang tulus, membuat Smith terlihat depresif. Cocok seperti apa yang diinginkan karakter Ben. Fasih seperti apa yang dilakukannya dalam "Pursuit of Happyness".
Sutradara Gabrielle Muccino juga paham benar, bagaimana menampilkan kisah drama tragis yang sekaligus menyentuh. Seperti apa yang dilakukannya bersama Smith, dalam "Pursuit of Happuness". Namun kali ini, ia menyusupkan aksen misteri angka tujuh. Angka tujuh yang menjadi jiwa.
Karakter Ben yang ditampilkan juga bukan tanpa cela. Kendati digambarkan sebagai pria baik hati yang bisa melakukan apa saja untuk menolong orang lain, ia toh tetap seorang pria biasa. Yang mendorong pria lain ke tembok untuk menggertak, atau bahkan selalu menjawab ketus terhadap pertanyaan penjaga motel.
Lalu, kisah apa yang sebenarnya ingin dituturkan oleh "Seven Pounds" lewat kontinuitas angka tujuh? Film ini mampu memuaskan penikmat drama yang haus akan jawaban atas keraguan di sepanjang durasinya. ***
==
Genre: Drama
Durasi: 123 Menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Produser: Todd Black, Will Smith, Jason Blumenthal
Pemain: Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Michael Ealy, Barry Pepper
BEN Thomas, yang saat itu berusia 12 tahun, berdiri terpaku di depan sebuah akuarium besar bersama ayah dan adiknya. Matanya menatap penuh minat. Mulutnya setengah menganga. Kedua tangan ia tempelkan pada dinding akuarium yang berisi beberapa ekor ubur-ubur. Ia tak bisa bicara saat itu. Benaknya terlalu dipenuhi kekaguman terhadap ubur-ubur, yang baru pertama kali itu ia lihat.
Siapa sangka, kejadian itu mengilhami rangkaian kejadian lain bagi masa depan Ben dalam "Seven Pounds". Di masa depan, Ben (diperankan oleh Will Smith), adalah seorang penagih pajak gadungan. Ia menggunakan nama lembaga IRS (Internal Revenue Service), untuk menjalankan rencananya.
Tiga puluh menit pertama, penonton hanya dibuat menyaksikan kegelisahan dan sosok Ben yang misterius. Potongan adegan demi adegan, ditambah kilasan adegan di masa lalu, menjadi suguhan yang tak jarang membuat heran. Siapa Ben? Apa yang sedang dilakukannya?
Ia kerap mendatangi rumah sakit. Berbuat "aneh" terhadap beberapa orang. Bahkan orang yang tidak dikenalnya. Namun ada beberapa hal yang dilakukannya, dan tidak dilakukan orang lain.
"In seven days, God created the world. And in seven seconds, I shattered mine". Ucapan Ben tersebut setidaknya menjelaskan beberapa hal. Ia tak suka kejadian yang menimpanya. Nyawa tunangannya terenggut dalam sebuah kecelakaan tragis. Hanya karena ia lalai menyetir.
Tujuh detik yang mengubah segalanya. Dari seorang pria yang punya semuanya, menjadi seseorang yang tak berarti. Begitu ia memandang dirinya sekarang. Semua yang ia punya, tak ada artinya lagi untuk dirinya sendiri.
Namun cerita ini tak hanya sampai di situ. Ia ingin menjadikan dirinya berguna untuk orang lain. Klise memang. Tapi begitulah. Ben mulai mendekati tujuh orang yang tidak dikenalnya secara personal. Pemilihan random itu, setidaknya memiliki kesamaan satu sama lain. Orang tersebut membutuhkan pertolongan, tak punya uang, namun terlalu enggan untuk meminta bantuan.
Ia mendekati Ezra Turner (Woody Harrelson). Pianis tuna netra yang juga bekerja sebagai customer service online di toko daging. Ben mendamprat Ezra habis-habisan, dengan alasan dibuat-buat. Tapi kemudian ia menguntit Ezra. Mendengarkan permainan piano Ezra di sebuah pusat keramaian yang sama sekali mengacuhkannya, lalu menghampirinya.
Ada juga Connie Tepos (Elpidia Carrillo), ibu dua anak yang mengalami kekerasan fisik dari pacarnya. Namun ia tak bisa berkutik, karena tak punya pilihan.
Lalu ia juga mendekati Emily Posa (Rosario Dawson), seorang perempuan yang redup karena penyakit jantung bawaan. Emily yang memandang hidup sama redup dengan kemungkinannya untuk normal, lantas heran. Ia bertanya kepada Ben. "Why do I get the feeling you're doing me a really big favor?"
Sosok Ben yang diperankan secara dramatis oleh Will Smith, memang menyimpan pesona tersendiri. Mata yang sayu dan senyum yang tulus, membuat Smith terlihat depresif. Cocok seperti apa yang diinginkan karakter Ben. Fasih seperti apa yang dilakukannya dalam "Pursuit of Happyness".
Sutradara Gabrielle Muccino juga paham benar, bagaimana menampilkan kisah drama tragis yang sekaligus menyentuh. Seperti apa yang dilakukannya bersama Smith, dalam "Pursuit of Happuness". Namun kali ini, ia menyusupkan aksen misteri angka tujuh. Angka tujuh yang menjadi jiwa.
Karakter Ben yang ditampilkan juga bukan tanpa cela. Kendati digambarkan sebagai pria baik hati yang bisa melakukan apa saja untuk menolong orang lain, ia toh tetap seorang pria biasa. Yang mendorong pria lain ke tembok untuk menggertak, atau bahkan selalu menjawab ketus terhadap pertanyaan penjaga motel.
Lalu, kisah apa yang sebenarnya ingin dituturkan oleh "Seven Pounds" lewat kontinuitas angka tujuh? Film ini mampu memuaskan penikmat drama yang haus akan jawaban atas keraguan di sepanjang durasinya. ***
==
Genre: Drama
Durasi: 123 Menit
Sutradara: Gabriele Muccino
Produser: Todd Black, Will Smith, Jason Blumenthal
Pemain: Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Michael Ealy, Barry Pepper
film, 2008 - 2009
HARAPAN terhadap peningkatan kualitas film lokal, seakan tumbuh bersama perkembangan jumlah film -yang dapat dikatakan- bertema alternatif. Di satu aspek, memang tak terelakkan ketika 2008 lalu, masih banyak genre seperti komedi seks dan horor yang muncul dalam perfilman lokal, menimbulkan stigma kondisi yang jalan di tempat. Namun di sisi lain, mulai timbul secercah harapan, mengenai keberagaman tema film yang menghibur, sekaligus mencerdaskan.
Di kuartal pertama 2009, tema dunia perfilman lokal terbilang menjanjikan. Sedikitnya judul seperti "Under The Tree" (Garin Nugroho), "Perempuan Berkalung Sorban" (Hanung Bramantyo), "Asmara Dua Diana" (Awi Suryadi), "Pintu Terlarang" (Joko Anwar), "Kambing Jantan The Movie" (Rudi Soedjarwo) dan "Romeo*Juliet" (Andi Bachtiar Yusuf) hampir bisa dipastikan keberadaannya di bioskop tanah air.
Film "Under The Tree" sendiri sebelum dilempar ke pasaran secara reguler hari ini, Rabu (7/12) sudah melenggang mulus dalam kancah festival, dengan menyabet berbagai nominasi. Tentunya, hal tersebut menaikkan pamor "Under The Tree", jauh sebelum diputar di hadapan publik lokal.
Pada 2008 lalu, film yang disebut-sebut banyak menggunakan pendekatan realis magis itu masuk dalam nominasi Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-21. Selain itu, film produksi SET film ini juga membawa pulang 2 piala FFI 2008, dari 9 nominasi yang didapat.
Sineas yang juga merupakan salah satu pendiri SET film bersama Garin Nugroho, Arturo GP, ketika dihubungi "PR" Senin (5/12) malam, mengatakan bahwa keberagaman tema, menjadi satu gejala kejenuhan penonton.
"Ya, kejenuhan terhadap tema-tema yang berkembang di 2008, seperti tema seks remaja, bahkan religi," kata Arturo. Indikasinya, lanjut Arturo, adalah dengan mulai berkurangnya tema semacam itu di penghujung 2008.
"Penonton dengan tema itu berkurang, maka produksinya juga berkurang. Biasanya kan produser mengikuti pasar. Jadi semoga tema-tema alternatif yang berkembang sekarang, bisa diikuti produser lain," kata Arturo. Sedangkan tema yang banyak berkembang pada 2008, menurut Arturo lebih disebabkan oleh konsekuensi dari sebuah industri film. Lebih tepatnya, pengulangan periode.
"Sejarah memang selalu berulang. Dalam dunia perfilman Indonesia, di tahun 80an kan sempat booming jenis seperti komedi seks dan horor. Sebenarnya itu hanya penggampangan dari produser untuk memilih cerita yang biasanya laku di pasaran, soalnya tidak gambling. Itu problem film 80-an, dan berulang sekarang," ucap Arturo.
Film lain produksi SET Films yang diprediksi mendulang sukses, menurut Arturo, adalah "Generasi Biru" yang bercerita mengenai perjalanan hidup kelompok musik Slank. Seperti "Kantata Takwa" yang bercerita tentang perjalanan Kantata Takwa, atau bahkan "Shine A Light" milik grup legendaris Rolling Stones, "Generasi Biru" mencoba peruntungan lewat ranah dokumenter. Kali ini melalui kolaborasi sutradara Garin Nugroho-John De Rantau.
Berbeda sentuhan dengan dokumenter, film lokal lain yang sudah ditunggu adalah "Kambing Jantan The Movie". Film komedi yang merupakan adaptasi dari buku laris milik Raditya Dika ini, rencananya akan diantarkan kepada penikmat film lokal pada Februari 2009.
Film adaptasi dari buku dan film daur ulang juga mendapat porsi pada 2009. Misalnya sekuel "Sang Pemimpi", yang ingin menyusul kesuksesan film terdahulunya di 2008, "Laskar Pelangi", rencananya akan bisa dinikmati pada akhir 2009. Ada juga "Catatan Si Boy", yang pernah booming pada dekade 80-90an, rencananya akan ditayangkan 2009 ini.
Film yang disutradarai oleh John De Rantau ini, masih melibatkan beberapa pemeran asli. Seperti Only Alexander, Didi Petet, Btari Karlinda, Meriam Bellina. Sedangkan Ario Bayu dan Carrisa Putri dipilih sebagai generasi baru yang ikut mewarnai film.
Selain itu, layar lebar garapan sutradara muda Awi Suryadi bertajuk "Asmara Dua Diana" akan diluncurkan dalam waktu dekat. Film dengan ide menarik ini, memasang Jamie Aditya, Luna Maya, dan Aura Kasih sebagai jajaran pemain utama.
Jika dilihat dari sinopsis yang berkembang, Awi Suryadi yang sebelumnya menghasilkan karya seperti "Claudia/Jasmine" (2008) dan "Gue Kapok Jatuh Cinta" (2005) ini seperti ingin memberikan satire terhadap zona kemapanan hidup. Lugas dan menghibur.
Dan yang paling ditunggu, barangkali adalah karya sutradara Joko Anwar, "Pintu Terlarang", yang diadaptasi dari novel thriller milik Sekar Ayu Asmara. Dalam film yang akan beredar pada 22 Januari mendatang ini, Joko dengan kental kembali memberikan aksen noir. Mulai dari nuansa gambar, hingga produksi scoring dan lagu soundtrack.
Kualitas film besutan Joko, memang selalu layak ditunggu. Setelah sebelumnya menggebrak lewat "Kala" yang pernah masuk dalam daftar film-film terbaik dunia di tahun 2007 versi majalah Sight & Sound, Inggris, kali ini Joko kembali mencoba peruntungan. Bahkan skenario yang dibuatnya bersama Mouly Surya dalam "Fiksi", berhasil menyabet penghargaan film terbaik FFI 2008.
"Semoga dengan berkembangnya tema dalam perfilman lokal, diikuti dengan kualitas tema film itu sendiri," ujar Mouly, ketika dihubungi "PR", Minggu (4/12).
Bicara tentang film di 2009, tentu membuat sutradara terbaik versi FFI 2008 ini bersemangat. "Sekarang industri film di Indonesia bisa diibaratkan seperti bayi. Semakin lama grafik pertumbuhannya semakin naik, walau perlahan sekalipun. Maka butuh bantuan semua pihak. Misalnya, penonton sebaiknya menonton film berkualitas saja, agar sineas juga memproduksi film yang semakin berkualitas," kata Mouly menjelaskan.
Namun Mouly memprediksi, bahwa pada 2009, film bertemakan drama keluarga, anak-anak, dan komedi akan semakin banyak diproduksi. "Suspense juga masih ada, tapi sedikit. Kalau komedi seks dan horor pasti masih ada, tapi jumlahnya akan berkurang drastis dibanding tahun lalu," kata Mouly.
Prediksi Mouly diiyakan Arturo. "Setuju kalau film anak-anak banyak diproduksi," ujar Arturo. Arturo juga mengatakan, dalam waktu dekat rumah produksinya akan melepas beberapa judul yang saat ini tak terlalu banyak disentuh, seperti olahraga.
"Kita yang jelas ingin variatif, soalnya kalau cuma seperti ini saja, akan memukul kondisi perfilman dengan sendirinya. Karena lama-kelamaan, penonton tidak percaya lagi dengan kualitas perfilman lokal," kata sutradara yang kerap merangkap sebagai editor film ini. ***
Di kuartal pertama 2009, tema dunia perfilman lokal terbilang menjanjikan. Sedikitnya judul seperti "Under The Tree" (Garin Nugroho), "Perempuan Berkalung Sorban" (Hanung Bramantyo), "Asmara Dua Diana" (Awi Suryadi), "Pintu Terlarang" (Joko Anwar), "Kambing Jantan The Movie" (Rudi Soedjarwo) dan "Romeo*Juliet" (Andi Bachtiar Yusuf) hampir bisa dipastikan keberadaannya di bioskop tanah air.
Film "Under The Tree" sendiri sebelum dilempar ke pasaran secara reguler hari ini, Rabu (7/12) sudah melenggang mulus dalam kancah festival, dengan menyabet berbagai nominasi. Tentunya, hal tersebut menaikkan pamor "Under The Tree", jauh sebelum diputar di hadapan publik lokal.
Pada 2008 lalu, film yang disebut-sebut banyak menggunakan pendekatan realis magis itu masuk dalam nominasi Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-21. Selain itu, film produksi SET film ini juga membawa pulang 2 piala FFI 2008, dari 9 nominasi yang didapat.
Sineas yang juga merupakan salah satu pendiri SET film bersama Garin Nugroho, Arturo GP, ketika dihubungi "PR" Senin (5/12) malam, mengatakan bahwa keberagaman tema, menjadi satu gejala kejenuhan penonton.
"Ya, kejenuhan terhadap tema-tema yang berkembang di 2008, seperti tema seks remaja, bahkan religi," kata Arturo. Indikasinya, lanjut Arturo, adalah dengan mulai berkurangnya tema semacam itu di penghujung 2008.
"Penonton dengan tema itu berkurang, maka produksinya juga berkurang. Biasanya kan produser mengikuti pasar. Jadi semoga tema-tema alternatif yang berkembang sekarang, bisa diikuti produser lain," kata Arturo. Sedangkan tema yang banyak berkembang pada 2008, menurut Arturo lebih disebabkan oleh konsekuensi dari sebuah industri film. Lebih tepatnya, pengulangan periode.
"Sejarah memang selalu berulang. Dalam dunia perfilman Indonesia, di tahun 80an kan sempat booming jenis seperti komedi seks dan horor. Sebenarnya itu hanya penggampangan dari produser untuk memilih cerita yang biasanya laku di pasaran, soalnya tidak gambling. Itu problem film 80-an, dan berulang sekarang," ucap Arturo.
Film lain produksi SET Films yang diprediksi mendulang sukses, menurut Arturo, adalah "Generasi Biru" yang bercerita mengenai perjalanan hidup kelompok musik Slank. Seperti "Kantata Takwa" yang bercerita tentang perjalanan Kantata Takwa, atau bahkan "Shine A Light" milik grup legendaris Rolling Stones, "Generasi Biru" mencoba peruntungan lewat ranah dokumenter. Kali ini melalui kolaborasi sutradara Garin Nugroho-John De Rantau.
Berbeda sentuhan dengan dokumenter, film lokal lain yang sudah ditunggu adalah "Kambing Jantan The Movie". Film komedi yang merupakan adaptasi dari buku laris milik Raditya Dika ini, rencananya akan diantarkan kepada penikmat film lokal pada Februari 2009.
Film adaptasi dari buku dan film daur ulang juga mendapat porsi pada 2009. Misalnya sekuel "Sang Pemimpi", yang ingin menyusul kesuksesan film terdahulunya di 2008, "Laskar Pelangi", rencananya akan bisa dinikmati pada akhir 2009. Ada juga "Catatan Si Boy", yang pernah booming pada dekade 80-90an, rencananya akan ditayangkan 2009 ini.
Film yang disutradarai oleh John De Rantau ini, masih melibatkan beberapa pemeran asli. Seperti Only Alexander, Didi Petet, Btari Karlinda, Meriam Bellina. Sedangkan Ario Bayu dan Carrisa Putri dipilih sebagai generasi baru yang ikut mewarnai film.
Selain itu, layar lebar garapan sutradara muda Awi Suryadi bertajuk "Asmara Dua Diana" akan diluncurkan dalam waktu dekat. Film dengan ide menarik ini, memasang Jamie Aditya, Luna Maya, dan Aura Kasih sebagai jajaran pemain utama.
Jika dilihat dari sinopsis yang berkembang, Awi Suryadi yang sebelumnya menghasilkan karya seperti "Claudia/Jasmine" (2008) dan "Gue Kapok Jatuh Cinta" (2005) ini seperti ingin memberikan satire terhadap zona kemapanan hidup. Lugas dan menghibur.
Dan yang paling ditunggu, barangkali adalah karya sutradara Joko Anwar, "Pintu Terlarang", yang diadaptasi dari novel thriller milik Sekar Ayu Asmara. Dalam film yang akan beredar pada 22 Januari mendatang ini, Joko dengan kental kembali memberikan aksen noir. Mulai dari nuansa gambar, hingga produksi scoring dan lagu soundtrack.
Kualitas film besutan Joko, memang selalu layak ditunggu. Setelah sebelumnya menggebrak lewat "Kala" yang pernah masuk dalam daftar film-film terbaik dunia di tahun 2007 versi majalah Sight & Sound, Inggris, kali ini Joko kembali mencoba peruntungan. Bahkan skenario yang dibuatnya bersama Mouly Surya dalam "Fiksi", berhasil menyabet penghargaan film terbaik FFI 2008.
"Semoga dengan berkembangnya tema dalam perfilman lokal, diikuti dengan kualitas tema film itu sendiri," ujar Mouly, ketika dihubungi "PR", Minggu (4/12).
Bicara tentang film di 2009, tentu membuat sutradara terbaik versi FFI 2008 ini bersemangat. "Sekarang industri film di Indonesia bisa diibaratkan seperti bayi. Semakin lama grafik pertumbuhannya semakin naik, walau perlahan sekalipun. Maka butuh bantuan semua pihak. Misalnya, penonton sebaiknya menonton film berkualitas saja, agar sineas juga memproduksi film yang semakin berkualitas," kata Mouly menjelaskan.
Namun Mouly memprediksi, bahwa pada 2009, film bertemakan drama keluarga, anak-anak, dan komedi akan semakin banyak diproduksi. "Suspense juga masih ada, tapi sedikit. Kalau komedi seks dan horor pasti masih ada, tapi jumlahnya akan berkurang drastis dibanding tahun lalu," kata Mouly.
Prediksi Mouly diiyakan Arturo. "Setuju kalau film anak-anak banyak diproduksi," ujar Arturo. Arturo juga mengatakan, dalam waktu dekat rumah produksinya akan melepas beberapa judul yang saat ini tak terlalu banyak disentuh, seperti olahraga.
"Kita yang jelas ingin variatif, soalnya kalau cuma seperti ini saja, akan memukul kondisi perfilman dengan sendirinya. Karena lama-kelamaan, penonton tidak percaya lagi dengan kualitas perfilman lokal," kata sutradara yang kerap merangkap sebagai editor film ini. ***
Subscribe to:
Comments (Atom)
